Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Khilafah Bukan Monster


Topswara.com -- Monsterisasi khilafah terjadi lagi. Pasca konvoi khilafah yang berbuntut penangkapan sejumlah pimpinan Khilafatul Muslimin di Brebes dan di Lampung, opini tentang khilafah kembali melambung. Sayangnya, yang digulirkan adalah opini busuk tentangnya. Dari khilafah sebagai konsep imajinasi utopis, melanggar konstitusi, memecah-belah bangsa, hingga membuat kekacauan. 

Sebelumnya, khilafah juga diopinikan sebagai ajaran buruk. Ia disebut berbahaya bahkan bahayanya lebih aktual daripada komunisme. Monsterisasi, upaya menjadikan khilafah sebagai monster menakutkan terus dilakukan. Khilafah dituduh sebagai ideologi radikal, peletak dasar-dasar terorisme.

Padahal khilafah bukan ideologi. Istilah radikal pun hingga kini masih lentur dan obscure, lebih sebagai nomenklatur politik, bukan nomenklatur hukum. Terbuka peluang untuk dimainkan rezim sebagai alat gebuk bagi siapa saja yang berseberangan dengan kehendaknya, termasuk tentu saja para pengusung khilafah.

Monsterisasi Khilafah

Monsterisasi khilafah tentu bukanlah hal alami terjadi. Menelisik di baliknya, kita akan menjumpainya sebagai bagian dari agenda global. Bagaimana tidak? 

Pasca Uni Sovyet sebagai pengusung utama komunisme ambruk, tinggal Islam ideologi kompetitor bagi kapitalisme yang dihela oleh Amerika Serikat. Jadilah Islam lawan tunggal mereka. Dan ajaran yang mereka anggap paling berbahaya adalah khilafah. 

Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris pada masa keruntuhan Khilafah Utsmaniyah menyebut bahwa Turki telah hancur dan tak mungkin kembali bangkit, karena dua kekuatannya yaitu Islam dan khilafah telah dihancurkan. 

Maka saat ini cita-cita kaum Muslimin untuk menegakkan kembali khilafah telah menghantui Barat. Demi menghalaunya agar kebangkitan Islam tak kian membesar, berbagai cara mereka lakukan. Secara umum, ada beberapa pendekatan yang dilakukan. 

Pertama, pendekatan halus. Dilakukan dengan penetrasi ide/ajaran Barat seperti demokrasi, HAM. Di sisi lain, monsterisasi sekaligus kriminalisasi khilafah dengan menisbatkannya sebagai ajaran radikal. 

Kedua, pendekatan kekerasan. Dengan cara mengadu-domba elemen umat Islam. Mereka menjalankan proyek imperialisme epistemologis sebagai bagian dari ghazwul fikri. Berdasarkan rekomendasi Rand Corporation, mereka mengkotak-kotakkan umat Islam ada yang beraliran radikal, moderat, tradisionalis, dan seterusnya. Setelahnya, membenturkan antarmereka. 

Ketiga, pendekatan hukum. Dilakukan dengan melegalisasi undang-undang untuk memukul kelompok yang mengancam status quo-nya. Ingat kasus pembubaran paksa HTI berdasarkan Perppu No. 2 Tahun 2017? Berdalih kegentingan memaksa,  Perppu yang lantas disahkan menjadi UU ini terkesan mengada-ada dan tendensius. 

Dengan demikian, selama imperialis Barat masih menganggap khilafah sebagai mimpi buruk yang menghantui tidur mereka, selama itu pula mereka tak berhenti melancarkan makar-makarnya, termasuk kriminalisasi dan monsterisasi khilafah.

Ajaran Islam Bukan Monster

Menuduh khilafah pemecah-belah dan sumber kekacauan merupakan pernyataan gagal paham. Pun menunjukkan kebodohan akan sejarah kegemilangan Islam. 

Tinta emas sejarah mencatat dalam rentang waktu sekitar 1.300 tahun, khilafah eksis menaungi warga negaranya yang beraneka agama, suku, ras, dan budaya. Sejak awal Rasulullah SAW mendirikan masyarakat Islam di Madinah, kaum Yahudi dan Nasrani hidup di tengah mereka. Khilafah tak memberlakukan diskriminasi pada mereka. 

Seharusnya para 'khilafah haters' belajar cara khilafah menaungi kebhinekaan dan mewujudkan persatuan. Salah satu inti ajaran khilafah adalah ukhuwwah. Sebagai kepemimpinan umum atas kaum Muslimin di seluruh dunia, misi khilafah adalah menyatukan, bukan memecah-belah. Tak hanya hendak menyatukan umat Islam di satu atau beberapa negeri, bahkan seluruh dunia. 

Allah SWT telah menciptakan manusia beraneka ragam. Maka Islam pun menyediakan khilafah sebagai sistem pemerintahan yang mampu menaungi dan mengelola keragaman ciptaan-Nya.

Bagi umat Islam, jelas khilafah bukan ancaman, sesuatu yang menakutkan. Karena khilafah adalah ajaran Islam. Ia merupakan wa'dullah (janji Allah SWT) dan bisyarah Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin khilafah adalah monster nan menakutkan? Sementara ia datang dari ajaran Islam nan mulia. Layakkah Muslim takut pada ajaran agamanya sendiri?

Yang merasa terancam oleh khilafah tentu kaum imperialis Barat. Terbitnya fajar khilafah akan menjadi mimpi buruk yang terus menghantui tidur mereka. Khilafah adalah ancaman bagi hegemoni peradaban mereka terhadap dunia hari ini. Maka, berbagai strategi mereka lancarkan, salah satunya dengan target agar khilafah ditakuti dan dijauhi bahkan oleh umat Islam sendiri. 

Namun yakinlah, sehebat-hebatnya makar kaum kuffar Barat, Allah SWT pasti akan menguaknya dan memberikan kekuatan pada kaum Muslimin untuk terus melawan  hingga memenangkan pertempuran ini.

"Mereka melakukan makar (tipu daya), dan Allah membalas makar (tipu daya) mereka itu. Dan Allah sebaik-baiknya pembalas makar (tipu daya)." (QS. Ali Imran: 54)

Yakinlah, kemenangan itu akan segera tiba dengan izin-Nya. Tugas seorang pejuang hanya berupaya seikhlas dan seoptimal mungkin, biarkan Allah SWT yang akan memberikan hasil. Cukuplah firman Allah SWT berikut menjadi penguat langkah perjuangan kaum Muslimin menyambut nashrullah. 

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya." (QS. Ash Shaff: 9)


Oleh: Puspita Satyawati
(Analis Politik dan Media)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar