Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jangan Larut dalam Sedih: Iman Tidak Tumbuh di Tanah Putus Asa


Topswara.com -- Islam tidak melarang manusia bersedih. Yang dilarang adalah bersedih berlebihan sampai kehilangan iman, harapan, dan rasa syukur.

Karena sedih yang tidak terkendali bukan hanya melemahkan jiwa, tetapi juga membuka pintu bagi setan untuk menanamkan putus asa, su’uzhan kepada Allah, dan kufur nikmat.

Allah Swt berfirman, “janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Ayat ini bukan sekadar penghiburan, tetapi prinsip hidup orang beriman. Selama Allah bersama kita, apa alasan untuk hancur?

Bahaya Sedih Berlebihan bagi Keimanan

Sedih yang tak terjaga bisa berubah menjadi mempertanyakan takdir, membenci keadaan, dan akhirnya meragukan kebijaksanaan Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “sesungguhnya Allah ridha jika kalian ridha dengan takdir-Nya, dan Allah murka jika kalian murka terhadap takdir-Nya.” (HR. At-Tirmidzi – hasan)

Artinya, cara kita menerima musibah menentukan posisi kita di hadapan Allah. Sedih yang disertai keluh kesah dan protes batin adalah bibit kufur nikmat.

Ia membuat seseorang lupa bahwa hingga detik ini ia masih bernapas bebas dan lega tanpa bantuan alat kedokteran,
masih diberi iman, dan masih punya Allah.

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “Istirahatkanlah dirimu dari mengatur urusan. Apa yang telah diatur untukmu oleh Allah, jangan kau bebani dirimu untuk mengaturnya.”

Sedih yang berlebihan sering lahir dari satu penyakit, yaitu tidak sabar menghadapi ujian dan ingin mengendalikan takdir.

Padahal ketenangan justru datang ketika kita menyerahkan segala urusan diluar kendali kita kepada Yang Maha Mengetahui.

Beliau juga berkata, “tanda keberhasilan seseorang adalah kembalinya dia kepada Allah saat musibah datang.”

Artinya, musibah bukan alasan menjauh dari Allah, tapi justru jalan tercepat untuk mendekat kepada-Nya.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “sedih melemahkan hati, mematikan semangat, dan menahan langkah menuju Allah.”

Sedih yang tidak diserahkan kepada Allah akan melumpuhkan jiwa, sedangkan sabar dan rida akan menguatkan ruh.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang ridha terhadap takdir akan selalu hidup tenang, mengapa? Karena ia tidak menggantungkan bahagia pada keadaan, tetapi pada Allah.

Solusi Muslim saat Ujian Datang

Islam tidak mengajarkan “menyangkal rasa sakit”, tetapi mengajarkan mengelola rasa sakit dengan iman. Solusinya ada tiga, yaitu pertama, sabar. Sabar bukan diam, tapi bertahan tanpa memberontak kepada Allah.

Kedua, lapang dada. Terima bahwa Allah memilihkan takdir ini karena Allah Maha Tahu masa depan sedangkan kita, tidak tahu.

Ketiga, optimis mencari solusi. Orang beriman tidak pasrah pada masalah, tetapi terus bergerak sambil bertawakkal, karena Allah adalah sebaik-baik Penolong.

Allah berfirman, “barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq: 3)

Jadi Sob, sedih boleh. Menangis boleh. Lelah boleh. Tetapi putus asa tidak boleh. Karena selama Allah ada, tidak ada satu pun masalah yang lebih besar dari rahmat-Nya.

Dan orang yang belajar ridha terhadap takdir pasti akan menemukan bahwa di balik setiap luka Allah sedang menyimpan derajat yang lebih tinggi. Barakallahufikum. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar