Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Krisis Gen Z: Ketika Kebahagiaan Diukur dengan Materi


Topswara.com -- Membahas gen Z memang tidak ada habisnya. Generasi yang sering disebut generasi paling dekat dengan teknologi. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, dan berbagai kemudahan digital. Namun, dibalik kemudahan itu, tersimpan persoalan yang tidak sederhana. 

Banyak anak muda yang tengah menghadapi tekanan ekonomi, tuntutan hidup, dan kecemasan terhadap masa depan. Tekanan ekonomi menjadi persoalan nyata. Hasil survei Deloitte mengungkap bahwa Generasi Z memiliki kekhawatiran utama terkait biaya hidup (53%), yang mencerminkan tingginya biaya kebutuhan dasar (mendeley.com/2024). 

Biaya kebutuhan hidup yang terus meningkat, persaingan mendapatkan pekerjaan, serta ketidakpastian masa depan membuat sebagian generasi muda merasa harus berjuang lebih keras untuk memperoleh kehidupan yang layak. Di sisi lain, pendapatan dan kesempatan kerja tidak selalu tumbuh sebanding dengan kebutuhan hidup.

Ironisnya, di tengah tekanan tersebut, budaya konsumtif justru semakin kuat. Istilah seperti self-reward, healing, dan lifestyle menjadi bagian dari keseharian. Membeli barang yang diinginkan, makan di tempat tertentu, bepergian, atau mengikuti tren media sosial sering dianggap sebagai cara untuk menghibur diri setelah menghadapi tekanan. 

Tidak semuanya tentu salah. Manusia memang membutuhkan rekreasi dan penghargaan terhadap diri sendiri. Persoalannya muncul ketika konsumsi dijadikan ukuran utama kebahagiaan dan pelarian dari persoalan hidup.

Media sosial memperkuat kondisi tersebut. Setiap hari generasi muda disuguhi kehidupan orang lain yang tampak sempurna: barang baru, perjalanan wisata, kuliner, penampilan, hingga berbagai pencapaian. Dari sinilah muncul fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari tren yang sedang diikuti orang lain. 

Akhirnya, seseorang dapat terdorong membeli bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena ingin diterima, tidak dianggap ketinggalan, atau sekadar mengejar kesenangan sesaat.

Persoalan ini tidak berhenti pada ekonomi dan gaya hidup. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu krisis tujuan hidup. Ketika keberhasilan hanya diukur dari uang, pekerjaan, popularitas, pengalaman, dan kepemilikan barang, manusia akan mudah merasa tidak pernah cukup. 

Setelah mendapatkan satu pencapaian, muncul keinginan berikutnya. Setelah memiliki satu barang, muncul tren baru yang ingin dikejar. Kebahagiaan akhirnya bergantung pada sesuatu yang terus berubah.

Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tujuan hidup yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mengejar kesenangan dunia. Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Ayat tersebut memberikan paradigma bahwa kehidupan bukanlah perjalanan tanpa arah. 

Kekayaan, pekerjaan, pendidikan, teknologi, bahkan rekreasi seharusnya ditempatkan sebagai sarana untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan ketentuan Allah, bukan sebagai tujuan akhir.

Karena itu, persoalan Gen Z tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengajarkan cara mengatur keuangan atau mengurangi belanja impulsif. Generasi muda membutuhkan sistem kehidupan yang memberikan jaminan kebutuhan dasar sekaligus membentuk kepribadian dan orientasi hidup yang benar. Di sinilah Islam menawarkan pandangan yang menyeluruh.

Dalam konsep pemerintahan Islam, negara memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat. Pengelolaan sumber daya alam diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat, sementara kebutuhan dasar rakyat menjadi perhatian negara. 

Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak. Dengan demikian, persoalan ekonomi tidak semata-mata dibebankan kepada individu.

Pada saat yang sama, Islam tidak membiarkan masyarakat dibentuk oleh budaya konsumtif tanpa batas. Pendidikan dan media memiliki peran penting dalam membangun pola pikir yang sehat, memperkuat ketakwaan, serta mengarahkan generasi muda kepada aktivitas yang produktif dan bermanfaat. 

Teknologi seharusnya menjadi sarana membangun peradaban, bukan sekadar mesin yang terus mendorong manusia untuk membeli dan membandingkan diri dengan orang lain.

Gen Z membutuhkan lebih dari sekadar pekerjaan dan pendapatan. Mereka membutuhkan visi tentang kehidupan. Mereka perlu memahami bahwa harga diri tidak ditentukan oleh merek pakaian, jumlah pengikut di media sosial, tempat yang dikunjungi, atau barang yang dimiliki. 

Kemuliaan manusia terletak pada ketakwaannya kepada Allah dan kontribusinya dalam menghadirkan kebaikan.

Maka, menghadapi persoalan Gen Z tidak cukup dengan menyalahkan generasi muda karena dianggap konsumtif atau terlalu mengikuti tren. Kita perlu melihat sistem dan budaya yang membentuk pilihan-pilihan mereka. 

Tekanan ekonomi perlu dijawab dengan kebijakan yang menjamin kesejahteraan, sementara krisis makna perlu dijawab dengan pendidikan berbasis akidah dan pemahaman Islam.

Pada akhirnya, generasi muda tidak seharusnya hanya dipersiapkan menjadi konsumen yang mengikuti arus zaman. Mereka harus dibentuk menjadi generasi yang memiliki ilmu, kepribadian Islam, kepedulian terhadap masyarakat, dan visi membangun peradaban. 

Ketika kebutuhan duniawi diperhatikan dan tujuan akhirat menjadi orientasi, Gen Z tidak lagi sekadar bertahan menghadapi kehidupan, tetapi dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki arah, keteguhan, dan kontribusi nyata bagi umat. []


Oleh: Alfiana Prima Rahardjo, S.P.
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar