Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Program MBG dengan Segudang Masalah Tetap Berjalan: Demi Kepentingan Kapitalistik


Topswara.com -- Tak terasa, program MBG yang dijalankan oleh pemerintah kini sudah berjalan setahun, namun ancaman stunting nyatanya tetap tak terselesaikan.

Banyaknya kasus keracunan massal MBG, ompreng mengandung babi, SPPG tak sesuai standar, budgeting anggaran besar berdampak pada pengurangan anggaran bidang lain mewarnai masalah MBG selama ini.

Namun dengan banyaknya permasalahan MBG ternyata tak menghentikan berjalannya program ini. Nyatanya saat libur sekolah pun program ini masih terus berjalan. Ini mendapat kritikan dari Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar. "Karena kebijakan itu kan harus ada tiga hal. Siapa sasaran, bagaimana mekanismenya, dan apa yang terjadi ketika konteksnya berubah," ujarnya.

Menurut Media, ada hal yang ganjil dalam program MBG, termasuk penyalurannya saat libur sekolah. Ia menyebut banyak orang akhirnya mengkritik kebijakan ini. (Kompas.tv, 26/12/ 2025) 

MBG yang merupakan program prioritas utama pemerintah saat ini sejatinya hanyalah sebuah program populis kapitalistik, sehingga yang dipentingkan adalah terlaksananya program, bukan manfaatnya untuk kemaslahatan masyarakat dan tidak menyelesaikan masalah stunting.

MBG terlalu dipaksakan untuk terus berjalan meski banyak permasalahan krusial di lapangan. Ini menunjukkan bahwa MBG bukan untuk kepentingan rakyat, tapi kepentingan penguasa dan pengusaha yang mengelola dapur SPPG yang kebanyakan adalah kroni penguasa. 

Program MBG ini juga menunjukkan bahwa penguasa dalam sistem yang kapitalistik tidaklah amanah terhadap anggaran negara yang strategis.

Padahal dalam Islam, setiap kebijakan adalah untuk kemaslahatan rakyat dan sesuai syariat. Visi negara adalah raa'in sehingga kebijakan harus dalam rangka melayani kebutuhan rakyat, bukan untuk kepentingan pengusaha atau untuk popularitas penguasa. 

Kebutuhan gizi rakyat dipenuhi secara integral melibatkan semua sistem yang ada. Sistem pendidikan mengedukasi tentang gizi. Sistem ekonomi memenuhi kebutuhan dasar rakyat. 

Negara juga wajib menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki baligh atau pencari nafkah sehingga kebutuhan gizi keluarga bisa dipenuhi oleh kepala keluarga. Negara akan menjamin ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau sehingga makanan bergizi mudah diakses oleh rakyat. 

Dengan berbagai kebijakan yang memudahkan rakyat untuk memenuhi gizi keluarga, tentu tidak akan ada lagi anak-anak stunting. Karena generasi harus hidup sehat, kuat, cerdas dan bertakwa agar mereka menjadi generasi terbaik yang akan memimpin peradaban. []


Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis lepas)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar