Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jika Bukan untuk Islam, Lantas Hidupmu untuk Apa?


Topswara.com -- Pernah tidak merasa bosan di kegiatan yang itu-itu aja? Merasa tidak produktif dan jalan di tempat. Sepertinya hidup itu hanya berputar seperti rutinitas biasa, namun tidak ada rasa. Seperti ada sesuatu yang kosong dari kehidupan kita.

Bangun pagi, mandi, membuatkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga, antar jemput sekolah, membersihkan rumah, mencuci, atau bahkan bekerja. Saat weekend, kumpul dengan keluarga atau kulineran. Setelah itu nyari hiburan seperti nonton film, drama Korea sambil sesekali buka aplikasi Whatsapp sekadar melihat story teman-teman atau upload status kegiatan A sampai Z di akun pribadi kita.

Terkadang saat melihat orang sukses dengan usaha kerasnya kita jadi kepingin juga. Akhirnya mencoba belajar dan membaca tips-tipsnya. Semangat pun tumbuh, tapi ternyata di tengah jalan down lagi. karena tidak terbiasa susah, down lagi, malas lagi, hidup pun jadi tidak produktif lagi.

Tahu tidak mengapa bisa seperti itu? Faktor terbesarnya adalah karena manusia saat ini tengah diserang oleh budaya hedonisme dan liberalisme.

Hedonisme dan Liberalisme

Hedonisme adalah pandangan hidup yang fokus mengejar kesenangan hidup, sedangkan liberalisme adalah pemahaman yang menjunjung tinggi kebebasan. Makanya tidak heran, kalau kehidupan manusia zaman sekarang sangat bebas, tidak mempunyai arah dan tidak mau diatur, semau mereka asalkan happy.

Karena mereka tidak mempunyai arah atau tujuan, maka tidak ada yang perlu diraih yang penting bisa hidup cukup. Tidak ada pula rencana-rencana yang perlu dibuat. Tidak ada juga yang harus dievaluasi agar hidup lebih baik ke depannya.

Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mendapatkan jawaban kemana tujuan hidup manusia. Dalam Al-Qur'an surat Adz-dzariyat ayat 56 Allah SWT dengan jelas berfirman bahwa tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, “Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan jin dan manusia karena butuh pada mereka, bukan untuk mendapatkan keuntungan dari makhluk tersebut. Akan tetapi, Allah Ta’ala menciptakan mereka justru dalam rangka berderma dan berbuat baik pada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah, lalu mereka pun nantinya akan mendapatkan keuntungan. Semua keuntungan pun akan kembali kepada mereka. Jadi, barangsiapa melakukan amalan shalih, maka itu akan kembali untuk dirinya sendiri.”
(Thoriqul Hijrotain)

Beribadah adalah mengambil seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya semata-mata demi mendapatkan ridha-Nya. Seluruh perintah dan larangan Allah SWT adalah risalah yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, yakni risalah Islam. Artinya kita hidup untuk melaksanakan Islam.

Masalahnya teori memang mudah, tetapi kadang praktiknya suka hilang arah. Hidup untuk Islam itu yang seperti apa? Hidup untuk Islam artinya berusaha dengan sekuat tenaga menjadikan Islam menyatu di dalam diri, mengalir di aliran darah dan nampak dalam perwujudan amal kita.

Jika kondisi kita hari ini tidak sesuai dengan Islam, maka kita harus berupaya sebesar mungkin untuk mengkondisikannya sesuai dengan Islam. Misalnya saja, ketika turun perintah untuk memakai jilbab atau gamis di dalam surah Al-Ahzab ayat 59 bagi wanita Muslimah, maka kita akan berusaha untuk mengamalkannya sebagaimana kita berusaha mengajak saudara kita untuk mengenakannya pula, sembari mengupayakan kondisi masyarakat yang paham tentang kewajiban tersebut dan mewujudkan penjagaannya oleh negara.

Aktivitas ini harus terwujud, tidak hanya aktivitas perubahan individu yang ingin sesuai dengan Islam, tapi juga aktivitas perubahan masyarakat supaya sesuai dengan Islam. Sebab kita adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Sama halnya ketika turun perintah untuk masuk Islam secara keseluruhan di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208,

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu

Ketika kita hidup untuk Islam, maka kita akan berupaya untuk menjadi pribadi yang masuk Islam secara keseluruhan dan tidak mungkin Islam keseluruhan itu terjadi, kecuali dengan tegaknya institusi pelaksana, yakni sebuah negara atau yang disebut khilafah islamiyah.

Jadi, jika kita memahami bahwa hakikat hidup kita adalah untuk beribadah kepada-Nya, maka kita akan berusaha dengan segenap jiwa dan raga untuk mengembalikan khilafah islamiyah ke pangkuan kaum Muslimin yang akan menjadi perisai dan penjaga umat. Bersatu tanpa sekat bangsa, ras atau suku. Itulah  bisyarah (kabar gembira) sekaligus misi besar kita. Ada pahala luar biasa yang Allah SWT siapkan untuk kita. Sebab dunia ini hanya sebentar dan sesungguhnya dunia adalah pentas laga. Allah SWT menguji siapa diantara hamba-Nya yang paling baik amalnya. 

So, kalau bukan untuk Islam lantas untuk apa kita hidup di dunia? Mengejar harta yang akan binasa, kecantikan yang akan tua, jabatan yang akan sirna? Ingat, segala yang ada di dunia ini akan musnah sedang banyak dari kita melupakan bahwa tempat pulang yang abadi itu adalah surga atau neraka. Dan tiket untuk ke sana tentu saja amal ibadah selama di dunia. Jangan sampai kita menjadi orang yang tersesat sedang Al-Qur'an sebagai panduan ada di genggaman. Na'udzubillah.


Oleh: Nabila Zidane
(Analis Mutiara Umat Institute)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar