Topswara.com -- Membangun rumah tangga utuh adalah impian setiap pasangan suami istri, hidup dalam kenyamanan, ketentraman juga kedamaian. Rumah tangga adalah tempat belajar dalam segala hal, menyatukan visi dan misi kehidupan.
Namun kita dikejutkan oleh berbagai media tentang banyaknya angka perceraian tinggi di tingkat nasional dan daerah. Di sisi lain angka pernikahan menurun. Ada apa dibalik ini semua?
Tercatat angka perceraian di Bojonegoro menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hingga akhir Oktober 2025, Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro telah memutus sebanyak 2.240 perkara dalam sepuluh bulan pertama tahun ini.
Khusus pada Oktober 2025, sebanyak 220 perkara gugatan diputus. Data terbaru menyoroti pergeseran signifikan dalam faktor penyebab perceraian.
Jika dilihat dari data dua bulan terakhir (September dan Oktober), perselisihan dan pertengkaran terus-menerus melonjak tajam menjadi penyebab utama. Pada Oktober 2025, tercatat 136 perkara di kategori ini, meningkat dari 22 perkara di bulan September.
Ironisnya, bukan hanya di Bojonegoro, kenaikan ini berbanding terbalik dengan penurunan drastis pada faktor ekonomi, yang turun signifikan dari 53 perkara di September menjadi hanya 25 perkara di Oktober.
Penurunan ini bukan berarti masalah ekonomi hilang, melainkan hasil dari kebijakan rasionalisasi sesuai HIR dan KHI yang mensyaratkan faktor ekonomi hanya untuk kasus suami tidak memberikan nafkah sama sekali.
Selain pertengkaran, beberapa faktor lain juga mengalami peningkatan atau muncul kembali yaitu judi, dan pinjol menjadi faktor penyebab cerai karena judi pada Oktober ini menjadi yang tertinggi selama 10 bulan terakhir.
Kemudian kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tercatat ada 12 perkara perceraian disebabkan oleh KDRT. Setelah itu Madat (Narkotika/Obat-obatan) ada 4 perkara madat, menunjukkan peningkatan dibanding periode Mei hingga September setelah itu kawin paksa (Penjodohan) yang menyumbang 2 perkara cerai. Bojonegoro.go.id (03/11/2025)
Perceraian menjadi salah satu penyebab ketahanan keluarga runtuh yang berefek pada generasi rapuh, rapuh dalam fisik, juga rapuh dalam mental, generasi yang berasal dari rumah tangga yang hancur seringkali menjadi penyebab anak brokenhome, berprilaku brutal dan akhirnya menjadi pelaku kekerasan, dan pelaku kriminal lainnya.
Dan yang paling mengerikan adalah generasi yang tidak bisa menyelesaikan permasalahan dirinya sendiri.
Inti pokok dari permasalahan banyaknya kasus perceraian ini adalah paradigma sekular kapitalis dalam sistem pendidikan, dimana pendidikan bukan didasari oleh akidah Islam, namun oleh akidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga tujuan hidup dan rumah tangga tidak jelas.
Serta sistem pergaulan sosial, sistem politik, ekonominya telah membuat ketahanan keluarga generasi yang lemah.
Berbeda halnya dengan Islam, sistem pendidikan Islam yang berasaskan akidah, mempunyai tujuan hidup dan rumah tangga karena Allah SWT. Dan
mengantarkan pada pembinaan yang kuat dan keperibadian Islam yang kokoh dan siap membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Sistem pergaulan Islam juga menjaga hubungan dalam keluarga dan sosial masyarakat tetap harmonis berlandaskan pada ketakawaan. Kesejahteraan keluarga dan masyarakat diJamin oleh sistem politik IsIam, yaitu mengurus urusan rakyat.
Sehingga angka perceraian bisa ditekan seminimal mungkin. Dan semua itu bisa terwujud dalam sistem Islam kaffah dalam naungan khilafah Islamiah 'alaa minhajjin nubuwwah.
Wallahu'alam Bishawab.
Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah

0 Komentar