Topswara.com -- Tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah hanya kepada Allah Taala, sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur'an Surah Adz-Dzariyat ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku".
Ibadah ini mencakup seluruh ketaatan, cinta, dan kepatuhan dalam hidup. Secara garis besar ibadah ini dibagi dua yaitu : ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.
1. Ibadah Mahdhah (Murni)
Ibadah mahdhah adalah ibadah yang langsung secara vertikal berhubungan antara seorang hamba dengan Allah SWT (habluminallah). Bentuk, rukun, syarat, waktu, dan tata caranya sudah ditetapkan secara paten berdasarkan dalil Al-Qur'an dan Sunnah, serta tidak boleh diubah atau dimodifikasi oleh akal manusia.
Contoh Ibadah Mahdhah: Shalat (wajib maupun sunnah). Puasa (Ramadhan maupun sunnah). Zakat. Haji dan Umrah. Wudhu dan Tayamum (sebagai syarat sah ibadah)
2. Ibadah Ghairu Mahdhah (Tidak Murni / Umum)
Ibadah ghairu mahdhah adalah segala bentuk amal kebaikan atau aktivitas mubah (boleh) yang berhubungan dengan sesama manusia (habluminannas) atau alam sekitar, yang berubah bernilai ibadah di sisi Allah apabila diniatkan untuk mencari ridha-Nya dan dikerjakan dengan cara yang baik.
Mengikuti Sunnah Rasul dan Ikhlas
Agar ibadah kita diterima disisi Allah Ta'ala maka wajib mengikuti sunnah Rasulullah saw dan ikhlas karena AllahTaala. Hal ini ditegaskan langsung oleh Allah swt dalam Al-Quran Surat Al-Kahfi ayat 110 :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya,
( فمن كان يرجو لقاء ربه ) أي : ثوابه وجزاءه الصالح ، ( فليعمل عملا صالحا ) ، ما كان موافقا لشرع الله( ولا يشرك بعبادة ربه أحدا ) وهو الذي يراد به وجه الله وحده لا شريك له ، وهذان ركنا العمل المتقبل . لا بد أن يكون خالصا لله ، صوابا على شريعة رسول الله صلى الله عليه وسلم . وقد روى ابن أبي حاتم من حديث معمر”
“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah yakni mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah)
Ayat ini nyata menjelaskan kewajiban ittiba’ atau mengikuti kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam hadis shahih berikut ini juga ditegaskan,
عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak.” (HR Muslim no. 171)
Hadis ini nyata-nyata mengharamkan beribadah menyalahi sunnah Rasul. Jadi kita beramal shalih atau ibadah wajib mengikuti sunnah Rasul bukan mengikuti tradisi nenek moyang. Suatu ibadah tiada landasan syarak itu namanya bid’ah yakni membuat syariat baru dalam beragama.
Ada kaedah fikih yang cukup ma’ruf di kalangan para ulama,
الأصل في العبادات التحريم
“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”
Dengan kaedah di atas tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah kecuali jika ada dalil dari syari’at yang menunjukkan ibadah tersebut diperintahkan. Sehingga tidak boleh bagi kita membuat-buat suatu ibadah baru dengan maksud beribadah pada Allah dengannya.
Di antara dalil kaedah adalah firman Allah Ta’ala,
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuraa: 21).
Dalam kaifah fikih yang lain juga ditegaskan ,:
والأصل في العبادة أنها إذا لم تطلب لم تصح “
Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, hal. 60). Atas pertimbangan tersebut, ulama mengharamkan shalat Raghaib di awal Jumat bulan Rajab, shalat nishfu Sya’ban, shalat Asyura’ dan shalat kafarat di akhir bulan Ramadhan, sebab shalat-shalat tersebut tidak memiliki dasar hadits yang kuat.
Dalam kitab I'anatut Tholibiin ditegaskan bahwa:
قال المؤلف في إرشاد العباد ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها اه
“Sang pengarang (syekh Zainuddin al-Malibari) berkata dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, termasuk bid’ah yang tercela, pelakunya berdosa dan wajib bagi pemerintah mencegahnya, adalah shalat Raghaib, 12 Rakaat di antara maghrib dan Isya’ di malam Jumat pertama bulan Rajab, shalat nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, shalat di akhir Jumat bulan Ramadhan sebanyak 17 rakaat dengan niat mengganti shalat lima waktu yang ditinggalkan, shalat hari Asyura sebanyak 4 rakaat atau lebih dan shalat ushbu’. Adapun hadits-hadits shalat tersebut adalah palsu dan batal, jangan terbujuk oleh orang yang menyebutkannya.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 270).
Jadi ibadah mahdhah itu wajib ittiba' Rasulullah saw. Tidak boleh kita membuat ibadah baru !
Ikhlas Karena Allah
Apapun amal ibadahnya harus ikhlas karena Allah Ta’ala, semata-mata mengharap ridha Allah Ta’ala. Berarti kalau seseorang beribadah bukan karena Allah swt jelas ibadahnya tidak diterima Allah SWT.
Apalagi ibadah berbentuk doa dan isti’anah kepada makhluk ini justru menjadi syirik besar. Bahkan syirik akbar ini dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam alias murtad.
Seperti berdoa minta bantuan dukun atau ‘orang pintar’ tentang sesuatu hal yang semestinya hanya hak Allah, seperti minta diluaskan rizkinya, minta hujan, minta penglaris, dapat menang pemilu dan hajat lainnya. Doa seperti ini justru menjerumuskan dalam lembah kemusyrikan.
Kemudian ibadah itu dikatakan ikhlas harus lepas dari syirik ashghar atau syirik kecil yaitu riya’ dan sum’ah.
Riya’ itu bahasa arab yang berasal dari kata ‘ra’a’ yang artinya melihat. Jadi kalau kita beribadah diperlihatkan-lihatkan kepada orang lain dengan tujuan agar mendapat pujian, maka ini jelas kontra ikhlas.
Beramal dengan ‘sum’ah’ juga tanda tak ikhlas karena Allah Ta’ala. Sum’ah itu bahasa arab dari kata ‘sami’a’ artinya mendengar. Jadi kalau kita beramal ibadah diperdengarkan-dengarkan orang lain dengan niat agar mendapat pujian apresiasi atau karena yang lain berarti amalnya tidak ikhlas karena Allah.
Contoh sum’ah seperti orang baca Al-Qur’an dengan suara keras agar didengar orang lain dengan tujuan mendapat pujian.
Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiqNya kepada kita sehingga kita istiqamah untuk beribadah hanya kepada-Nya. Aamiin.
Wallahu a'lam bishawab.
Oleh: Abdul Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

0 Komentar