Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Maulid Nabi: Dari Ungkapan Cinta Menuju Kesadaran Perubahan


Topswara.com -- Setiap tahun, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. digelar dengan suka cita. Masjid dan majelis dipenuhi lantunan sholawat, takbir akbar. Bahkan peringatan tersebut juga dimeriahkan dengan pawai. 

Peringatan Maulid bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, momen ini sebagai pengingat bagaimana bentuk rasa cinta kita kepada Rasulullah yakni dengan cara meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. 

Hal tersebut disampaikan dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026 dengan tema " Momentum Bulan Maulid sebagai Bulan Peningkatan Kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassallam. Program ini dihadiri oleh Penyuluh Agama Islam KUA Tanah Abang, Muhammad Iqbal Akmaludin, S.Hum sebagai narasumber (rri.co.id/22/8/2026). 

Di tengah semaraknya peringatan Mauilid, ada pertanyaan yang patut direnungkan, apakah kecintaan kepada Rasulullah SAW telah melahirkan kesadaran untuk mengikuti risalah dan perjuangannya, atau masih berhenti pada ekspresi emosional dan ritual serta terbatas pada keteladanan akhlak? 

Pertanyaan ini sangat penting dalam mewujudkan cinta kita yang sebenarnya kepada Rasulullah SAW. Al-Qur'an memberikan ukuran yang jelas tentang kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Allah berfirman "Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS.Ali Imran:31). Ayat ini menunjukkan konsekuensi berupa ittiba' yaitu mengikuti Rasulullah SAW. 

Oleh karena itu, ittiba' tidak terbatas hanya pada meneladani akhlak Rasulullah SAW secara personal. Akhlak tentu merupakan bagian penting dari keteladanan beliau. Akan tetapi, Rasulullah SAW juga membawa risalah sekaligus pemimpin perubahan masyarakat. 

Beliau tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia beribadah secara individual, tetapi juga membawa Islam sebagai pedoman dan aturan kehidupan. 

Rasulullah SAW diutus memperbaiki masyarakat yang mengalami berbagai persoalan jahiliyah seperti kemusyrikan, ketidakadilan, penindasan, kesenjangan sosial, dan berbagai persoalan lainnya. 

Dakwah beliau kemudian mengubah cara pandang masyarakat dengan menjadikan tauhid sebagai fondasi kehidupan. Manusia diperintahkan hanya tunduk dan taat kepada Allah. 

Realita umat Islam hari ini sangat jauh dari ittiba Rasulullah SAW. Kehidupan umat Islam dilandasi sistem sekularisme yang merupakan bagian dari sistem Kapitalisme. Umat kehilangan kesadaran dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan aturan Allah. Umat menjadikan dunia sebagai orientasi kehidupan. 

Sistem Kapitalisme demi 
mempertahankan eksistensi akan terus berusaha menghalangi upaya kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem. 

Oleh karena itu, umat Islam harus tetap berjuang dalam penerapan syariat secara kaffah melalui kepemimpinan Islam yakni Khilafah, sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah di Makkah. 

Metode perjuangan Rasulullah SAW ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah): pertama, tasqif, yaitu pembinaan individu dengan pembinaan dan nilai-nilai Islam. 

Kedua, tafa'ul ma'al ummah, yaitu berinteraksi dengan masyarakat untuk membangun kesadaran terhadap persoalan umat dan pentingnya perubahan. Ketiga, istilamul bukti, yaitu penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Perubahan membutuhkan pembinaan pemikiran, kesadaran masyarakat, keteguhan prinsip, dan perjuangan terarah. Oleh karena itu, Maulid bukanlah sekadar momentum pengingat kelahiran Rasulullah SAW. 

Akan tetapi, menjadi momentum menghidupkan kembali kesadaran terhadap risalah yang beliau bawa. Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus mendorong umat untuk semakin kuat dalam menerapkan syariat secara kaffah. 

Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Maka, pertanyaan terpenting setelah peringatan Maulid bukanlah seberapa meriah acara yang kita selenggarakan, tetapi seberapa jauh kecintaan kepada Rasulullah ï·º telah mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan memperjuangkan kebaikan. 

Maulid semestinya tidak berakhir ketika lantunan shalawat selesai. Maulid harus menjadi awal dari kesadaran untuk semakin mengenal risalah Rasulullah SAW, meneladani perjuangannya, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. []


Oleh: Alfiana Prima Rahardjo, S.P.
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar