Topswara.com -- Bulan Maulid datang lagi. Timeline mendadak penuh shalawat, masjid ramai, lampu warna-warni menyala, dan grup WhatsApp mulai mengirim ucapan “Selamat Maulid Nabi” sejak subuh.
Ada yang bikin acara, ada yang bagi-bagi makanan, ada pula yang mendadak hafal sejarah kelahiran Nabi. Masya Allah, bagus. Minimal daripada mendadak hafal lirik lagu galau karena mantan upload foto sama pasangan barunya.
Tetapi pertanyaannya, setelah Maulid lewat, lalu apa? Apakah kecintaan kita kepada Rasulullah Saw cukup berhenti pada seremonial?
Abu Lahab saja, yang jelas-jelas kafir dan memusuhi Rasulullah Saw disebut dalam riwayat yang masyhur mendapatkan keringanan azab setiap hari Senin karena pernah bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad Saw. Lha kita yang mengaku umatnya, masak tidak senang dengan kelahiran beliau?
Masa iya setiap Maulid malah lebih sibuk debat, “Boleh enggak?” Daripada bertanya, “Sudahkah aku benar-benar mencintai Rasulullah Saw?”
Mencintai Rasulullah Saw tentu bukan sekadar senang ketika mengingat kelahiran beliau. Kecintaan itu harus berlanjut dengan meneladani beliau.
Karena kalau cuma senang Maulidnya, tetapi ketika bicara tentang sunnahnya langsung bilang, “Yang penting kan hatinya baik,”
itu seperti senang sama resep nasi goreng, tapi semua petunjuk memasaknya dibuang. Bukannya jadi nasi goreng, tapi yang jadi mungkin nasi galau.
Allah SWT berfirman, "Katakanlah (Muhammad), jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
(QS. Ali Imran: 31)
Jadi cinta itu ada buktinya. Kalau kita mencintai Rasulullah Saw, maka kita berusaha mengikuti beliau. Mengikuti ibadahnya, akhlaknya, perjuangannya, keteguhannya, kepemimpinannya dan
mengikuti cara beliau mengatur kehidupan umat.
Bukan dipilih-pilih seperti prasmanan. Ambil akhlaknya, tinggal syariatnya. Ambil kisah sedekahnya, tinggalkan sistem hukumnya. Ambil cerita kesabarannya, tetapi perjuangannya membangun masyarakat Islam dianggap tidak perlu dibahas.
Padahal Rasulullah Saw adalah uswah hasanah, teladan terbaik. Beliau bukan hanya mengajarkan shalat, puasa dan sedekah. Beliau juga mendidik masyarakat, menghadapi intimidasi, melawan kekufuran, memimpin umat, mengadili perkara, mengangkat pejabat, mengirim utusan, membuat perjanjian, memimpin pasukan, dan membangun pemerintahan di Madinah. Lengkap. Kaffah.
Jadi jangan sampai kita mengenal Rasulullah Saw hanya sebagai manusia yang lembut kepada anak-anak, tetapi lupa beliau juga pemimpin negara. Jangan hanya terharu saat mendengar kisah beliau menyayangi kucing sementara kisah perjuangan beliau menegakkan Islam justru dianggap terlalu berat untuk dibahas.
Rasulullah Saw bukan pemimpin yang dakwahnya bisa dibungkam dengan jabatan. Kaum Quraisy pernah menawarkan harta. Ditolak. Ditawarkan kedudukan. Ditolak. Ditawarkan kekuasaan. Ditolak.
Kalau sekarang mungkin ditambah tawaran mobil mewah, rumah, jabatan menteri, proyek triliunan dan endorse produk. Kira-kira kamu sebagai pengemban dakwah bagaimana imannya?
Rasulullah Saw tetap teguh. Bahkan beliau menyatakan bahwa seandainya matahari diletakkan di tangan kanan dan bulan di tangan kiri agar beliau meninggalkan dakwah, beliau tidak akan meninggalkannya. Nah, ini yang namanya integritas.
Prinsip tidak dijual. Dakwah tidak ditukar fasilitas. Kebenaran tidak ditukar jabatan.
Islam tidak dikompromikan demi tepuk tangan manusia.
Beliau juga menghadapi caci maki, pemboikotan, penyiksaan, pengusiran hingga peperangan. Tetapi tidak pernah berhenti. Kadang kita baru dikomentari, “Kena cuci otak lu, fanatik lu!” sudah mau pensiun dari dakwah.
Padahal Rasulullah Saw dihina jauh lebih dahsyat. Beliau dicaci, dilempari, diboikot dan diancam. Namun beliau tetap sabar dan yakin terhadap pertolongan Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad: 7)
Maka perjuangan membutuhkan kesabaran. Bukan baru dua hari dakwah sepi lalu berkata, “Kayaknya algoritma enggak mendukung perjuangan Islam.”
Istiqamah itu memang tidak selalu viral. Tetapi yang kita cari bukan viral. Yang kita cari adalah ridha Allah SWT. Lalu ada satu hal lagi yang sering dilupakan bahwa Rasulullah Saw juga seorang pemimpin negara.
Beliau memimpin Madinah dengan hukum Allah SWT. Tidak berdasarkan hawa nafsu, kepentingan oligarki, tekanan korporasi atau pesanan negara asing.
Beliau menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Ketika ada perempuan bangsawan Quraisy mencuri, tidak kemudian dibuat rapat khusus untuk mencari alasan meringankan hukumannya.
Rasulullah Saw menegaskan, seandainya Fatimah putrinya sendiri melakukan hal tersebut, hukuman tetap ditegakkan.
Coba bayangkan kalau keadilan hari ini seperti itu. Tidak ada hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas. Tidak ada rakyat kecil cepat diproses, pejabat besar malah sibuk menghilang sambil “Masih dalam pengobatan”.
Tidak ada jabatan diberikan karena balas jasa politik, kedekatan keluarga atau karena, “Pokoknya dia orang kita.”
Dalam Islam, amanah diberikan kepada orang yang mampu dan dapat dipercaya. Karena jabatan bukan hadiah. Bukan pula ajang balas budi. Jabatan adalah amanah.
Maka meneladani Rasulullah Saw tidak cukup hanya dengan memperbanyak shalawat saat Maulid. Shalawat tentu mulia. Kecintaan kepada beliau juga wajib. Tetapi bukti cinta itu adalah ittiba’ (mengikuti beliau). Menjalankan syariatnya dalam kehidupan pribadi.
Meneladani akhlaknya dalam keluarga. Meniru kesabarannya dalam berdakwah. Mencontoh keteguhannya dalam memperjuangkan kebenaran dan mengambil seluruh ajaran Islam yang beliau bawa sebagai pedoman kehidupan.
Bukan hanya bagian yang terasa nyaman.
Bukan hanya yang cocok dengan selera zaman. Bukan hanya yang tidak mengganggu sistem sekuler. Sebab Islam datang bukan untuk menjadi aksesori kehidupan. Islam adalah jalan hidup.
Hari ini umat Muslim di seluruh dunia begitu banyak. Negara-negara Muslim memiliki sumber daya, tentara, kekayaan dan wilayah yang luas. Tetapi ketika Gaza dibantai, Palestina menjerit, sementara para penguasa sibuk membuat berbagai pakta dan perjanjian yang tidak benar-benar membela umat, kita seharusnya bertanya.
Ke mana kepemimpinan umat?
Ketika negara-negara Muslim mampu bekerja sama untuk kepentingan tertentu, mengapa kekuatan itu tidak sungguh-sungguh digunakan untuk melindungi kaum Muslim yang dibantai?
Inilah pentingnya kita tidak hanya membaca sejarah Rasulullah Saw sebagai kisah masa lalu. Perjuangan beliau harus menjadi pelajaran untuk hari ini.
Rasulullah Saw telah menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar agama yang mengatur sajadah. Islam juga mengatur masyarakat dan negara.
Karena itu Sobat Nabila, meneladani Rasulullah Saw secara kaffah berarti tidak memisahkan agama dari kehidupan. Kalau kita benar-benar mencintai beliau, jangan berhenti pada, “Aku cinta Rasulullah.”
Lanjutkan dengan pertanyaan, “Sudahkah hidupku mengikuti ajaran Rasulullah?”
Semoga Maulid Nabi Muhammad Saw menjadi momentum untuk memperbarui kecintaan kita kepada beliau. Bukan sekadar meriah sehari, lalu setelah itu ajarannya kembali diletakkan di pinggir kehidupan. Tetapi kita meneladani akhlak beliau. Kita melanjutkan perjuangan beliau dan kita berusaha menjalankan Islam yang beliau bawa secara kaffah. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar