Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Realitas HIV pada Remaja?


Topswara.com -- Beberapa pekan lalu viral di media sosial yang menyebut 522 pelajar di Sidoarjo positif HIV, memicu keresahan publik. Video tersebut kemudian direspons Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo yang membantah angka tersebut sebagai tidak sesuai data resmi. 

Dinas Kesehatan Pemkab Sidoarjo mencatat 7.230 orang hidup dengan HIV berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026, namun angka usia sekolah jauh di bawah 522. 

Data situasi HIV Sidoarjo mencatat 1.183 kasus kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun sejak 2001. Kepala Dinkes Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina menegaskan dari 60 kasus usia 11-17 tahun, 7 anak meninggal sehingga tersisa 53 anak usia pelajar yang masih hidup dengan HIV — bukan 522 seperti klaim viral. 

Angka 522 sendiri, menurut penelusuran media lain, berasal dari data Yayasan Delta Crisis Center (DCC) yang menghitung akumulasi seluruh usia sekolah dari PAUD hingga mahasiswa (bukan hanya pelajar SMA ke bawah): 13 anak PAUD/TK, 44 remaja SD-SMP, dan 465 SMA hingga mahasiswa.

Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menegaskan HIV adalah penyakit kronis yang bisa dikendalikan lewat terapi antiretroviral (ARV), dan mengajak masyarakat tidak takut tes HIV. Kemenkes juga menekankan bahwa kenaikan temuan kasus sejalan dengan meluasnya layanan tes di berbagai faskes, sehingga tidak bisa langsung dimaknai sebagai naiknya penularan. 

Kemenkes bahkan melakukan supervisi langsung ke Sidoarjo, termasuk kunjungan ke DCC, untuk memverifikasi validitas data yang beredar. Mendikdasmen Prof. Abdul Mu'ti, saat peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Sidoarjo, menegaskan anak usia sekolah dengan HIV/AIDS tetap berhak atas pendidikan tanpa stigma maupun diskriminasi. Ia membagi tanggung jawab: penanganan medis ranah Dinkes, sedangkan sisi pendidikan menjadi kewajiban sekolah untuk memastikan tidak ada penelantaran hak belajar.

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak menyebut terungkapnya kasus di Sidoarjo merupakan hasil skrining dan monitoring rutin Pemda, bukan sesuatu yang baru, dan bagian dari koordinasi Dinkes Provinsi dengan Dinkes Sidoarjo. Emil juga menegaskan penanganan HIV tidak boleh hanya difokuskan pada isu pergaulan bebas semata, dan menekankan pentingnya sinergi sekolah, keluarga, dan masyarakat karena pencegahan tak bisa dibebankan ke satu pihak saja. 

Kepala Bidang Mutu Pendidikan Disdikbud Sidoarjo, Lilik Sulistyowati, menyatakan pihaknya akan menyusun kebijakan pencegahan HIV/AIDS di seluruh satuan pendidikan agar tidak ada diskriminasi terhadap siswa maupun tenaga pendidik dengan HIV.

Berdasarkan pernyataan beberapa pihak terkait tersebut, dalam kasus naiknya angka penyebaran angka HIV ini, dari pemerintah masih memfokuskan bahwa angka tersebut tidaklah sesuai dengan data yang ada, kemudian pemerintah juga masih menitikberatkan bagaimana penanganan kuraif dari kasus ini. 

Padahal seharusnya yang lebih harus difokuskan adalah bagaimana pemerintah melakukan tindakan preventif sebanyak mungkin supaya menekan adanya penyebaran HIV atau bahkan munculnya gejala HIV.

Karena apabila ditarik pada akar masalah, penyebab muncul nya HIV ini bisa disebabkan banyak hal dimana banyak remaja yang sekarang tumbuh dalam lingkungan kurang kasih saying dan perhatian dari orang tua.

Sehingga mendorong para remaja ini untuk mencari kasih saying diluar ditempat yang seharusnya tidak dimasuki oleh remaja, atau bahkan tekanan yang mereka dapatkan dari rumah yang mendorong mereka mencari tempat yang baru yang akan menerima mereka apa adanya. 

Sehingga menyebabkan para remaja ini mudah tertular akan virus yang dibawa oleh orang dari luar lingkungan mereka, sehingga jetuja mereka bertemu orang lain penyebaran dari virus HIV ini makin meningkat.

Menariknya, respons pemerintah dalam kasus ini justru lebih banyak menyasar validitas angka ketimbang substansi persoalan. Alih-alih menjadikan momentum viral ini sebagai pintu masuk evaluasi menyeluruh, narasi yang muncul justru berkutat pada pembelaan data: angka 522 salah, yang benar hanya 53. Begitu pula pendekatan kuratif mengendalikan lewat ARV, mengajak masyarakat tidak takut tes, yang dimana sesungguhnya baru bekerja setelah seseorang tertular. 

Pertanyaan yang jauh lebih mendesak justru belum terjawab: mengapa remaja usia sekolah bisa sampai berada dalam situasi berisiko tertular HIV sejak awal?
Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam. Penyebaran HIV di kalangan remaja jarang berdiri sendiri sebagai persoalan medis semata, ia kerap menjadi gejala dari luka yang lebih dulu ada ketika rumah yang minim kehadiran emosional, orang tua yang absen secara afeksi meski hadir secara fisik, atau tekanan keluarga yang membuat anak merasa lebih diterima di luar rumah daripada di dalamnya. 

Ketika kebutuhan dasar akan rasa dicintai dan diakui tidak terpenuhi di ruang yang seharusnya paling aman, remaja rentan mencarinya ke ruang-ruang yang justru membuka pintu risiko pergaulan yang tidak terawasi, relasi dengan orang-orang yang tidak mereka kenal latar belakangnya, hingga akhirnya membuka celah penularan virus dari lingkungan yang sama sekali di luar kendali keluarga.

Persoalan ini pun tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi yang membelit keluarga hari ini. Dalam realitas this economy, peran pengasuhan yang seharusnya menjadi prioritas utama orang tua justru tergerus oleh tuntutan mencari nafkah yang semakin berat. 

Orang tua pulang kerja dalam kondisi lelah fisik dan mental, sehingga ruang untuk hadir secara emosional bagi anak semakin menyempit yang bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena energi mereka sudah habis terkuras oleh beban ekonomi yang tak kunjung ringan. 

Ironisnya, kelelahan struktural ini kerap disalahartikan sebagai "kegagalan mengasuh", padahal sesungguhnya ia adalah gejala dari sistem yang menuntut orang tua bekerja lebih keras tanpa memberi ruang seimbang untuk keluarga.

Dalam Islam, permsalahan ini bukan hanya sekedar masalah Kesehatan, sosial, keluarga, maupun ekonomi, melainkan permasalahan menyeluruh, ketika dalam semua lini kehidupan sistem sekarang memisahkan antara semua lini kehidupan dari agama memyebabkan fitrahnya manusia untuk meng-hamba tidak ada sehingga menyebabkan semua elemen terjadi kegoncangan.


Oleh: Rani Mahardika 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar