Topswara.com -- Di zaman ketika yang berani sering terlihat lebih kuat daripada yang benar, banyak orang salah paham tentang makna sabar. Sabar sering dianggap sebagai sikap pasrah, diam, dan menerima apa pun yang terjadi.
Padahal dalam Islam, sabar bukanlah sikap kalah. Sabar adalah keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar meski dizalimi, sambil terus berusaha dan bergerak menegakkan keadilan.
Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “jika Allah membuka bagimu pintu untuk berjuang, jangan kau tinggalkan hanya karena berat. Sebab di balik kesulitan itulah rahmat Allah sedang menantimu.”
Artinya, ketika seseorang dizalimi lalu hatinya terdorong untuk mencari keadilan, itu bukan nafsu. Itu adalah tanda bahwa Allah sedang menggerakkan hamba-Nya untuk berdiri di atas kebenaran.
Kezaliman tidak pernah boleh dinormalkan. Menerima kezaliman tanpa perlawanan bukanlah sabar, melainkan membiarkan kebatilan tumbuh. Karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa sikap seorang mukmin adalah bergerak, sesuai kemampuan, untuk menghentikan ketidakadilan.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa diam terhadap kezaliman bisa menjadi dosa jika seseorang mampu mencegahnya.
Dalam Ihya’ Ulumiddin ia menegaskan bahwa membiarkan kebatilan sama berbahayanya dengan melakukan kebatilan itu sendiri. Maka, orang yang dizalimi lalu memperjuangkan haknya dengan cara yang benar sedang melakukan ibadah.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Allah menolong orang yang dizalimi, meskipun dia pendosa, dan Allah menghinakan orang yang zalim, meskipun dia tampak salih.”
Keadilan Allah tidak melihat siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling benar posisinya. Sabar yang sejati bukan berarti menutup mata dari kejahatan. Sabar adalah menahan diri dari balas dendam, sambil tetap mengambil jalan hukum, kebenaran, dan ikhtiar yang bermartabat. Inilah sabar yang hidup, bukan sabar yang mati.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim, karena nanti kamu akan disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Ayat ini menegaskan bahwa berpihak kepada kebenaran adalah kewajiban, dan menjauh dari kezaliman adalah bagian dari iman.
Orang yang dizalimi sering kali merasa kecil di hadapan kekuasaan, uang, atau massa. Namun Allah mengajarkan bahwa kebenaran tidak diukur dari jumlah, melainkan dari hak.
Sejarah membuktikan bahwa tirani selalu runtuh, dan orang-orang yang bertahan dengan kebenaran akan dikenang dengan kemuliaan.
Syaikh Ibnu Atha’illah juga mengingatkan, “Janganlah kegundahanmu karena takdir membuatmu berhenti dari usaha, sebab Allah menjadikan usaha sebagai jalan datangnya pertolongan.”
Maka teruslah melangkah. Teruslah berjuang. Tetap jaga akhlak, tetap jaga kejujuran, dan jangan lepaskan keyakinan bahwa Allah bersama orang-orang yang dizalimi.
Karena pada akhirnya, sabar yang bergerak akan mengalahkan zalim yang hanya bersandar pada kekuatan materi.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar