Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

New Gaza atau Penjajahan Gaya Baru? Palestina Tak Butuh Bisnis, tetapi Pembebasan


Topswara.com -- Konflik Palestina kembali memperlihatkan satu kenyataan yang sulit dibantah: penjajahan Zionis Israel tidak berhenti. Di Tepi Barat, aneksasi terus berjalan melalui serangan, teror, pengusiran, penghancuran bangunan dan masjid, serta perluasan permukiman ilegal.

Di saat yang sama, muncul berbagai gagasan pembangunan untuk Gaza pascaperang, termasuk proyek yang disebut “New Gaza” dan keterlibatan Amerika Serikat melalui berbagai skema kerja sama. 

Di balik jargon pembangunan, rekonstruksi, investasi, dan perdamaian, umat perlu bertanya: apakah Palestina sedang benar-benar dibebaskan atau justru sedang disiapkan menjadi ladang bisnis baru?

Aneksasi yang Tak Pernah Berhenti

Tepi Barat terus menghadapi tekanan. Serangan oleh militer Zionis maupun pemukim ilegal, pengusiran warga Palestina, penghancuran rumah dan fasilitas publik, hingga perluasan permukiman menjadi bagian dari realitas yang terus berlangsung.

Rencana pembangunan ribuan unit perumahan ilegal Zionis semakin memperkuat gambaran bahwa pendudukan bukan sekadar operasi militer sementara. Ada proyek politik dan ideologis untuk menguasai tanah Palestina secara permanen.

Jika demikian, mengapa berbagai kecaman internasional tidak menghentikannya?

Jawabannya sederhana: karena kecaman tanpa kekuatan politik dan militer yang mampu memaksa penjajah berhenti hanya akan menjadi retorika.

PBB dapat mengeluarkan resolusi, negara-negara dapat menyampaikan keprihatinan, dan dunia dapat mengecam. Namun selama Zionis tetap mendapatkan dukungan politik, militer, ekonomi, dan diplomatik dari kekuatan besar, penjajahan akan terus menemukan ruang untuk bertahan.

Hal ini menunjukkan bahwa cita-cita Zionis untuk memperluas wilayah kekuasaannya bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Palestina Merdeka, Mungkinkah Berdamai dengan Penjajah?

Selama ini solusi dua negara sering ditawarkan sebagai jalan keluar konflik Palestina. Palestina dan Israel dibayangkan hidup berdampingan sebagai dua negara.

Namun, bagaimana mungkin solusi tersebut berjalan jika ekspansi wilayah Zionis terus dilakukan?

Ketika tanah Palestina terus dicaplok, permukiman ilegal terus diperluas, dan rakyat Palestina terusir dari tanahnya, maka persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan perbatasan.

Ada kepentingan untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan Zionis atas tanah Palestina.

Karena itu, umat Islam perlu melihat konflik ini secara lebih mendasar. Perdamaian yang hanya berarti meminta pihak yang terjajah menerima kenyataan penjajahan bukanlah keadilan.

Palestina membutuhkan pembebasan, bukan sekadar perubahan bentuk penjajahan.

New Gaza: Rekonstruksi atau Ladang Bisnis?

Setelah kehancuran Gaza, tentu rekonstruksi menjadi kebutuhan mendesak. Rumah sakit, sekolah, rumah, jalan, listrik, air, dan berbagai fasilitas umum harus dibangun kembali.

Namun, rekonstruksi Gaza tidak boleh berubah menjadi proyek ekonomi yang menjadikan penderitaan rakyat Palestina sebagai peluang bisnis.

Konsep “New Gaza” perlu dilihat secara kritis. Ketika pembangunan Gaza dirancang dengan keterlibatan kekuatan besar dan kepentingan investasi, umat harus bertanya: siapa yang menguasai proyek, siapa yang mendapatkan keuntungan, dan siapa yang menentukan masa depan Gaza?

Jangan sampai pembangunan justru menjadi cara baru untuk mengendalikan wilayah.

Atas nama investasi, keamanan, pembangunan, dan perdamaian, Gaza bisa saja diarahkan menjadi kawasan ekonomi yang bergantung pada kekuatan asing. Rakyat Palestina kemudian hanya menjadi tenaga kerja di tanah mereka sendiri.

Inilah yang harus dibongkar. Rekonstruksi seharusnya mengembalikan kehidupan dan kedaulatan rakyat Palestina, bukan menjadikan Gaza sebagai komoditas.

Islam Tidak Membiarkan Tanah Kaum Muslim Dijajah

Dalam pandangan Islam, Palestina bukan sekadar persoalan kemanusiaan. Palestina adalah bagian dari negeri kaum Muslim yang telah dirampas dan diduduki.

Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup mengandalkan bantuan kemanusiaan, diplomasi, atau konferensi internasional.

Islam mewajibkan kaum Muslim membela saudaranya yang dizalimi. Allah SWT berfirman: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah...” (QS. An-Nisa: 75)

Ayat ini menunjukkan bahwa pembelaan terhadap kaum tertindas bukan sekadar persoalan belas kasihan, tetapi bagian dari tanggung jawab umat.

Namun, perjuangan tersebut membutuhkan kekuatan politik. Negeri-negeri Muslim yang jumlahnya sangat banyak dan memiliki sumber daya luar biasa seharusnya mampu memberikan tekanan nyata terhadap penjajah.

Ironisnya, dunia Islam justru terpecah menjadi puluhan negara dengan kepentingan nasional masing-masing. Perpecahan tersebut membuat kekuatan umat terfragmentasi dan mudah dipengaruhi kekuatan besar.

Persatuan Umat adalah Kunci

Karena itu, persatuan negeri-negeri Muslim menjadi kebutuhan mendesak. Umat tidak boleh tertipu dengan proyek yang menggunakan bahasa perdamaian tetapi justru mengokohkan kepentingan penjajah dan negara besar.

Begitu pula para penguasa negeri Muslim harus berhati-hati agar tidak menjadi bagian dari proyek yang mengorbankan kepentingan Palestina demi kepentingan politik atau ekonomi.

Dukungan terhadap proyek apa pun di Gaza harus diukur dengan satu pertanyaan: apakah proyek tersebut benar-benar membebaskan rakyat Palestina atau justru memperkuat kendali asing?

Islam menawarkan konsep persatuan politik umat dalam satu kepemimpinan, yaitu khilafah. Dengan persatuan tersebut, negeri-negeri Muslim tidak berdiri sendiri-sendiri ketika menghadapi agresi terhadap salah satu bagian umat.

Khilafah sebagai institusi politik Islam memiliki tanggung jawab menjaga negeri-negeri kaum Muslim, melindungi rakyat, dan menghadapi ancaman dari pihak yang memerangi umat.

Maka, perjuangan Palestina tidak boleh berhenti pada bantuan kemanusiaan dan kecaman diplomatik. Umat membutuhkan kesadaran politik bahwa akar persoalannya adalah penjajahan dan lemahnya persatuan kaum Muslim.

Palestina tidak membutuhkan “New Gaza” yang menjadikannya pasar baru bagi kekuatan asing. Palestina membutuhkan pembebasan.

Dan pembebasan tidak lahir dari ketergantungan kepada penjajah atau negara besar, tetapi dari kekuatan umat yang bersatu dan memiliki visi politik yang mandiri.

Karena itu, dakwah untuk menyadarkan umat tentang pentingnya persatuan dan perubahan sistem harus terus dilakukan. Bukan sekadar agar umat marah melihat penderitaan Palestina, tetapi agar umat memahami mengapa penderitaan itu terus terjadi dan bagaimana membangun kekuatan yang mampu menghentikannya.

Palestina adalah luka umat. Membebaskannya membutuhkan persatuan, kekuatan, dan keberanian untuk menolak segala bentuk penjajahan—termasuk penjajahan yang datang dengan wajah investasi dan pembangunan. Wallahu a'lam bishshawab.


Oleh: Ema Darmawaty 
Praktisi Pendidikan 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar