Topswara.com -- Vape sekarang rasanya sudah gampang sekali ditemui di sekitar kita. Anak muda yang memakai vape juga bukan pemandangan yang aneh lagi.
Ada yang awalnya cuma ikut teman, ada yang penasaran, ada juga yang memang sudah terbiasa. Tetapi yang bikin kita perlu waspada, ternyata vape bisa dipakai sebagai media untuk memasukkan narkoba. Salah satunya etomidate.
Zat yang sebenarnya digunakan sebagai obat anestesi ini disalahgunakan dengan cara dimasukkan ke dalam cartridge vape. BNN menyebutnya “pod getar” karena setelah digunakan bisa membuat tubuh penggunanya bergetar.
Harganya juga cukup tinggi, sekitar Rp3 juta sampai Rp6 juta per cartridge. Masalahnya, dari bentuknya saja cartridge ini sulit dibedakan dari vape biasa, kita tidak bisa langsung tahu mana yang aman dan mana yang ternyata sudah dicampur zat berbahaya. (Kumparan.com, 21 September 2026).
Yang bikin miris, narkoba sekarang tidak selalu datang dalam bentuk yang dari awal sudah kelihatan berbahaya. Bisa saja dibawa lewat sesuatu yang memang sudah dekat dengan kehidupan anak muda.
Jaringan yang mengedarkannya tentu tahu bahwa vape sudah dianggap biasa di sebagian kalangan. Dari situ mereka bisa mencari celah.
Terus, kenapa anak muda yang dibidik? Ya karena masa muda memang masa ketika seseorang gampang terpengaruh banyak hal. Teman bisa memengaruhi, lingkungan bisa memengaruhi, masalah di rumah juga bisa berpengaruh.
Belum lagi kalau seseorang sedang banyak pikiran dan mencari pelarian. Bukan berarti setiap anak yang punya masalah pasti akan memakai narkoba, tetapi kondisi seperti itu bisa saja dimanfaatkan oleh orang yang memang ingin menjualnya.
Bukan cuma soal “narkoba itu haram”, selesai. Kalau cuma begitu, rasanya belum cukup. Anak juga perlu dibentuk sejak awal supaya punya alasan kenapa dia harus menjauhi sesuatu yang haram. Dia harus punya kesadaran bahwa hidupnya tidak bebas begitu saja.
Dalam Islam, ada yang namanya muraqabah, merasa bahwa Allah selalu melihat kita. Ini yang sebenarnya menjadi penjaga ketika tidak ada siapa-siapa. Saat orang tua tidak tahu, guru tidak melihat, teman juga tidak ada, masih ada kesadaran bahwa Allah tahu apa yang kita lakukan.
Jadi, menjauhi narkoba bukan hanya karena takut ditangkap, tetapi karena memang sadar bahwa itu sesuatu yang dilarang dan merusak.
Sayangnya, kehidupan sekarang sering membuat agama hanya ditempatkan di urusan tertentu saja. Ibadah iya, tetapi ketika bicara gaya hidup, pergaulan, hiburan, bahkan cara mencari uang, agama seperti tidak perlu ikut menentukan. Akhirnya muncul pikiran, “Yang penting saya suka,” atau “Orang lain juga melakukan.”
Padahal, dalam Islam tidak begitu.
Banyak atau sedikit orang yang melakukan sesuatu tidak otomatis membuatnya menjadi benar. Begitu juga kalau bicara bisnis. Ketika yang paling dikejar adalah keuntungan, apa pun yang punya pasar bisa dilihat sebagai peluang.
Ada yang mau beli, ya dijual. Padahal kalau barang itu merusak akal dan masa depan orang, masa kita masih bisa bilang, “Yang penting ada yang beli”? Di sinilah generasi akhirnya bisa berubah menjadi sasaran pasar.
Karenanya, persoalan seperti ini tidak bisa cuma dibebankan kepada keluarga atau anak muda. Negara juga punya tanggung jawab. BNN sendiri sudah mendorong penguatan aturan terkait vape setelah menemukan penyalahgunaan etomidate dan zat narkotika lainnya dalam cartridge.
Artinya, masalahnya nyata dan modusnya juga terus berkembang.
Dalam Islam, negara itu raa’in, yang bertanggung jawab mengurus rakyat, dan juga junnah, pelindung. Jadi tugasnya bukan sekadar membuat aturan setelah masalah muncul.
Negara juga harus memikirkan bagaimana generasi dididik, bagaimana barang-barang yang membahayakan dicegah peredarannya, dan bagaimana orang-orang yang sengaja merusak masyarakat ditindak.
Termasuk soal sanksi. Islam punya uqubat yang bukan sekadar untuk menghukum. Ada fungsi zawajir, supaya orang lain berpikir ulang untuk melakukan kejahatan yang sama, dan jawabir bagi pelaku atas pelanggarannya.
Jadi jangan hanya pengguna yang dilihat. Orang yang memproduksi, mengedarkan, apalagi sengaja mencari keuntungan dari narkoba, juga harus diberantas.
Kasus vape narkoba ini cukup untuk jadi alarm. Kita tidak bisa menganggap semua yang terlihat seperti tren itu aman. Bisa saja ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya di baliknya.
Dan kalau kita memang ingin generasi muda selamat, rasanya tidak cukup hanya bilang, “Jangan pakai narkoba.” Mereka butuh benteng dari dalam, lingkungan yang baik, pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, dan negara yang benar-benar serius melindungi mereka. Karena yang dipertaruhkan di sini bukan cuma satu orang yang memakai vape, tetapi masa depan generasi.
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah

0 Komentar