Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Tubuh Sehat, Kita Lupa Itu Adalah Mukjizat


Topswara.com -- Lima hari menemani Mama mertua menjalani perawatan di rumah sakit memberi aku pelajaran yang tidak pernah kudapatkan dari buku, seminar kesehatan, apalagi media sosial. 

Selama ini aku mengira sehat itu biasa saja. Tinggal bangun pagi, tarik napas, jalan ke dapur, bikin kopi, lalu sibuk dengan rutinitas. 

Baru ketika melihat orang yang kita sayangi berjuang untuk sekadar menelan satu sendok makanan atau menarik napas tanpa sesak, aku sadar ternyata sehat bukan sesuatu yang biasa. Sehat adalah mukjizat yang Allah hadiahkan setiap hari. Hanya saja karena terlalu sering kita menerimanya, kita lupa mengucapkan syukur.

Selama lima hari itu rutinitasku sederhana. Menemani Mama mertua, menyuapi makan, membantu minum, ngobrol supaya beliau tidak bosan, sesekali bercanda, lalu ikut mendengarkan penjelasan dokter dan perawat.

Bonusnya? Aku mendadak kuliah kilat ilmu kesehatan. Ternyata rumah sakit itu seperti kampus. Bedanya, kalau mahasiswa deg-degan menunggu nilai ujian, keluarga pasien deg-degan menunggu hasil laboratorium.

"Hb berapa?"
"Saturasi berapa?"
"Tekanan darah naik apa turun?"

Lima hari saja rasanya aku sudah seperti mahasiswa kedokteran semester nol. Bedanya, tetap tidak boleh ikut visite dokter.

Dulu kalau mendengar istilah Hb, pikiranku masih santai. Sekarang aku tahu Hb atau hemoglobin adalah "ojek online"-nya oksigen. Tugasnya mengantar oksigen ke seluruh tubuh. 

Kalau Hb turun, pengantar oksigennya berkurang. Akibatnya badan bisa lemas, pusing, wajah pucat, bahkan pada kondisi tertentu diperlukan transfusi darah.

Nah, di sinilah aku belajar sesuatu yang menarik. Darah itu sama-sama merah. Bentuknya sama-sama cair. Tetapi tidak semua darah boleh masuk ke tubuh semua orang. 

Ada golongan darah, ada rhesus, ada proses pencocokan. Bahkan setelah cocok pun, tenaga kesehatan tetap mengawasi karena masih ada kemungkinan muncul reaksi seperti demam, menggigil, atau gatal.

Aku langsung berpikir, ternyata Allah menciptakan sesuatu yang kelihatannya sederhana, tetapi detailnya luar biasa rumit.

Belum selesai rasa takjubku soal darah, datang lagi pelajaran berikutnya. Saturasi oksigen. Selama ini siapa yang bangun tidur lalu bertanya, "Hari ini saturasiku berapa?"

Hampir tidak ada. Kita baru panik ketika angka itu turun. Padahal selama puluhan tahun paru-paru bekerja tanpa pernah mogok kerja. Udara masuk, oksigen diserap, karbon dioksida dibuang. Semuanya berlangsung otomatis.
Tidak pernah sekalipun paru-paru berkata, "Maaf ya, hari ini aku cuti."

Coba kalau organ tubuh punya grup WhatsApp. Jantung izin sehari. Paru-paru minta work from home. Ginjal mengajukan cuti tahunan. Selesai sudah riwayat manusia.

Lucunya, selama sehat kita jarang berterima kasih kepada organ-organ yang bekerja tanpa henti itu. Padahal jantung berdetak sekitar seratus ribu kali setiap hari.

Paru-paru bernapas sekitar dua puluh ribu kali sehari. Ginjal menyaring puluhan liter darah. Hati menetralisir racun. Otak mengendalikan miliaran sinyal setiap detik. 

Tidak pernah meminta kenaikan gaji. Tidak pernah demonstrasi. Tidak pernah mogok. Semuanya bekerja dalam harmoni yang luar biasa.

Lalu soal air. Dulu aku mengira minum ya tinggal minum. Ternyata tidak sesederhana itu. Kalau tubuh kekurangan cairan, terjadilah dehidrasi. Tekanan darah bisa turun, tubuh lemas, fungsi organ terganggu.

Kalau dalam kondisi tertentu cairan justru berlebihan, tubuh juga bisa bermasalah karena keseimbangan elektrolit terganggu dan dapat memicu pembengkakan.

Masyaallah, ternyata yang selama ini kita anggap sepele adalah pekerjaan besar yang Allah atur dengan sangat presisi.

Di rumah sakit aku justru melihat kebesaran Allah dengan lebih jelas. Mukjizat ternyata tidak selalu berupa laut yang terbelah atau tongkat yang berubah menjadi ular.

Mukjizat juga hadir dalam bentuk yang sangat sunyi. Napas yang tetap lancar. Jantung yang tetap berdetak. Ginjal yang tetap menyaring darah. Luka yang perlahan menutup. Sel yang terus beregenerasi. Tubuh yang bekerja siang dan malam tanpa pernah kita sadari.

Ironisnya, manusia sering meminta ditunjukkan mukjizat agar beriman. Padahal setiap detik ia sedang hidup di tengah jutaan mukjizat biologis yang tidak mampu ditiru oleh teknologi secanggih apa pun.

Allah telah menjaga tubuh kita selama puluhan tahun tanpa mengirim tagihan. Udara kita hirup gratis. Jantung terus berdetak gratis. Paru-paru terus bekerja gratis. 

Hanya air saja yang kita minum saja harus beli. Karena sumbernya sudah dikapling asing. Tetapi rasa syukur kita? Suka lupa.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa manusia diciptakan bukan sekadar untuk menikmati kehidupan dunia atau mengejar kebahagiaan materi. Tujuan hidup manusia adalah meraih ridha Allah dengan mengikat seluruh aktivitasnya kepada aturan-Nya. 

Karena itu, syukur bukan berhenti pada ucapan Alhamdulillah, tetapi diwujudkan dalam ketaatan kepada seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Maka, jika hari ini kita masih bisa bernapas tanpa bantuan oksigen, berjalan tanpa kursi roda, makan tanpa harus disuapi, dan tidur tanpa suara alarm monitor rumah sakit, jangan anggap itu hal biasa. Itu adalah mukjizat yang sedang Allah titipkan kepada kita.

Maka bersyukurlah. Bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hidup yang taat kepada Allah. Sebab nikmat terbesar bukan sekadar tubuh yang sehat, melainkan kesempatan menggunakan tubuh yang sehat itu untuk beribadah, berbuat kebaikan, dan menggapai ridha-Nya sebelum Allah mengambil kembali seluruh nikmat tersebut. Barakallahu fiikum. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar