Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Gen Z Terhimpit antara Feed Estetik atau Dompet Krisis


Topswara.com -- Ketidakpastian ekonomi saat ini membuat generasi emas semakin cemas. Bahkan survey menunjukkan sekitar 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Namun di sisi lain, terdapat kontradiksi bagaimana Gen Z menyikapi rasa cemas mereka. Alih-alih berhemat, fenomena yang terjadi justru sebaliknya. 

Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja dengan kedok self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Mengaku tidak merasa aman secara finansial tapi sanggup nonton konser jutaan rupiah, liburan keluar kota demi “healing”, atau sesederhana ngopi lima puluh ribu setiap hari. 

Apakah ini sekedar ketidakmampuan Gen Z dalam mengatur keuangan dan hidup boros? Masalahnya tidak sesederhana itu, inilah yang terjadi ketika krisis tujuan hidup yang dipaksakan berdampingan dengan ketidakpastian ekonomi yang terstruktural.

Generasi ini tumbuh dengan rentetan guncangan ekonomi, pandemik yang menghantam saat Gen Z memasuki usia produktif, disusul inflasi, PHK massal, dan pasar kerja yang kian dipenuhi status kontrak dan gig ekonomi tanpa jaminan jangka panjang. 

Rumah yang bagi generasi sebelumnya adalah tonggak wajar kehidupan dewasa, kini menjadi fantasi yang nyaris mustahil untuk dijangkau dengan gaji imut mereka. 

Maka tak heran jika hampir separuh dari Gen Z merasa fondasi finansialnya rapuh karena memang secara struktural, fondasi itu memang tak kokoh dari awal.

Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan bagi Gen Z untuk apa menabung mati-matian demi tujuan yang terasa semakin jauh dan makin tidak realistis? Oleh karena itu sebagian anak muda memilih jalan yang tampak lebih rasional secara emosional, meski tidak selalu rasional secara finansial. Singkatnya, menikmati apa yang bisa dinikmati hari ini, inilah yang disebut sebagai fenomena doom spending. 

Di mana aktivitas konsumsi tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan hidup, melainkan menjadi cara baru meredakan beban hidup. Kondisi ini menjadi cerminan dari sistem yang melahirkan masalah ekonomi yang berpengaruh pada kesehatan mental dan keuangan generasi muda.

Keadaan ini diperparah oleh negara yang seharusnya bertindak sebagai penanggung jawab utama untuk menjamin kebutuhan dasar warganya justru terkesan lepas tangan. 

Perumahan terjangkau tidak tersedia secara memadai, jaminan kerja bagi pekerja informal yang nyaris tidak ada dan subsidi untuk kebutuhan dasar terus dipangkas atas nama efisiensi anggaran. 

Ketika negara mundur dari kewajibannya, yang tersisa adalah generasi muda yang dipaksa berjuang sendirian mencari jalan keluar secara individual. 

Di tengah himpitan itu, kapitalisme menawarkan pelarian melalui konsumsi implusif. Konsumsi diposisikan sebagai sarana hiburan, bahkan menempatkan materi sebagai standar kebahagian tertinggi yang mendorong manusia, termasuk Gen Z hidup hedonistik. 

Sistem ekonomi kapitalisme juga menyuburkan praktek riba seperti pinjaman online, kartu kredit, dan bunga bank sehingga menjadi jebakan bagi generasi untuk menutupi kekurangan finansial. Sayang, mereka justru terbelit oleh tumpukan utang yang mencekik.

Tekanan finansial yang dialami Gen Z tidak sekadar masalah teknis, tetapi lahir dari paradigma kehidupan kapitalisme yang serba materialistis. Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. 

Tanpa arah yang jelas, kekosongan itu akan dengan mudah diisi oleh budaya sekuler-liberal yang menawarkan kenikmatan instan, yang hanya mengejar kenikmatan dunia semata. Maka untuk keluar dari belenggu ini tidak ada jalan lain kecuali dengan mengubah paradigma hidup menjadi paradigma yang benar.

Islam telah memberikan paradigma yang benar kepada manusia terkait hidup ini. Allah Taala menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah dan menggapai rida-Nya. Ini sebagaimana firman-Nya, ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (TQS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan terbukti telah menimbulkan kerusakan di berbagai lini, tidak terkecuali generasi hari ini. Gen Z menjadi sasaran empuk eksploitasi kapitalisme. Gempuran pemikiran dan gaya hidup telah membuat generasi jauh dari Islam dan terseret arus hedonisme yang menciptakan tekanan hidup.

Selain itu, negara harus hadir untuk menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA dan memastikan lapangan kerja layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendirian. 

Dalam negara khilafah, pengelolaan SDA dilakukan sesuai prinsip syariat, hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan publik yang berkualitas, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, serta jaminan sosial yang memadai. Pelayanan seperti ini akan menjamin publik tidak merasakan tekanan finansial yang signifikan.

Demikianlah, sistem Islam telah memberikan panduan hidup yang jelas, menegaskan tujuan hidup manusia secara jelas, menempatkan negara sebagai pengurus utama kesejahteraan rakyat, memastikan keadilan dalam hubungan kerja, serta mengelola SDA untuk kepentingan umum, sehingga rakyat sejahtera terjauhkan dari tekanan mental dan tekanan finansial. 

”Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al-Maidah [5]:50)


Oleh: Aksara 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar