Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Rumah Tak Lagi Aman: Inses dan Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler


Topswara.com -- Dilansir dari kompas.id (10/12/2025) memberitakan sebuah kasus inses yang mengguncang masyarakat Indonesia, yaitu seorang ayah yang melakukan pelecehan terhadap putrinya sendiri, dan kejadian tragis ini baru terungkap setelah korban berani buka suara kepada tetangga yang curiga

Astaghfirullah, kasus inses yang terus muncul di ruang publik bukan sekadar kisah kriminal yang bikin ngeri. Ia adalah alarm keras bahwa ada yang rusak pada cara masyarakat ini mendidik manusia. Ketika seorang anak tidak aman di dalam rumahnya sendiri, berarti ada keretakan nilai yang sangat dalam dan itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan “oknum”.

Akar Masalah: Sistem Pendidikan Sekuler

Akar persoalan sesungguhnya terletak pada sistem pendidikan sekuler yang diterapkan hari ini. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dari cara mendidik anak. Sekolah boleh mengajarkan sains, teknologi, dan keterampilan hidup, tetapi nilai tentang kehormatan, batasan pergaulan, dan kesucian diri sering dibiarkan samar atau dianggap urusan privat.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam menegaskan bahwa sekularisme menjadikan agama hanya sebagai urusan ibadah ritual, bukan sebagai panduan mengatur kehidupan. Ketika Islam tidak lagi menjadi asas pendidikan, maka yang memimpin perilaku adalah hawa nafsu, budaya, dan tekanan pasar, bukan halal-haram.

Akibatnya, anak tidak memahami makna aurat dan kehormatan diri, hubungan keluarga kehilangan batasan syar’i yang tegas dan media dan pergaulan bebas membentuk cara pandang seksual sejak dini.

Dalam kondisi seperti ini, penyimpangan termasuk inses bisa tumbuh, bukan karena Islam mengajarkannya, tetapi karena Islam disingkirkan dari sistem pendidikan dan budaya.

Media, Pergaulan, dan Normalisasi yang Salah

Di bawah sistem kapitalisme, media mengejar klik dan cuan. Konten sensual, pornografi, dan narasi “kebebasan tubuh” diproduksi massal. Anak-anak terpapar sebelum mereka matang secara mental. Pergaulan longgar tanpa rambu halal-haram membuat batasan moral runtuh.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam At-Takattul al-Hizbi menjelaskan bahwa masyarakat yang tidak dibina dengan pemikiran Islam akan mudah terseret oleh ide-ide batil yang dominan. Ketika budaya sekuler mendominasi, keluarga kehilangan pagar nilai.

Solusi Islam: Ganti Sistem, Bukan Sekadar Menambal

Solusi Islam tidak berhenti pada imbauan moral. Islam menawarkan perubahan sistemis, yaitu mengganti pendidikan sekuler dengan sistem pendidikan berasas akidah Islam yang melahirkan syakhshiah islamiah (kepribadian Islam), yakni cara berpikir dan bersikap yang tunduk pada halal-haram.

Apa implikasinya? Pertama, akidah sebagai asas pendidikan. Anak dibina memahami bahwa tubuh, pandangan, dan kehormatan adalah amanah dari Allah. Ini membentuk kontrol diri internal, bukan sekadar takut pada hukuman. Sehingga saat anak sudah menjadi bapak, ia akan melindungi kehormatan anak-anaknya karena Allah bukan malah merusak.

Kedua, aturan aurat dan pergaulan ditegakkan. Bahkan antar saudara, ada adab dan batasan. Ini bukan kecurigaan, tapi pagar kehormatan.

Ketiga, pemisahan tempat tidur dan ruang privasi. Islam mendorong pengaturan rumah yang sehat, seperti anak laki-laki dan perempuan terpisah, akses ruang dewasa terjaga sebagai bentuk pencegahan dini.

Keempat, komunikasi dua arah yang aman. Orang tua menjadi tempat curhat, bukan tempat takut. Islam menekankan rahmah dan tanggung jawab dalam kepemimpinan keluarga.

Dalam Nizhamul Islam, Syaikh Taqiyuddin menekankan bahwa kepribadian Islam lahir dari pembinaan pemikiran (fikrah) dan perasaan (nafsiyah) berdasarkan akidah. Inilah yang membuat anak tahu apa yang boleh, apa yang haram, dan mengapa bukan sekadar ikut arus.

Kasus inses adalah jeritan bahwa sistem yang kita pakai gagal menjaga kehormatan anak. Maka jawabannya bukan sekadar marah, tapi berjuang mengganti paradigma.

Mari jaga anak-anak kita dengan membina akidah mereka, menegakkan adab dan batasan, dan ikut memperjuangkan dakwah ideologis agar Islam kembali menjadi asas pendidikan dan kehidupan. Karena generasi yang bersyakhshiyah islamiyah tidak lahir dari sistem yang netral nilai, tapi lahir dari sistem yang berpihak pada kebenaran, yaitu sistem Islam. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar