Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Doa Lintas Agama Bukan Solusi Kemarau: Ketika Bencana Dijawab dengan Kekeliruan Cara Pandang


Topswara.com -- Keliru jika menganggap doa bersama lintas agama sebagai solusi Islam dalam menghadapi kemarau panjang.

Kemarau panjang yang terjadi di berbagai wilayah telah menimbulkan dampak serius: kekeringan, kebakaran hutan, kabut asap, hingga berkurangnya kualitas air bersih akibat masuknya air laut ke sungai.
Dalam pandangan Islam, fenomena alam tidak cukup hanya dipahami sebagai peristiwa fisik. 

Setiap kejadian berada dalam kehendak Allah, tetapi manusia juga diperintahkan untuk melakukan evaluasi terhadap sebab-sebab yang melatarbelakanginya.

Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
"Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia." (QS. Ar-Rum: 41).

Kemarau memang dapat menjadi bagian dari qadha Allah. Namun, Islam tidak membenarkan manusia mengabaikan faktor-faktor kerusakan yang muncul akibat perbuatan manusia.

Kebakaran hutan misalnya. Faktor alam seperti suhu ekstrem, kekeringan, dan sambaran petir dapat menjadi penyebab. Tetapi banyak kasus kebakaran juga berkaitan dengan aktivitas manusia, baik karena kelalaian maupun kesengajaan demi kepentingan tertentu.

Karena itu, bencana tidak hanya membutuhkan doa, tetapi juga koreksi terhadap cara manusia mengelola bumi.
Persoalan lain adalah berkurangnya sumber air bersih hingga air sungai berubah menjadi payau akibat masuknya air laut. 

Fenomena ini memang berkaitan dengan berkurangnya debit air tawar saat musim kemarau. Namun, pertanyaan pentingnya adalah sejauh mana negara melakukan antisipasi dan menjamin kebutuhan rakyat.

Teknologi pengolahan air laut menjadi air layak konsumsi bukan sesuatu yang mustahil. Jika persoalan air terus berulang, maka negara perlu dievaluasi dalam menjalankan fungsi pengurusan terhadap kebutuhan masyarakat.
Dalam Islam, pemimpin bukan sekadar pembuat aturan, tetapi pengurus urusan rakyat.

Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, negara tidak cukup hadir ketika bencana terjadi. Negara harus memiliki kebijakan pencegahan, pengelolaan sumber daya, dan perlindungan terhadap masyarakat.

Doa Lintas Agama dan Persoalan Akidah

Di tengah kemarau panjang, muncul kegiatan doa bersama lintas agama. Secara sosial, kegiatan tersebut mungkin dipandang sebagai simbol persatuan. Namun, dalam perspektif Islam terdapat persoalan prinsip yang harus dikaji.

Doa dalam Islam bukan sekadar tradisi atau simbol spiritual. Doa adalah ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.

Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir: 60).

Allah juga berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5).

Maka persoalannya bukan hanya perbedaan tata cara berdoa, tetapi siapa yang menjadi tujuan doa tersebut. Islam menghormati manusia yang berbeda keyakinan, tetapi tidak mencampuradukkan ibadah dan akidah.

Bagaimana Islam Menghadapi Kemarau?

Dalam sejarah Islam, menghadapi bencana tidak pernah dilakukan hanya dengan pendekatan ritual.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, terjadi masa paceklik berat yang dikenal dengan ‘Am ar-Ramadah. Umar tidak hanya berdoa memohon hujan, tetapi juga mengambil langkah nyata: mendatangkan bantuan pangan, mengatur distribusi, dan memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi.

Inilah cara Islam memandang bencana. Doa tetap dilakukan karena manusia membutuhkan pertolongan Allah, tetapi doa harus berjalan bersama tanggung jawab, kebijakan, dan pengelolaan kehidupan yang benar.

Kemarau panjang bukan sekadar persoalan cuaca. Ia menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan petunjuk Allah dalam mengatur kehidupan.
Karena itu, solusi Islam bukan sekadar ritual tanpa perubahan, bukan pula mencampuradukkan ibadah dengan keyakinan yang berbeda. 

Islam menawarkan solusi menyeluruh: memperbaiki hubungan manusia dengan Allah, menghentikan kerusakan yang dilakukan manusia, serta menghadirkan kepemimpinan yang menjalankan amanah sesuai aturan Allah.

Sebab bencana hari ini bukan hanya akibat persoalan teknis, tetapi juga akibat cara pandang yang memisahkan kehidupan dari petunjuk Sang Pencipta.

Jalan keluar yang hakiki adalah kembali kepada penerapan Islam secara kaffah, yaitu menjadikan syariat Allah sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan manusia, termasuk pengelolaan sumber daya alam, pemenuhan kebutuhan rakyat, dan sistem pemerintahan.

Sebab hanya dengan kembali kepada aturan Allah, manusia dapat mewujudkan kehidupan yang penuh keberkahan dan terbebas dari kerusakan akibat tangan manusia sendiri.


Oleh: Hamzah Abu Shofiyah
(Pembina Majelis Taklim Sahabat Qur’an, Ketapang)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar