Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gen Z Krisis Tujuan Hidup


Topswara.com -- Ada hal yang unik kalau melihat kehidupan Gen Z hari ini. Di media sosial, banyak yang mengeluh soal harga hidup yang semakin mahal. Gaji segini-segini saja, cari kerja susah, nabung susah, beli rumah apalagi. Tetapi di saat yang sama, istilah self-reward dan healing juga seperti sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup.

Baru terima gaji, ingin makan enak. Lagi stres, ingin belanja. Capek kerja, ingin healing. Ada promo, rasanya sayang kalau dilewatkan. Kalau dilihat sekilas, memang gampang untuk bilang, “Ya pantas saja susah nabung, uangnya dipakai terus buat senang-senang.” Tetapi setelah dipikir-pikir, apakah sesederhana itu?

Di tengah kondisi ekonomi dan kebutuhan hidup yang terus menjadi pertimbangan, Gen Z menghadapi dilema dalam mengelola gajinya, apakah uang yang diperoleh harus sepenuhnya disimpan untuk masa depan atau sebagian digunakan untuk menikmati hidup saat ini.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa bagi sebagian anak muda, persoalan keuangan bukan hanya tentang menabung atau berhemat, tetapi juga tentang mencari ruang untuk menikmati hidup di tengah ketidakpastian masa depan.
(Kompas.com, 12 Agustus 2026)

Fakta ini justru menunjukkan satu hal, ada generasi yang sedang capek. Mereka capek memikirkan uang, tetapi juga capek kalau hidup terus-terusan hanya dipakai untuk memikirkan uang. 

Akhirnya, ketika ada kesempatan sedikit untuk menikmati hidup, ya diambil. Bukan karena semuanya kaya raya dan tidak punya masalah keuangan. Justru mungkin karena hidup terasa terlalu berat kalau tidak sesekali mencari jeda.

Masalahnya, jeda itu sekarang hampir selalu berbentuk konsumsi. Kalau mau bahagia, beli sesuatu. Kalau stres, pergi ke suatu tempat. Kalau jenuh, cari hiburan. Kalau berhasil melakukan sesuatu, kasih hadiah untuk diri sendiri. Lama-lama kita seperti diajari bahwa rasa senang harus selalu punya harga.

Dan persoalannya lebih rumit, Gen Z sebenarnya hidup di zaman yang serba mahal. Mau hidup sederhana pun tetap butuh uang. Harga makanan naik. Tempat tinggal mahal. Pendidikan tidak murah. Cari pekerjaan juga tidak selalu gampang. Jadi ketika ada yang bilang, “Tinggal hemat saja,” kadang nasihat itu terlalu mudah keluar dari mulut orang yang tidak sedang merasakan tekanannya.

Sebab masalahnya bukan hanya satu-dua kali membeli kopi atau pergi healing. Ada sistem ekonomi yang memang membuat hidup rakyat semakin berat. Dalam kapitalisme, semua orang dipaksa terus berkompetisi. Harus lebih pintar, lebih produktif, lebih cepat, lebih kreatif. Kalau tertinggal, ya dianggap salah sendiri.

Negara pun sering kali tidak benar-benar hadir untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat. Akhirnya semua kembali kepada kemampuan masing-masing. Punya uang, hidup lebih mudah. Tidak punya uang, harus berjuang lebih keras.

Yang ironis, ketika hidup sudah dibuat melelahkan seperti itu, sistem yang sama juga menawarkan pelarian. Iklan ada di mana-mana. Tren baru muncul setiap hari. Media sosial terus membuat kita melihat kehidupan orang lain yang kelihatannya jauh lebih menyenangkan.

Hari ini kita sebenarnya tidak merasa butuh apa-apa. Lima menit membuka media sosial, tiba-tiba kita merasa hidup kita membosankan.

Orang lain sedang liburan, kita jadi ingin liburan. Orang lain beli barang baru, kita mulai merasa barang kita ketinggalan zaman. Orang lain datang ke tempat yang sedang viral, kita takut dianggap kurang update kalau tidak ikut. Begitulah FOMO bekerja. Bukan dengan memaksa, tetapi dengan membuat kita merasa kurang.

Dan mungkin itu sebabnya Gen Z seperti terjebak. Ekonomi menekan dari satu sisi, sementara budaya hedonis menarik dari sisi lain. Disuruh hemat, tetapi setiap hari dicekoki keinginan baru. 

Disuruh menabung, tetapi masa depan sendiri terasa tidak pasti. Disuruh kerja keras, tetapi setelah bekerja keras pun belum tentu hidup langsung aman.
Lalu pertanyaannya, sampai kapan?

Sebenarnya ini ada persoalan yang bahkan lebih besar dari ekonomi dan gaya hidup. Yaitu soal tujuan hidup. Hari ini anak muda ditanya mau kuliah di mana, mau kerja apa, mau punya rumah kapan, mau sukses di usia berapa. Tetapi jarang sekali ada pertanyaan yang lebih mendasar, sebenarnya kamu hidup untuk apa? Mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru dari sini semuanya bermula.

Jika manusia tidak mengetahui tujuan hidupnya, wajar kalau akhirnya dia menjadikan apa pun sebagai tujuan. Uang dikejar. Kesenangan dikejar. Popularitas dikejar. Barang dikejar. Semua terasa penting karena kita berharap salah satunya bisa membuat kita benar-benar bahagia.

Islam sebenarnya sudah memberikan jawaban yang sangat jelas tentang untuk apa manusia hidup. Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

Artinya, hidup ini memang bukan sekadar tentang mencari kesenangan sebanyak-banyaknya. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup. Islam tidak mengajarkan umatnya hidup sengsara. Tetapi Islam tidak menjadikan kesenangan sebagai tujuan utama.

Dalam Islam, negara punya tanggung jawab terhadap rakyat. Dalam konsep khilafah, kebutuhan dasar rakyat menjadi urusan yang harus diperhatikan negara. Sumber daya alam dikelola untuk kemaslahatan rakyat, dan negara memastikan adanya kondisi yang memungkinkan rakyat memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Termasuk menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat menjalankan kewajiban menafkahi keluarganya.

Jadi rakyat tidak dibiarkan sendirian menghadapi hidup. Begitu juga dengan generasi muda. Mereka tidak dibiarkan tumbuh dalam lingkungan yang setiap hari mengajarkan hedonisme. Islam menjaga masyarakat dari pemikiran-pemikiran yang merusak, termasuk sekularisme dan kapitalisme beserta gaya hidup yang lahir darinya. Media pun seharusnya bukan sekadar tempat memasarkan kesenangan, tetapi menjadi sarana edukasi dan membangun ketakwaan.

Pada akhirnya, Gen Z membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar self-reward. Mereka butuh kehidupan yang membuat mereka merasa aman. Mereka butuh sistem yang tidak melempar seluruh beban hidup ke pundak individu. Dan yang paling penting, mereka butuh tujuan hidup.

Sebab manusia yang punya tujuan tidak akan mudah kehilangan arah. Mungkin hari ini Gen Z memang sedang terhimpit. Terhimpit oleh ekonomi yang berat, oleh budaya yang terus menyuruh mereka mencari kesenangan, dan oleh kehidupan yang menawarkan banyak pilihan tetapi sedikit jawaban tentang ke mana manusia sebenarnya harus berjalan.

Maka persoalannya bukan sekadar, “Kenapa Gen Z boros?” Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan adalah, kenapa mereka hidup dalam sistem yang membuat mereka begitu tertekan, lalu menawarkan belanja dan kesenangan sebagai cara untuk bertahan? Dan mungkin, selama pertanyaan itu tidak dijawab sampai ke akarnya, Gen Z akan terus disuruh memperbaiki diri, sementara sistem yang menghimpit mereka tetap dibiarkan berdiri.

Wallahualam bishawab.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar