Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Aktivis Berisik Dianggap Ancaman? Kocak Sekali


Topswara.com -- Kiriman bangkai ayam, dan pesan ancaman dialami oleh Iqbal Damanik, seorang Aktivis Greenpeace Indonesia pada (30/12). Kreator DJ Donny, pada tgl 29/12 mendapat kiriman bangkai ayam tanpa kepala dan beberapa ancaman hingga rumahnya dilempar bom molotov pada (31/12) dini hari.

Sherly Annavita, menerima surat ancaman, vandalisme, hingga rumah dilempari telur busuk. Chiki Fawzi, sering diserang oleh beberapa akun di instagram, dan fitnah-fitnah. Akun Virdian Aurelio diretas, sampai gangguan terhadap anggota keluarganya, dan mobilnya dirusak. Pitengz (@piteng2.0) mengalami pembajakan SIM Card, dan Doxing. 

Ternyata teror dialami setelah secara kritis mereka menyuarakan terkait situasi yang terjadi di Sumatra pasca bencana. 
Sebagai informasi, pemerintah Presiden Prabowo tidak menetapkan banjir dan tanah longsor di Sumatera sebagai bencana nasional, alasannya tidak ingin terlihat lemah jika bantuan dari luar negeri masuk, tetapi bisa jadi karena pemerintah kawatir akar penyebab bencana akan terekspos, yaitu karena deforestasi dan siapa yang diuntungkan dari bisnis ekstraktif ini, dan terungkap juga banyaknya perusahaan sawit, kayu ataupun tambang yang beroperasi dan terhubung dengan elit di Jakarta.  

Abainya peringatan dini dari BMKG, Peringatan diberikan pada awal November bahwa hujan lebat akan mengguyur sebagian wilayah Sumatera, dan sudah disampaikan kepada Pemda dan Istana, tetapi Kepala BNPB mengatakan bencana hanya tampak besar di medsos, dan akhirnya rakyatlah yang jadi korban, karena tidak adanya mitigasi.

Ditambah pemerintah memangkas dana ke daerah yang menyebabkan daerah tidak punya anggaran darurat yang memadai, dan akhirnya Pemda tak punya sumber daya untuk dikerahkan.

Paradoksnya pemerintahan Prabowo, sebelum bencana melanda penggambaran seakan-akan pemerintah akan selalu hadir dan menampilkan keperkasaannya, namun ketika musibah melanda, langkah mereka lamban. Parahnya lagi Presiden mendapat informasi bahwa bencana sebenarnya parah setelah air bah menerjang, dan merendam beberapa wilayah.

Kita gregetan melihatnya, para aktivis yang tidak bisa menahan untuk menyuarakan sakitnya luka para korban ini meluapkan satire yang kritis. Mungkin kita ada yang ingat bagaimana marahnya aktor senior Harrison Ford ketika melihat keadaan hutan di Indonesia. Dengan mengatakan “ This is horrifying, wow I can’t wait to see the Ministerof Forestry, I can’t wait. https://youtu.be/5A9GTTbe5ac?si=3N0Zp7XkPjUlXPSe

Padahal Ford bukan orang Indonesia, Sementara para aktivis ini, mereka melihat real penderitaan yang dialami para korban bencana, dan mereka paham berbagai kepentingan peng-peng.

Dalam sistem demokrasi, undang-undang dibuat sesuai kepentingan, sehingga rakyat haruslah diam, mereka tidak boleh berisik supaya ambisinya tercapai. Bagi yang cerewet, akan menghadapi ancaman dan teror. Jadi kita dituntut untuk nurut kebijakan-kebijakan mereka. Berlindung dengan dalil 

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

Penguasa sekarang dianggap ulil amri, yang bisa menyelesaikan perselisihan dengan mengembalikan kepada Allah dan RasulNya, bukan ke kompromi, samakah ?
Mengoreksi kebijakan penguasa dan sistem politik yang dijalankannya adalah wajib dan merupakan bagian dari syariat amar makruf nahi mungkar, karena dengan kekuasaan penguasa ia bisa menerapkan hukum yang adil atau sebaliknya yaitu berbuat zalim. 

Sistem demokrasi ini meletakkan kedaulatan hukum ditangan rakyat. Sehingga hukum mudah berubah sesuai dengan kepentingan. Sehingga lahirlah rezim anti kritik yang meminta kita untuk : taat pada perintah, kerjakan tugas dan jangan ganggu sistem.

Nabi Saw menyebut agama adalah nasihat, diantaranya nasihat bagi para pemimpin kaum muslim, bahkan Rasulullah saw menyebutnya sebagai afdholul jihad bagi yang menasihati penguasa yang zalim apabila ia terbunuh dalam aktivitas menasihati penguasa, ia disamakan dengan pemimpin para syuhada.

Negara itu dijalankan oleh manusia yang tidak luput dari kesalahan, supaya kepemimpinan tetap berada di jalur yang benar, diwajibkan koreksi kepada penguasa, maka penguasa maupun rakyat sama-sama terpenuhi hak mereka, penguasa menjalankan amanah, sementara rakyat aktif menjaga kepemimpinan melalui muhasabah. 

Jadi apa kita siap untuk berisik menyuarakan kebenaran yang sesuai syari’at Islam, atau kita hanya ingin bersembunyi di zona aman dengan alasan ikutin pemerintah, kalau nanti salah, kan pemerintah yang bertanggung jawab. Renungkan apa fungsi akal yang Allah berikan ? apa iya Nabi Muhammad Saw hanya mengajarkan kita hanya untuk ibadah saja ?

Wallahu’alam bishawab.


Nurjanah Fatahillah
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar