Topswara.com -- Memasuki usia pertengahan 40-an, saya mulai merasakan beberapa perubahan yang kadang mengundang tawa sekaligus membuat berpikir. Lupa menaruh kacamata, lupa memarkir kendaraan di sebelah mana, sampai mood swing yang datang tanpa aba-aba.
Alhamdulillah, sejauh ini belum ada keluhan nyeri sendi, migrain, ataupun susah tidur. Bagaimana mau dibilang susah tidur? Jam delapan malam, sistem tubuh saya sudah otomatis shut down. Tidak bisa ditunda, tidak bisa diajak kompromi. Namun, di balik cerita sederhana ini, muncul pertanyaan, apakah perubahan tersebut berkaitan dengan perimenopause?
Mengenali Perimenopause dan Menopause
Perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause ketika fungsi ovarium dan kadar hormon, terutama estrogen, mulai berubah. Fase ini dapat berlangsung selama beberapa tahun. Sementara itu, menopause ditandai dengan tidak menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, apabila tidak ada penyebab lain.
Dalam edukasi kesehatan menopause, dr. Fenti Endriyani dikenal melalui kiprahnya di Menopause Indonesia. Edukasi semacam ini penting agar perempuan memahami perubahan tubuhnya dan tidak menganggap semua keluhan sebagai konsekuensi biasa dari bertambahnya usia.
Secara medis, gejala perimenopause dan menopause dapat meliputi, Pertama, perubahan menstruasi. Siklus menjadi tidak teratur, lebih sedikit, atau lebih banyak. Kedua, mood swing, yaitu mudah tersinggung, cemas, atau mengalami perubahan suasana hati.
Ketiga, gangguan tidur, seperti sulit terlelap, sering terbangun, atau berkeringat pada malam hari. Keempat, hot flashes, seperti sensasi panas mendadak pada wajah, leher, dan dada.
Kelima, gangguan konsentrasi, seperti mudah lupa atau merasa sulit fokus. Keenam, keluhan fisik, seperti nyeri otot dan sendi, vagina kering, serta perubahan gairah seksual.
Namun, mudah lupa atau perubahan suasana hati tidak otomatis menandakan perimenopause. Stres, kurang tidur, anemia, gangguan tiroid, dan kondisi kesehatan lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Karena itu, diagnosis tidak cukup berdasarkan gejala saja.
Lima Ikhtiar Menjaga Kesehatan
Pertama, perbaiki pola makan. Perempuan usia 40-an perlu memperhatikan asupan protein, kalsium, vitamin D, sayuran, dan buah. Ikan, telur, ayam, tahu, serta tempe dapat menjadi pilihan sumber protein.
Batasi gula tambahan, garam berlebihan, dan makanan ultra-proses. Hindari diet ekstrem karena tubuh tetap membutuhkan gizi seimbang untuk menjaga massa otot, tulang, dan metabolisme.
Kedua, rutin bergerak. Jalan kaki dan latihan kekuatan sesuai kemampuan membantu menjaga kebugaran, massa otot, dan kesehatan tulang. Tidak perlu langsung berolahraga berat. Konsistensi lebih penting daripada semangat membara selama tiga hari, kemudian menghilang berbulan-bulan.
Ketiga, jaga tidur dan kesehatan mental. Pertahankan jadwal tidur yang teratur, kurangi kafein menjelang malam, dan kelola stres. Jika tubuh sudah mengantuk pukul delapan malam, tidak perlu merasa kalah produktif. Namun, bila gangguan tidur terus terjadi atau mengganggu aktivitas, konsultasikan kepada dokter.
Keempat, jangan abaikan pemeriksaan kesehatan. Periksa tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan kesehatan tulang sesuai usia serta faktor risiko. Jika gejala menopause berat, dokter dapat mendiskusikan terapi hormonal maupun nonhormonal.
Terapi hormon tidak cocok untuk semua orang sehingga harus mempertimbangkan manfaat, risiko, dan riwayat kesehatan. Perdarahan setelah 12 bulan tidak menstruasi, perdarahan sangat banyak, atau sakit kepala baru yang sangat hebat juga tidak boleh dianggap sekadar gejala menopause.
Kelima, bangun dukungan keluarga. Perubahan hormon dan keluhan fisik dapat memengaruhi emosi. Komunikasi dengan pasangan dan keluarga membantu perempuan menghadapi fase ini tanpa merasa sendirian. Bila kecemasan atau kesedihan berlangsung terus-menerus, mencari bantuan profesional merupakan langkah bijaksana.
Menerima Perubahan dengan Perspektif Islam
Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia memiliki tahapan. Bertambah usia bukan kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan yang telah Allah tetapkan.
Allah Swt. berfirman, “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS. Ar-Rum: 54).
Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan fisik merupakan bagian dari kehidupan. Karena itu, perempuan tidak perlu merasa kehilangan harga diri ketika tubuhnya tidak lagi sama seperti saat muda.
Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya memperbaiki diri dan mengarahkan kehidupan kepada kebaikan. Semangat ini relevan untuk menghadapi pertambahan usia, seperti memperkuat ibadah, memperdalam ilmu, menjaga hubungan keluarga, dan memberi manfaat kepada sesama.
Rasulullah saw. bersabda, “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Menjaga pola makan, berolahraga, berkonsultasi dengan dokter, dan merawat kesehatan mental merupakan bagian dari ikhtiar. Doa dan ibadah membantu menguatkan hati dalam menghadapi perubahan yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Penting dipahami bahwa menopause bukan tanda lemahnya iman. Mood swing bukan otomatis menunjukkan kurangnya kesabaran. Gangguan tidur pun bukan bukti seseorang kurang berzikir. Keluhan kesehatan perlu ditangani secara medis, sementara penguatan spiritual dapat menjadi sumber ketenangan.
Menopause Bukan Akhir Produktivitas
Masyarakat terkadang mengukur nilai perempuan dari penampilan, usia, dan kemampuan memenuhi harapan orang lain. Padahal, nilai seorang perempuan tidak berakhir ketika menstruasinya berhenti.
Ia tetap seorang ibu, istri, sahabat, pendidik, dan bagian penting dari masyarakat. Pengalaman hidup justru dapat menjadi bekal untuk lebih bijaksana.
Menopause memang membawa perubahan, tetapi tidak harus merampas kebahagiaan. Pengetahuan medis, pola hidup sehat, dukungan keluarga, dan penguatan spiritual dapat membantu perempuan menjalani fase ini dengan lebih siap.
Bertambah usia bukan alasan untuk berhenti bertumbuh. Merawat kesehatan adalah ikhtiar, menerima perubahan adalah kebijaksanaan, dan menjaga iman adalah bekal untuk menjalani setiap fase kehidupan dengan penuh syukur.
Barakallahufiikum. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar