Topswara.com -- Ada orang yang kalau punya waktu luang, pilih rebahan. Ada yang pergi ke mal, berburu diskon, atau nongkrong cantik sambil menyeruput kopi. Ada pula yang merasa hidupnya kurang lengkap kalau belum punya waktu untuk menonton serial kesayangan.
Kalau saya? Duduk tenang, membuka laptop, lalu mulai mengetik. Dunia boleh berisik, tetapi biarkan jemari ini punya ruang untuk berbicara.
Inilah salah satu "me time" terbaik bagi saya, yaitu menulis tanpa ada yang mengganggu, tanpa ada yang memanggil, tanpa ada yang berisik.
Tidak ada teriakan, “Umi, kaos kakiku di mana?” Tidak ada panggilan, “Umi, aku sudah siap dijemput?”
Tidak ada pula yang tiba-tiba datang membawa urusan baru, padahal jari sudah lincah menari di atas keyboard.
Maklum, menjadi seorang ibu itu kadang seperti pusat layanan pelanggan. Buka setiap hari, jam operasional tidak jelas, dan pelanggan merasa semua persoalan harus segera ditangani.
Maka, ketika ada kesempatan duduk tenang dan menulis, rasanya seperti menemukan sebuah pulau kecil di tengah lautan kesibukan.
Bagi saya, menulis adalah ruang untuk berpikir sekaligus bercermin. Ketika menulis tentang politik, saya belajar membaca persoalan dengan lebih tajam.
Ketika menulis tentang umat, saya diingatkan bahwa ada tanggung jawab yang lebih luas daripada kepentingan pribadi.
Ketika menulis tentang akhlak, saya pun harus bertanya, sudahkah nilai-nilai itu hadir dalam kehidupan saya sendiri? Ketika menulis tentang kesabaran, saya harus belajar bersabar. Ketika menulis tentang keikhlasan, saya harus memeriksa niat. Ketika menulis tentang perubahan, saya harus berani memulai perubahan dari diri sendiri.
Bukan karena penulis harus menjadi manusia sempurna. Tidak. Penulis juga manusia yang bisa salah, lelah, lalai, dan membutuhkan nasihat. Namun, jangan sampai kita menjadikan ketidaksempurnaan sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Pena yang tajam tetap membutuhkan hati yang lembut. Pikiran yang kritis tetap membutuhkan kerendahan hati. Keberanian menyampaikan kebenaran tetap harus disertai adab dan tanggung jawab.
Sebab, tujuan menulis bukan sekadar membuat orang lain terkesan dengan kecerdasan kita. Lebih dari itu, semoga tulisan menjadi jalan menuju kesadaran, perubahan, dan keridaan Allah.
Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap amal bergantung pada niatnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, sebelum sibuk memikirkan berapa banyak orang yang membaca tulisan kita, ada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu untuk siapa kita menulis?
Apakah demi pujian? Demi angka interaksi? Demi pengakuan bahwa kita paling kritis dan paling memahami persoalan? Atau karena kita berharap ilmu dan pemikiran yang kita bagikan menjadi amal kebaikan di hadapan Allah?
Tidak ada yang salah dengan berharap tulisan dibaca banyak orang. Jangkauan yang luas bisa membantu menyebarkan manfaat. Namun, jangan sampai angka mengalahkan makna, popularitas mengalahkan kejujuran, dan keinginan untuk viral mengalahkan tanggung jawab terhadap kebenaran. Biarlah tulisan menjangkau banyak orang, tetapi jangan biarkan hati diperbudak oleh tepuk tangan manusia.
Me Time yang Mengembalikan Kita kepada Allah
Akhirnya, "me time" bukan semata-mata tentang menjauh dari keramaian. Ia juga bisa menjadi kesempatan untuk kembali mengenali diri, menyusun pikiran, menata niat, dan mengingat tujuan hidup.
Bagi saya, duduk tenang di depan laptop, mengetik satu demi satu gagasan, adalah salah satu bentuk jeda yang menyenangkan.
Kadang menulis isu politik. Kadang membahas persoalan umat. Kadang menulis tentang keluarga, kesabaran, atau perjalanan memperbaiki diri. Semuanya punya ruang masing-masing. Sebab, umat membutuhkan pemikiran yang tajam, tetapi keluarga juga membutuhkan pribadi yang hangat.
Masyarakat membutuhkan keberanian menyampaikan kebenaran, tetapi orang-orang terdekat juga membutuhkan akhlak yang baik. Dunia membutuhkan orang-orang yang peduli terhadap kezaliman, tetapi kita pun membutuhkan hati yang terus terjaga dari kesombongan.
Jangan sampai kita menjadi penulis yang pandai membicarakan perubahan, tetapi lupa berubah. Jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk mengingatkan umat, tetapi enggan diingatkan. Dan jangan sampai kita terlalu asyik menulis hingga lupa waktu, lupa makan, lupa bahwa pekerjaan rumah masih menunggu, apalagi lupa jati diri sendiri.
Pada akhirnya, saya ingin pena ini bukan hanya menghasilkan tulisan yang dibaca manusia, melainkan juga menjadi saksi atas usaha kecil untuk belajar, berpikir, berdakwah, dan memperbaiki diri.
Sebab, kelak yang paling penting bukan berapa banyak tulisan yang pernah kita terbitkan, melainkan bagaimana kita mempertanggungjawabkan ilmu, waktu, dan kesempatan yang Allah berikan.
Maka, menulislah. Tulislah tentang persoalan umat agar pikiran kita tidak sempit. Tulislah tentang ideologi agar kita memahami akar persoalan. Tulislah tentang syakhsiyah agar hati tidak kehilangan arah. Dan sesekali, tulislah tentang diri sendiri agar kita tidak sibuk memperbaiki dunia sambil lupa memperbaiki penghuninya yang paling dekat, yaitu diri kita sendiri.
Karena pena yang baik bukan hanya mampu membongkar keburukan zaman, tetapi juga membantu pemiliknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
"Me time" boleh untuk diri sendiri. Namun, semoga hasilnya membawa manfaat bagi umat dan bernilai di sisi Allah. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar