Topswara.com -- Dilansir dari Databoks, 6/4/2026, Pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp769,09 triliun.
Hal ini berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 118 Tahun 2025. Anggaran ini akan dialokasikan melalui belanja pusat sebesar Rp470,46 triliun, transfer ke daerah (TKD) Rp264,62 triliun, dah pembiayaan Rp34 triliun.
Namun setelah dirinci ternyata anggaran pendidikan paling banyak disedot oleh program populis Makan Bergizi Gratis (MBG) yaitu sebesar Rp223,56 triliun atau 29% dari total anggaran. Anggaran pendidikan begitu melimpah yaitu sekitar 20% dari total APBN, namun pendidikan kita hari ini masih banyak menimbulkan tanda tanya.
Akademisi Dr.Aminatun, Ir., M.Si., dalam Bincang Hangat Tokoh Muslimah yang dilakukan secara Hibrida pada Jumat,10/7/2026 lalu menyampaikan bahwa besarnya anggaran, tetap saja banyak problem pendidikan di Indonesia saat ini belum teratasi (muslimahnews.net, 21/7/2026).
Masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia begitu banyak, mulai dari ketimpangan akses, kualitas guru yang belum merata, perubahan kurikulum yang terus terjadi, bullying, hingga kasus kekerasan fisik dan seksual di lingkungan sekolah. Pendidikan hari ini adalah barang mahal yang hanya bisa dirasakan oleh orang mampu membayar.
Kalau pun ada program sekolah gratis, sifatnya terbatas. Sekolah gratis hanya pemanis karena pada faktanya tidak benar-benar gratis.
Apalagi untuk mencicipi bangku kuliah, rasanya untuk saat ini menjadi sesuatu yang amat sulit. Banyak generasi yang usia kuliah gagal atau terpaksa mengubur mimpinya untuk mengakses pendidikan tinggi.
Semua karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mendukung, sementara biaya kuliah menukik tinggi. Angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi masih berkisar antara 32-33%.
Anggaran pendidikan yang melimpah justru banyak dialirkan untuk belanja konsumtif seperti gaji tunjangan, operasional rutin, dan MBG. Sementara belanja produktif seperti pembangunan laboratorium, peningkatan kompetensi guru, riset, inovasi, teknologi, dan lainnya masih terbatas.
Bahkan anggaran perpustakaan nasional (Perpusnas) di tahun 2026 dipotong hampir setengah dari anggaran tahun lalu. Akibatnya pengiriman bantuan buku ke berbagai daerah di Indonesia terganggu.
Inilah konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme sekuler yang menempatkan negara sebagai regulator bukan pengurus urusan rakyat. Pendidikan hari ini menjadi komoditas bisnis. Negara justru melayani kepentingan asing dan swasta atau oligarki.
Sistem Islam Jamin Pendidikan Berkualitas
Berbeda dengan sistem kapitalisme, Islam sebagai aturan hidup memiliki aturan yang akan mengatur kehidupan manusia agar selamat dunia akhirat. Islam memandang pendidikan sebagai hak dasar semua orang dan fondasi utama pembangunan manusia dan peradaban. Bahkan wahyu yang pertama kali turun adalah perintah membaca.
Islam sangat menghargai ilmu dan orang-orang yang berilmu. Allah berfirman dalam QS Al-Mujadilah ayat 11:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kalian beberapa derajat."
Untuk itu Islam mewajibkan setiap orang untuk menuntut sampai kapan pun dan di mana pun. Bahkan ketika ada perintah jihad, Rasulullah tidak mengizinkan semua orang ikut berjihad, karena harus ada sebagian yang tinggal untuk memperdalam ilmu dan mengajarkan kepada orang-orang yang pergi berjihad ketika mereka kembali.
Karena pentingnya ilmu maka negara akan mengupayakan terwujudnya pendidikan yang berkualitas. Negara akan membangun semua sarana dan prasarana yang dapat menunjang pendidikan.
Menghargai guru dengan gaji yang layak sehingga bisa memberikan dedikasi terbaiknya. Kurikulum berasaskan akidah Islam. Semua berlaku sama untuk semua wilayah, sehingga tidak akan ada ketimpangan. Semua pembiayaan kebutuhan pendidikan ditopang penuh oleh anggaran dari Baitul mal.
Sejarah mencatat nama-nama besar ilmuwan dunia Islam dengan tinta emas. Pendidikan berkualitas akan melahirkan generasi berkualitas pula. Generasi berkualitas inilah yang akan menjadi membangun peradaban gemilang.[]
Oleh: Yuli Emamarini
(Muslimah Peduli Generasi)

0 Komentar