Topswara.com -- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berkata, “Seandainya tabir dibuka, niscaya kalian akan melihat bahwa pilihan Allah untuk kalian lebih baik daripada pilihan kalian untuk diri kalian sendiri.”
Kalimat ini bukan sekadar kalimat indah. Ia adalah kunci ketenangan jiwa. Karena kebanyakan luka manusia bukan berasal dari peristiwa, tapi dari cara ia menafsirkan peristiwa.
Kita sering hancur bukan karena kehilangan, tapi karena merasa dizalimi takdir. Bukan karena diuji, tapi karena mengira Allah sedang tidak adil.
Padahal Allah menegaskan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Inilah pondasi positive thinking dalam Islam, bukan optimisme kosong, tetapi keyakinan penuh bahwa Allah Maha Bijaksana.
Husnuzhan Adalah Penjaga Kesehatan Mental
Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “Jangan sampai keterlambatan terkabulnya doa membuatmu berputus asa, sebab Dia telah menjamin pengabulan doa sesuai dengan pilihan-Nya, bukan menurut pilihanmu, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan waktu yang kamu inginkan.”
Banyak orang depresi bukan karena doanya tidak dikabulkan, tapi karena ingin memaksa Allah mengikuti jadwal dan skenarionya. Padahal jika semua doa kita dikabulkan persis seperti yang kita minta, bisa jadi hidup kita justru hancur. Karena kita hanya melihat satu titik kecil, sedangkan Allah melihat seluruh peta kehidupan.
Husnuzhan (berprasangka baik kepada Allah) adalah vitamin mental. Ia mencegah pikiran dipenuhi rasa curiga, iri, putus asa, dan overthinking. Tanpa husnuzhan, iman menjadi rapuh. Dengan husnuzhan, bahkan musibah terasa penuh makna.
Allah Tidak Pernah Berniat Menyakiti Hamba-Nya.
Imam Al-Ghazali berkata, “Tidak ada satu pun takdir Allah yang diturunkan kepada seorang hamba, kecuali di dalamnya terdapat rahmat, walau ia tidak mampu melihatnya.”
Kita sering menilai takdir dari rasa sakitnya, bukan dari arahnya. Padahal Allah tidak sedang menyakitimu. Dia sedang memindahkanmu dari satu fase hidup ke fase yang lebih baik, walau lewat jalan yang pahit.
Syaikh Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa
banyak pintu kebaikan hanya bisa dibuka dengan kunci ujian. Dan banyak derajat hanya bisa dicapai lewat rasa kehilangan. Kalau semua berjalan mulus, mungkin kita tidak akan pernah lebih dekat kepada Allah, lebih kuat secara mental dan
lebih dewasa secara iman.
Positive Thinking dalam Islam Sama dengan Tawakal Aktif
Berpikir positif bukan berarti menutup mata dari realita. Tetapi meyakini bahwa di balik realita yang pahit, Allah sedang bekerja untuk kebaikanmu.
Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)
Inilah mental paling sehat di dunia, yaitu mental orang yang tahu bahwa apapun yang datang dari Allah tidak pernah sia-sia.
Tenanglah, Allah Tidak Salah Menulis Takdirmu
Sob, kadang hidup terasa seperti jalan yang salah arah. Tetapi sesungguhnya, kita hanya belum sampai pada titik di mana semua terasa masuk akal.
Ibnu Atha’illah berkata, “Apa yang ditentukan Allah untukmu akan datang kepadamu, meskipun seluruh makhluk berusaha menghalanginya. Dan apa yang tidak ditetapkan untukmu tidak akan sampai kepadamu, meskipun engkau mengejarnya mati-matian.”
Maka tenangkan hati. Jaga pikiran. Rawat iman. Karena berprasangka baik kepada Allah bukan hanya ibadah, ia adalah cara paling ampuh menjaga kesehatan mental dan keteguhan jiwa. Jika tabir dibuka, kita akan menangis, bukan karena luka,
tetapi karena baru sadar betapa indahnya rencana Allah selama ini. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar