Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gen Z Terhimpit Berbagai Persoalan: Begini Pandangan Islam


Topswara.com -- Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.

Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, sampai berburu tiket konser. 

Hal seperti itu kini menjadi hal yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan (kompas.com, 12/8/2026).

Jika kita melihat Gen Z hari ini, mereka seolah terjebak dalam berbagai macam persoalan kehidupan. Misalnya masalah tekanan ekonomi, mereka harus bekerja ditengah gaji yang minim. Mereka harus membiayai hidup orang tuanya, harus membiayai dirinya sendiri ditengah kehidupan yang serba sulit hari ini.

Tapi negara seperti lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri. Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup Sekuler Liberal yang menjadikan self reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi" pelarian. 

Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.

Inilah realitas kehidupan dalam sistem kapitalisme. Sistem yang berasaskan sekulerisme ini menjauhkan aturan agama dari kehidupan, sehingga halal dan haram sudah tidak lagi diperhatikan. Tujuan hidup hanya untuk sekedar mencari kebahagiaan materi. Menjadikan generasi muda seperti Gen Z kehilangan arah dan hanya ingin bersenang-senang.

Berbeda halnya dengan Islam, Islam menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri.

Islam juga menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme kapitalisme dan turunannya. Media dalam khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah. 

Allah Subhanahu wata'ala berfirman: 
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." 
(QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dari ayat ini sudah jelas bahwa penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk bersenang-senang didunia tanpa aturan. Seorang muslim apapun yang dia lakukan dalam kehidupannya haruslah sesuai dengan perintah dan menjauhi larangan Allah, itulah makna beribadah. 

Visi hidup tertinggi nya adalah untuk meraih keridhaan Allah semata yang tidak ada bandingannya dengan apapun termasuk kesenangan duniawi. Maka dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. []


Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis lepas)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar