Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MBG Solusi atau Masalah?


Topswara.com -- Lagi dan lagi korban kembali berjatuhan. Banyak siswa dikabarkan mengalami keracunan pasca mengonsumsi MBG. Salah satu korban yang sudah hampir tiga minggu mengalami gangguan ingatan. Yaitu seorang anak dari SMK di Berastagi, Medan, Sumatera Utara. 

Dikutip dari wartakotalive.com (08/09/2026) Kondisi Febiona Br Purba, siswi SMK Bersama Berastagi, Karo, yang diduga menjadi korban keracunan MBG, kian memburuk setelah lebih dari tiga minggu. Siswi berusia 16 tahun itu kini mengalami gangguan ingatan hingga kesulitan berbicara dan masih harus menjalani pemeriksaan medis secara berkala. 

Tujuan dari program ini adalah mencegah dari stunting. Sehingga, jika yang terjadi adalah banyaknya kasus keracunan. Bukan menghilangkan stunting lagi, tapi muncul permasalahan baru yaitu keracunan. Berarti bisa dikatakan program ini tidak menyelesaikan masalah yang ada.

Program yang menyangkut penyediaan makanan dengan jumlah porsi yang cukup besar memang rawan terkontamonasi bakteri, jika dalam mengelolanya tidak ketat dalam sanitasinya atau kebersihannya. 

Karena makanan rawan dengan basi jika terlalu lama dikonsumsi. Atau rawan terkontaminasi bakteri dan jamur bila tidak higienis pengelolaan, penyediaan, pendistribusian dan cara makan pada peserta didik. 

Oleh karena itu, diperlukan keseriusan pemerintah dalam menjaga higienitas makanan. Mulai dari ompreng, kualitas bahan yang dimasak sampai pengemasan. Kita juga harus belajar dari negara luar terkait penelitian mutu makanan, apakah sudah sesuai standar menurut ahli gizi atau belum. 

Selain itu diperlukan alat yang memadai untuk mengetes kualitas makanan yang siap di makan. Jam makan perlu juga diperhatikan, hingga pencucian ompreng harus memenuhi standar kebersihan. Agar tidak terkontaminasi bakteri beracun. 

Maka, semua membutuhkan kerja sama dengan berbagai ahli dan menerima masukannya. Selama ini kita hanya mengejar berbagai program. Tetapi tidak melihat kesiapan di lapangan. Inilah permasalahan kita. Tidak melihat akar permasalahan. Akhirnya berbagai program bukannya menyelesaikan masalah, malah menimbulkan masalah baru. 

Program MBG harus segera dievaluasi karena sudah menelan banyak korban. Bukan sedikit tetapi sudah menyentuh angka yang besar. Menurut data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), jumlah korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional telah menembus 43.838 orang yang tersebar di 36 provinsi. 

 Data ini akan terus bertambah, jika tidak Ada keseriusan mengambil langkah tegas. Persoalan ini menyangkut nyawa generasi bangsa.

Dalam kasus ini, sudah banyak para ahli dan ahli kesehatan untuk mengevaluasi program ini, agar kedepannya bisa lebih terukur pengelolaannya dan diberikan untuk siapa. Akan tetapi dilanjutkan walaupun korban banyak berjatuhan. Inilah pentingnya seorang penguasa yang memiliki pemahaman Islam. 

Selain pemimpin yang harus memahami Islam, juga harus menerapkan sistem Islam. Karena sudah terbukti kerusakan akibat penerapan sistem sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) hari ini. Kerusakan demi kerusakan hari ini sudah merajalela di masyarakat. 

Agama apa yang memiliki aturan sempurna dan bisa dibuktikan. Tidak lain adalah sistem islam yang telah terbukti dulu sejak awal diterapkan oleh Baginda Rasulullah SAW. 

Kemudian diteruskan oleh para sahabat dan ke generasi berikutnya. Bisa bertahan hingga lebih kurang tiga belas abad lamanya. Tetapi ketika sistem islam hancur dan digantikan sistem kapitalis di dunia saat ini, yang terjadi adalah kerusakan demi kerusakan. 

Penguasa di dalam islam adalah seperti penggembala. Dimana, masyarakat harus menjadi fokus utama untuk disejahterakan, dijaga, dan diberikan hak-hak nya. 

Semua hak masyarakat dan keadilan akan terwujud jika kita mau menerapkan sistem islam. Karena sistem Islam sudah diberikan Allah kepada manusia. Allah SWT, menurunkan Islam dengan segenap aturannya untuk manusia. 

Pastilah hukum yang ada sesuai dan cocok untuk manusia. Penguasa hanya tunduk kepada hukum Allah, karena hakikinya manusia tidak mampu membuat aturan yang benar-benar adil untuk kehidupan seluruh manusia di muka bumi. 

Para ahli pun akan dihargai dan didengarkan pendapatnya. Bukan mementingkan pengusaha dan yang memiliki uang yang banyak. Bukan pula mementingkan hawa nafsu sebagian kalangan. 

Akan tetapi, semua akan ditimbang halal dan haramnya menurut ketentuan syariat. Kita manusia hanya mengembalikan hukum kepada pemilik hukum yang menciptakan bumi ini. Bukan membuat hukum baru sesuka hati kita.

Sungguh nyawa manusia yang tidak berdosa tidak boleh dianggap remeh. Sudah saatnya kita kembalikan penjagaan nyawa manusia kepada sistem Islam. Wallahu a'lam bishawwab.


Oleh: Eni Yulika 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar