Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tidak Ada Ketaatan pada Kemaksiatan


Topswara.com -- Kasus dugaan seorang istri yang disebut-sebut ikut memfasilitasi kemaksiatan suaminya membuat banyak orang geram. Kasus tersebut viral berkat video amatir yang menunjukkan warga menggeruduk rumah seorang ASN guru perempuan karena dugaan kasus pelecehan seksual terhadap seorang anak yatim-piatu yang masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar (SD).

"Heboh di Tanjungbalai guru PNS diduga bawa murid laki-laki kepada suaminya untuk disodomi," tulis narasi video viral itu. (detik.com, 23/7/2026)

Astaghfirullah, kali ini saya tidak sedang membahas dugaan kasus sodominya tetapi lebih pada ketaatan seorang istri kepada suaminya. Ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengutuk pelaku, yaitu di mana seharusnya cinta kita berlabuh?

Islam tidak pernah mengajarkan cinta yang membutakan akal dan mematikan iman. Cinta tertinggi hanya milik Allah dan Rasul-Nya. Ketika cinta kepada manusia mengalahkan cinta kepada Allah, di situlah hati mulai kehilangan kompas.

Hakikat cinta adalah keinginan untuk taat. Kepada siapa kita paling mencintai, kepada dialah kita paling ingin mengikuti. Jika cinta diarahkan kepada Allah, lahirlah ketaatan kepada syariat. Namun jika cinta kepada manusia melampaui batas, seseorang bisa rela melakukan apa saja, bahkan yang diharamkan.

Inilah sebabnya Islam memberi batas yang sangat tegas. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang makruf" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini adalah pagar yang kokoh. Tidak boleh ditembus oleh siapa pun.
Suami memang pemimpin keluarga. Istri diperintahkan taat kepada suami. Namun ketaatan itu bukan tanpa syarat. Ketaatan hanya berlaku dalam perkara yang baik dan diridhai Allah.

Jika seorang suami memerintahkan kebohongan, menutupi kejahatan, menyakiti orang lain, mengambil hak orang, apalagi membantu terjadinya kemaksiatan, maka seorang istri wajib menolak, meskipun penolakannya berisiko dimarahi, dicaci, bahkan ditinggalkan.

Mengapa? Karena ridha Allah jauh lebih berharga daripada ridha manusia.

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini menerangkan bahwa tidak boleh menaati siapa pun apabila perintahnya mengandung kemaksiatan kepada Allah. Tidak ada pengecualian, baik yang memerintah adalah orang tua, pemimpin, maupun suami.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa seluruh bentuk ketaatan kepada makhluk dibatasi oleh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika keduanya bertentangan, yang didahulukan adalah perintah Allah.

Maka, alasan "karena cinta suami" tidak akan pernah mengubah yang haram menjadi halal.

Cinta yang benar justru menyelamatkan orang yang kita cintai dari dosa. Jika suami hendak berbuat maksiat, istri yang beriman tidak ikut membantu. Ia menasihati, mencegah, bahkan berani berkata, "Maaf, saya tidak akan membantu perbuatan yang dimurkai Allah." Itulah cinta yang sesungguhnya.

Sebaliknya, cinta yang membuat seseorang rela berbohong, menutup kejahatan, memfasilitasi kemaksiatan, atau mengorbankan orang lain demi pasangan, bukanlah cinta yang dipuji syariat. Itu adalah cinta yang telah keluar dari rel ketakwaan.

Allah SWT berfirman, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."
(QS. At-Taubah: 24).

Ayat ini mengguncang hati kita. Bahkan cinta kepada pasangan pun tidak boleh melampaui cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hari ini masyarakat marah melihat berbagai kejahatan yang melibatkan orang-orang terdekat pelaku. Kemarahan itu wajar. Namun kemarahan saja tidak cukup. Kita harus kembali menanamkan akidah bahwa tidak ada hubungan apa pun yang boleh mengalahkan hukum Allah.

Seorang istri yang bertakwa tidak akan menjadi tangan kedua bagi kemaksiatan suaminya. Ia akan menjadi pengingat, penahan, dan penjaga keluarganya dari murka Allah. Sebab kelak, di hadapan Allah, setiap jiwa mempertanggung jawabkan amalnya sendiri. Tidak ada alasan, "Saya hanya mengikuti perintah suami."

Di hadapan Allah, alasan itu tidak akan menghapus dosa. Maka tanamkanlah cinta pada tempat yang benar. Karena cinta yang benar akan melahirkan ketaatan yang benar. Sebaliknya, cinta yang salah hanya akan menyeret manusia kepada penyesalan yang tak bertepi.[]


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar