Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ilusi Perdamaian dan Penderitaan yang Disengaja


Topswara.com -- Setiap kali Palestina dibombardir, dunia kembali gaduh. Kecaman dilontarkan, keprihatinan diumumkan, bantuan dikirim, lalu senyap. Setelah itu, Israel kembali membunuh, mencaplok, dan memperluas penjajahan. Siklus ini berulang puluhan tahun. Pertanyaannya bukan lagi apa yang terjadi di Palestina, melainkan mengapa penderitaan ini sengaja dibiarkan terus berlangsung.

Jawabannya pahit, karena dunia memilih mempertahankan Israel, bukan membebaskan Palestina. Israel bukan “negara yang terseret konflik”, melainkan entitas kolonial yang sejak lahir dibangun di atas perampasan tanah, pengusiran penduduk asli, dan kekerasan sistematis. 

Setiap rumah yang dihancurkan, setiap anak Palestina yang terbunuh, bukanlah “ekses perang”, tetapi konsekuensi logis dari eksistensi Israel itu sendiri. Maka ilusi terbesar hari ini adalah narasi, penderitaan Palestina bisa diakhiri tanpa membongkar eksistensi Israel.

Larangan Israel terhadap 37 organisasi kemanusiaan internasional beroperasi di Palestina (antaranews.com, 31/1/2026), membongkar wajah asli rezim ini. Israel tidak hanya membunuh, tetapi juga mematikan jalur kehidupan yakni makanan, obat, air, dan layanan medis. Ini bukan sekadar pelanggaran HAM, tetapi kejahatan terstruktur.

Ironisnya, dunia Barat yang paling lantang bicara HAM tetap berdiri sebagai pelindung utama Israel. Amerika Serikat dan sekutunya tidak hanya gagal menghentikan kejahatan ini, tetapi justru menjadi penjamin keberlangsungannya, lewat veto, senjata, dan tekanan diplomatik.

Dalam situasi ini, mengemis bantuan kemanusiaan tanpa menyentuh akar masalah sama saja dengan meminta penjajah bersikap lebih manusiawi saat menjajah. Itu absurd. 

Setiap proposal perdamaian yang dipimpin AS selalu berujung pada satu hal yaitu Palestina dipaksa menerima kekalahan permanen. Wilayah dipersempit, kedaulatan dikosongkan, dan penjajahan dilegalkan atas nama stabilitas.

Solusi dua negara hanyalah kamuflase moral untuk mempertahankan Israel sambil menenangkan nurani dunia. Fakta di lapangan membuktikan, ketika perundingan berlangsung, ekspansi permukiman ilegal justru meningkat. 

Israel berunding dengan satu tangan, dan mencaplok dengan tangan lainnya. Siapa pun yang masih percaya bahwa Israel bisa hidup berdampingan secara adil dengan Palestina, berarti menutup mata dari sejarah dan realitas.

Lebih menyakitkan dari agresi Israel adalah diamnya penguasa-penguasa Muslim. Normalisasi hubungan, sikap netral, dan diplomasi basa-basi adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap Palestina. 

Mereka bukan tidak tahu, tetapi memilih aman untuk kekuasaan masing-masing. Umat Islam dibuat sibuk dengan donasi, doa, dan aksi simbolik, sementara isu pokok kekuatan politik yang melindungi umat sengaja dijauhkan dari pembahasan.

Padahal sejarah Islam jelas, Palestina aman hanya ketika berada di bawah perlindungan negara Islam yang kuat, bukan di bawah belas kasihan kekuatan imperialis. Sudah saatnya umat Islam berhenti bertanya “kapan Palestina merdeka?” dan mulai bertanya “Mengapa kita membiarkan penjajahan ini terus eksis?

Selama Israel dipertahankan sebagai negara sah, selama umat Islam tercerai-berai tanpa junnah (pelindung), selama pengkhianatan penguasa dibiarkan, maka penderitaan Palestina bukan hanya akan berlanjut tetapi dinormalisasi.

Palestina tidak membutuhkan air mata dunia. Palestina membutuhkan kekuatan yang mampu menghentikan penjajahan, bukan menegosiasikannya. Dan itu hanya mungkin jika umat Islam bangkit, bersatu, dan menghadirkan kembali kekuatan politik global yang mampu berdiri tegak menghadapi imperialisme. Khilafah Islam sebagai pelindung umat dan pembebas tanah Palestina.

Menegakkan sistem Islam global bukan wacana utopis, melainkan keniscayaan sejarah yang harus diperjuangkan kembali. Tanpa itu, semua kecaman hanyalah suara bising di tengah genosida yang terus berjalan.[]


Siti Sri Fitriani 
(Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar