Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Di Sistem Kapitalisme, Diabetes Mengintai Anak-Anak


Topswara.com -- Beberapa minggu lalu viral soal makanan “Ciki Ngebul” yang sangat berpengaruh bagi kesehatan anak-anak. Efek dari keracunan makanan berasap ini sangat serius. Di sisi lain penyakit diabetes juga meningkat di kalangan anak-anak usia 10 - 14 tahun, ini bukti negara abai terhadap keamanan pangan dan kesehatan anak.

Kasus Diabetes Terus Meningkat

Muhammad Faizi selaku ketua Unit Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengungkapkan kasus diabetes melitus pada anak meningkat, baik itu di dunia maupun Indonesia. Dilangsir dari laman berita, VOA Selasa (1/2).  

Pada tahun 2010 prevalensi kasus diabetes mellitus terhadap anak Indonesia hanya 0,028 per 100 ribu jiwa. Kemudian pada tahun 2023 prevalensi kasus diabetes mellitus 2 per 100 jiwa. Diabetes Miletus adalah sebuah penyakit metabolisme kronis yang ditandai dengan lipid, kadar gula tinggi, metabolisme karbohidrat yang terganggu, dan protein akibat insufisiensi fungsi insulin. (WHO, 1999).

Dapat diprediksi oleh Organisasi Internasional Diabetes Federation (IDF) tahun 2030 mencapai 578 juta orang dan tahun 2045 mencapai 700 juta orang. 

Penderita Diabetes Pada Anak di Indonesia

Dari data di Indonesia kasus diabetes mencapai 13 persen dengan total penduduk kurang lebih 270 juta dan jumlah tersebut hampir setara dengan 35 juta jiwa.
 
Kategori usia, kasus diabetes pada anak lebih banyak di dominasi oleh wanita dengan presentasi 59,3 persen dan laki-laki 40,7 persen. Andai kita akumulasikan, seluruh presentase bukanlah angka yang sedikit. Semua ini terjadi karena negara abai dalam mewujudkan keamanan pangan bagi rakyatnya. 

Negara Abai Soal Keamanan Pangan

Pangan adalah kebutuhan pokok. Kehidupan manusia tergantung dari masalah yang satu itu. Karena menyangkut kesehatan, keselamatan dan masa depan. 

Dalam peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia (World Food Safaty Day), dengan tema “safer food, better health” atau “Pangan lebih aman, Kesehatan lebih baik”. Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN) Di Jakarta  pada selasa (7/6/2022) Kukuh S. Achmad mengatakan masyarakat berhak untuk mendapat pangan yang aman, bebas dari kontaminasi dan bahaya keamanan pangan serta tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan. 
 
Dalam UUD 1945 pasal 281 ayat (4) mengamanatkan “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah”. Negara di bebani kewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pangan dan gizi yang terjangkau dan memadai. 

Oleh sebab itu, pengabaian terhadap pangan dan gizi dianggap sebagai pelanggaran hak-hak asasi manusia oleh negara. Bahkan, saat hak atas pangan diabaikan terus menerus, maka pelanggaran tersebut dianggap pemusnahan generasi secara laten. 

Sistem Kapitalis Biang Kerusakan

Dalam bidang produksi kapitalisme bertujuan meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya produksi sekecil-kecilnya. Inilah bukti nyata bahaya Ketika suatu perusahaan atau seorang pedagang berani melakukan pelanggaran dalam hal produksi bahan pokok atau makanan.  

Mereka membuat produk makanan dengan bahan yang murah dan tidak sehat (kualitas rendah), yang penting masyarakat terlebih anak-anak suka. 

Dalam kondisi masyarakat yang tingkat kemiskinan tinggi juga sangat mempengaruhi pola makan yang sehat, Peran kapitalis dalam hal mengatur prekonomian suatu negara yang faktanya merusak kesehatan masyarakat harus ditinggalkan. Berbeda dengan Islam yang sangat berhati-hati dalam hal keamanan pangan dan kesehatan. 

Pandangan Islam Tentang Pangan dan Kesehatan

Syariat Islam memiliki paradigma serta konsep politik ekonomi yang berbeda dengan kapitalisme. Politik ekonomi Islam berjalan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan seluruh rakyat, bahkan memudahkan pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier.

Mengenai pangan, dalam Islam tujuannya adalah menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat secara individu, kelompok dan seluruh komunitas masyarakat dengan standar kelayakan dan sesuai pola hidup. Agar tetap berjalan maka politik dan ekonomi Islam harus diterapkan, dengan inilah akan terwujud pangan yang aman rakyat sejahtera. 

Pelayanan kesehatan dalam Islam termasuk kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Kesehatan merupakan kebutuhan primer bagi semua individu Muslim ataupun nonmuslim. 

Sistem kesehatan sendiri juga tidak bisa lepas dari beberapa unsur dukung utama, yaitu sumber daya manusia, sarana dan prasarana, pembiayaan, manajemen, serta harus di back up oleh sistem ekomoni dan politik Islam yang dijalankan suatu negara.

Hanya dengan Islam mampu memberikan perhatian serta penghargaan tertinggi pada kesehatan dan keselamatan jiwa manusia, melebihi aspek lainnya termasuk aspek ekonomi. Sebagaimana yang diterangkan Rasulullah “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak” (HR, Nasa’i).

Wallahu’alam bishawab.


Oleh: Rusita, S.Pd.
Aktivis Milenial
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar