Topswara.com -- Belakangan ini, berbagai musibah menimpa Indonesia. Gempa bermagnitudo (M) 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menyebabkan 135 orang meninggal dunia berdasarkan laporan terbaru dari Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
Selain korban jiwa, gempa ini juga menyebabkan 1.762 orang mengalami luka-luka, 98.986 rumah warga rusak, seta kerusakkan pada fasilitas umum, seperti tempat ibadah, kantor, jalan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pendidikan.
Selain itu, serangkaian kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa wilayah seperti Kalimantan dan Papua menyebabkan mobilitas warga terhambat.
Bahkan, asap karhutla di Kalimantan berakibat pada buruknya kualitas udara di negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei, dan Filipina. Bahkan, pemerintah Malaysia terpaksa menutup beberapa sekolah.
Belum lama ini, erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan menyebarnya abu vulkanik ke area di sekitarnya. Hal ini menyebabkan beberapa wilayah melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi para pelajar dan Work from Home (WFH) bagi para pekerja kantoran. Belum lagi bencana yang tidak tersorot media, seperti bencana banjir di Nias.
Begitu banyaknya bencana yang menimpa, namun terasa ada yang hilang, yaitu peran negara. Sangat disayangkan betapa lamban bahkan mungkin culasnya negara dalam merespon berbagai bencana belakangan ini.
Salah satunya, ketika negara lain, seperti Malaysia dan Jepang justru berbondong-bondong membantu dalam proses pemadaman karhutla di Kalimantan dengan alat-alat dan dana mereka sendiri. Sungguh memalukan.
Musibah yang terjadi belakangan ini, seakan memberi pertanda bagi umat manusia. Erupsi Gunung Anak Krakatau, misalnya. Satu amukan gunung dapat membuat mobilitas manusia porak-poranda di berbagai sisi.
Di darat, para pelajar, pegawai, dan masyarakat lain membatasi ruang gerak di luar rumah agar tidak terpapar abu vulkanik. Di laut, pembatasan radius aman ditetapkan agar para pelaut dan nelayan terhindar dari bahaya material pijar, perubahan cuaca, dan gelombang laut.
Di udara, ratusan jadwal penerbangan dibatalkan, bahkan sejumlah bandara ditutup sementara demi keselamatan bersama. Mudah sekali bagi Allah untuk memporak-porandakan aktivitas manusia di bumi dengan satu gertakan gunung berapi.
Di satu sisi, musibah yang terjadi “seharusnya” menjadi tamparan keras bagi negara. Mengapa? Negara berperan sebagai ra’in atau perisai bagi umat. Artinya, negara harus senantiasa melindungi rakyatnya dari berbagai ancaman, termasuk bencana alam. Negara harus siap dengan persiapan sebelum, saat, dan setelah bencana.
Sebelum bencana datang misalnya, negara perlu memastikan pengalokasian anggaran pada badan-badan pengelola atau pengamat bencana dengan baik. Hal ini sangatlah penting, karena badan atau organisasi pengamat bencana tersebut adalah fondasi atau sumber informasi bagi masyarakat untuk memberi himbauan, peringatan, dan kewaspadaan saat bencana melanda.
Selain anggaran, negara perlu melakukan sosialisasi kepada umat dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang ada. Saat gempa bumi terjadi, bagaimana seharusnya kita berlindung? Apa tanda-tanda tsunami dan apa yang perlu dilakukan?
Apa saja barang-barang yang diperlukan untuk dibawa saat terjadi bencana? Dan banyak hal lain yang dapat menjadi bekal masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadi bencana.
Saat terjadi bencana, negara tentunya harus cepat tanggap, karena dalam situasi ini, bencana sudah terjadi, korban bisa saja sudah berjatuhan, maka peran negara sangatlah krusial pada situasi genting ini.
Setelah bencana terjadi, negara perlu melakukan perbaikan dan pembersihan daerah yang terdampak, bukannya dibiarkan begitu saja seperti yang terjadi di Aceh akibat banjir besar sebelumnya. Negara juga perlu hadir secara psikologis untuk memberikan pendampingan dan pemulihan kepada para korban bencana.
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa gertakan-Nya yang disampaikan melalui makhluk-makhluk Allah di muka bumi membuat manusia porak poranda.
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”, (Q.S Abasa Ayat 33)
Dengan berbagai macam bencana yang muncul silih berganti, seharusnya bisa menyadarkan umat manusia bahwa dunia adalah sebuah tempat singgah, akan ada kehidupan yang kekal. Segala perbuatan, perkataan, amalan, akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Oleh karenanya, dengan setiap urusan kita masing-masing di dunia ini, sudahkah kita melaksanakan dengan baik sesuai dengan syariat? Tanggung jawab dalam pekerjaan, perolehan harta dan jabatan, berbakti kepada orang tua dan pasangan. Dan sudahkah memohon ampun dari banyaknya dosa-dosa kita kepada-Nya?
Oleh: Bella Lutfiyya
Aktivis Muslimah

0 Komentar