Foto di sebelah kiri diambil pada Idul Fitri, 1 Syawal 1446 Hijriah. Saya, istri saya (Siti Aisyah), dan putra kami (Abdurrahman Auf). Kami tersenyum seperti keluarga pada umumnya.
Tak banyak yang mengetahui di balik senyum itu, kami sedang menjalani perjalanan panjang menghadapi distrofi otot Duchenne (Duchenne Muscular Dystrophy/DMD), kelainan genetik bawaan lahir yang perlahan merenggut kekuatan otot Auf dari waktu ke waktu.
Setahun kemudian, tepat pada Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah, kami kembali berfoto. Namun kali ini Auf tidak lagi berdiri di antara kami.
Kami berdiri di samping makamnya. Di batu nisan itu tertulis nama yang selama empat belas tahun kami panggil dengan penuh cinta dan harapan:
Abdurrahman Auf.
Dulu Kami Punya Banyak Mimpi
Seperti kebanyakan orang tua, harapan kami kepada Auf bahkan dimulai sebelum ia lahir. Saat istri dinyatakan hamil, kami membayangkan masa depannya. Kami menunggu ia lahir. Menunggu ia tengkurap. Merangkak. Berdiri. Lalu berjalan.
Setiap perkembangan kecil selalu melahirkan harapan baru. Kelak ia sekolah. Menempuh pendidikan setinggi mungkin. Bekerja. Berwirausaha sebagaimana sahabat Abdurrahman bin Auf. Menikah. Memiliki keluarga yang bahagia.
Begitulah hampir semua orang tua. Harapan kepada anak hampir selalu mengarah kepada masa depan dunia.
Ketika Harapan Mulai Gugur
Namun Allah mengajarkan kami pelajaran yang tidak pernah kami bayangkan
sebelumnya. Alih-alih bertambah kuat, kemampuan fisik Auf justru perlahan
bergerak mundur.
Awalnya cara berjalannya berbeda. Ia sering terjatuh hanya karena menginjak
batu kecil. Tidak mampu mengayuh sepeda roda tiga. Tidak kuat menangkap bola.
Lalu tibalah masa ketika ia tak lagi mampu berdiri. Tak mampu duduk tanpa disangga. Tak mampu mengangkat gelas berisi air minum.
Sekadar menggaruk tubuhnya sendiri ketika gatal pun harus dibantu. Suaranya semakin lirih. Tulang punggungnya membengkok. Tubuhnya semakin kurus hingga tinggal tulang berbalut kulit.
Pada akhirnya, menelan makanan, mengeluarkan dahak, bahkan bernapas pun menjadi perjuangan yang berat.
Setiap kemunduran itu terasa seperti ikut meruntuhkan satu demi satu harapan yang pernah kami bangun sejak ia masih berada dalam kandungan.
Harapan agar ia kuliah perlahan sirna.
Harapan agar ia kelak bekerja, mandiri, dan menghidupi keluarganya pun tak lagi sanggup kami bayangkan.
Ikhtiar yang Tak Pernah Berhenti
Saya masih ingat berkali-kali melihat istri menangis diam-diam. Ia berdoa agar Allah menyembuhkan Auf.
Diam-diam, di luar sepengetahuan mereka, saya pun melakukan hal yang sama. Sering kali ketika rumah sudah sunyi, istri dan Auf telah tertidur, saya menghampiri tempat tidurnya.
Saya usap tubuhnya. Saya pandangi wajahnya. Lalu saya berdoa sangat lama sembari berderai air mata,
"Ya Allah... sembuhkanlah Auf."
Sejak masih balita, Auf menjalani berbagai terapi. Beragam pengobatan kami tempuh. Rumah sakit kami datangi. Pengobatan alternatif pun kami coba.
Perjalanan itu berlangsung sejak usianya tiga tahun, hingga sekitar dua bulan sebelum ia berpulang.
Namun hasilnya sama. Penyakit itu terus berkembang.
Dokter akhirnya menyampaikan kenyataan yang paling berat kami dengar,
“Hingga saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan DMD.”
Saat itulah hati kami benar-benar diuji.
Doa yang Tak Pernah Berani Kami Ucapkan
Seiring kondisi Auf yang semakin memburuk, saya mulai memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas:
- Bagaimana jika saya atau istri lebih dahulu dipanggil Allah?
- Siapa yang akan merawat Auf?
Pertanyaan itu berkali-kali berputar di kepala saya. Kekhawatiran itu ternyata juga dirasakan kakak perempuan Auf.
Saat masih menempuh pendidikan di pesantren, ia pernah menyampaikan keinginannya untuk berhenti belajar agar bisa pulang membantu kami merawat adiknya.
Bahkan pernah pula muncul tekad yang lebih besar. Ia ingin tidak menikah agar dapat mengurus Auf seumur hidup.
Saya dan istri langsung menolaknya. Kami sangat menghargai kasih sayangnya kepada sang adik.
Namun kami tidak ingin masa depan anak kami yang satu harus dikorbankan demi merawat anak kami yang lain.
Tak lama kemudian, Allah menghadirkan seorang lelaki yang datang melamarnya.
Awalnya ia sempat menolak. Bukan karena tidak cocok dengan lelaki itu, melainkan karena masih memegang tekadnya untuk terus mendampingi Auf.
Sekali lagi saya melarangnya.
Saya katakan, merawat adik adalah amal yang mulia. Namun Allah juga telah menyiapkan jalan hidupnya sendiri. Ia tidak boleh menutup pintu itu hanya karena merasa bertanggung jawab kepada Auf.
Kepada calon menantu saya pun menyampaikan beberapa syarat.
Salah satunya, bila kelak mereka menikah, ia harus siap menerima keberadaan Auf sebagai bagian dari keluarga. Setidaknya, ia tidak boleh menghalangi istrinya apabila suatu saat harus membantu kami merawat Auf. Syukur bila ia sendiri juga ikut menyayangi dan mengasuh Auf.
Alhamdulillah, ia menyanggupinya.
Namun jauh di lubuk hati, saya dan istri tetap tidak ingin membebani anak maupun menantu kami. Auf adalah amanah Allah kepada kami, bukan kepada mereka.
Mungkin karena itulah, pada masa-masa itu, saya sering memanjatkan doa yang sangat berat untuk diucapkan.
Saya pernah memohon kepada Allah, bila memang ajal harus datang, biarlah saya, istri, dan Auf dipanggil secara bersamaan.
Bukan karena putus asa terhadap rahmat Allah. Bukan pula karena kami tidak mencintai kehidupan. Tetapi karena saya tidak sanggup membayangkan bila saya atau istri lebih dahulu meninggal, lalu Auf kehilangan orang yang selama ini merawatnya.
Dan saya juga tidak sanggup membayangkan bila Auf lebih dahulu pergi, lalu kami harus belajar menjalani hidup tanpa kehadirannya.
Mengubah Target Hidup
Kami menangis. Kami berharap. Kami berdoa agar Allah menyembuhkan Auf. Namun sebagai seorang mukmin, kami juga terus belajar menerima bahwa semua yang terjadi adalah qadha Allah.
Berulang kali saya, istri, dan Auf saling menguatkan,
"Ini ujian dari Allah."
Kalimat itu bukan untuk menghibur diri. Melainkan untuk mengingatkan hati kami agar tidak mempertanyakan keputusan-Nya.
Sedikit demi sedikit hati kami menjadi lebih tenang. Bukan karena penyakit Auf membaik. Namun karena kami mulai menerima bahwa Allah pasti memilih yang terbaik bagi hamba-Nya.
Saat itulah terjadi perubahan yang sangat besar dalam hidup kami. Tanpa kami
sadari, target kami sebagai orang tua berubah total. Kami berhenti membangun
mimpi tentang dunia.
Kami tidak lagi sibuk memikirkan Auf harus kuliah di mana. Harus bekerja apa. Harus
memiliki rumah bagaimana. Harus sukses seperti apa. Satu demi satu harapan
dunia itu kami lepaskan.
Sebagai gantinya, kami menetapkan satu target yang jauh lebih besar: Semoga Auf meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Hanya itu.
Kalau Allah menghendaki Auf sembuh, tentu kami akan sangat bersyukur. Namun bila Allah berkehendak lain, kami memohon agar akhir hidupnya menjadi akhir yang dicintai Allah.
Sejak saat itu, isi doa kami perlahan berubah. Kami tetap memohon kesembuhan. Namun kami jauh lebih sering memohon agar Allah menjaga iman Auf hingga napas terakhirnya.
Latihan Menjemput Kematian
Sejak saat itu pula kami lebih sering mengajarkan dua kalimat syahadat. Bukan karena kami merasa ajal sudah dekat. Melainkan karena kami sadar, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal datang.
Setiap kali rasa sakit menyerang, kami membimbing Auf mengucapkan,
"Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah."
Kalimat itu kami harapkan menjadi teman yang selalu menyertainya.
Namun penyakit DMD terus berkembang. Kemampuan bicara Auf semakin melemah. Kalimat yang dahulu dapat diucapkannya dengan cukup jelas kini mulai terdengar lirih.
Di situlah muncul kegelisahan baru dalam hati kami. Bagaimana bila suatu hari sakaratul maut datang, sementara tenaga Auf sudah tidak cukup untuk mengucapkan syahadat secara utuh?
Bagaimana bila yang sempat terucap hanya,
"Laa ilaha..."
lalu napasnya terhenti sebelum melanjutkan,
"...illallah."
Kekhawatiran itulah yang akhirnya membuat saya dan istri mengambil keputusan yang mungkin tidak lazim.
Sekitar dua bulan sebelum Auf berpulang, kami mengganti kalimat yang paling sering kami tuntun ketika rasa sakit datang.
Bukan lagi syahadat. Melainkan,
"Allahu Akbar."
Pertimbangannya sederhana. Kalau pun suatu saat Auf hanya mampu mengucapkan separuhnya, yang keluar tetaplah nama Allah. Bagi kami, itu jauh lebih menenangkan.
Sejak saat itu, setiap kali rasa sakit datang, hampir selalu terdengar suara Auf yang lirih,
"Allahu Akbar..."
Kadang diikuti kami berdua. Kadang hanya ia sendiri yang mengulanginya berkali-kali. Lama-kelamaan, takbir itu seperti menjadi bagian dari kesehariannya.
Bukan sekadar lafaz. Melainkan tempat ia bersandar ketika tubuhnya terasa semakin sakit.
Hari yang Selalu Kami Takutkan
Lalu tibalah hari yang selama ini kami coba persiapkan hati untuk menghadapinya. 8 Ramadhan 1447 Hijriah. Menjelang waktu berbuka puasa.
Auf tersedak ketika minum. Air yang ditegukkan ibunya kembali keluar. Napasnya mulai memburu. Ia tampak kepayahan. Saya mengusap lututnya yang terasa sangat nyeri. Mamah Auf mengusap wajahnya.
Kami saling berpandangan. Tanpa perlu banyak bicara, kami sama-sama merasakan sesuatu.
Mungkin...
Inilah saatnya.
Air mata mulai mengalir.
Kami bertiga bergantian mengucapkan,
"Allahu Akbar..."
"Allahu Akbar..."
"Allahu Akbar..."
Berulang-ulang.
Di tengah suasana itu, Auf sempat berkata,
"Kalau Auf menghilang bagaimana, Mah?"
Mamah Auf berpura-pura tidak memahami maksudnya.
"Hilang bagaimana? Auf ada di sini."
Namun beberapa saat kemudian ia mengulanginya lagi.
Sampai akhirnya ia berkata dengan lebih jelas,
"Bagaimana kalau Auf meninggal, Mah?"
Saat itulah saya tidak sanggup lagi menahan air mata.
Saya berkata,
"Auf masuk surga, insyaallah."
"Di surga, Auf bisa berdiri."
"Bisa berjalan."
"Bahkan bisa berlari."
"Auf juga bisa meminta apa pun kepada Allah."
"Allah akan memberikannya."
Auf mengangguk pelan.
Lalu saya melanjutkan,
"Syaratnya, Auf tetap beriman kepada Allah."
"Tetap shalat."
"Dan ketika saat itu tiba..."
Saya berhenti sejenak.
Dalam hati saya ingin mengucapkan,
"Laa ilaha illallah."
Namun kekhawatiran lama kembali muncul.
Akhirnya saya berkata,
"Ketika saat itu tiba... Auf ucapkan Allahu Akbar."
Auf kembali menganggukkan kepala.
Tak lama kemudian, ia mengucapkannya dengan lirih,
"Allahu Akbar..."
Dan kami pun mengikutinya.
Allah Mengabulkan Doa yang Paling Penting
Tak lama setelah itu, sesuatu yang tidak pernah kami duga terjadi. Dengan napas yang mulai memburu, Auf justru melafalkan bacaan-bacaan yang selama ini ia hafal:
- "Audzubillahi minasy-syaithanir rajim..."
- "Bismillahirrahmanirrahim..."
- "Subhanallah..."
Lalu, dengan sangat jelas, ia mengucapkan:
"Laa ilaha illallah..."
Kemudian disusul,
"Muhammadur Rasulullah."
Saya dan istri spontan mengikutinya.
Air mata kami mengalir semakin deras. Muncul rasa syukur. Bukan karena kami siap kehilangan.
Tidak.
Tidak ada orang tua yang benar-benar siap mengantarkan anaknya ke liang lahat.
Tetapi pada detik itu Allah mengabulkan doa yang selama ini kami simpan rapat-rapat dalam hati.
Doa agar anak kami mengakhiri hidupnya dalam keadaan mengingat Allah.
Tak lama kemudian, Auf kembali berdoa dengan suara lirih,
"Ya Allah... tolonglah Auf..."
Kami mengulang doa itu bersamanya.
Beberapa saat setelah azan Magrib berkumandang, saya dan istri bergantian menunaikan shalat.
Kami masih berharap malam itu akan berlalu seperti malam-malam sebelumnya.
Namun Allah telah menetapkan ketentuan-Nya. Ketika saya selesai shalat dan kembali menghampiri Auf, napasnya semakin berat.
Dari bibirnya terdengar lirih,
"Allah... Allah... Allah..."
Kemudian ia memanggil,
"Mamah...! Kerudung...!"
Mamah Auf segera mengenakan jilbab dan kerudungnya.
Kami kembali menuntunnya mengingat Allah.
Lalu perlahan...
Napas itu berhenti.
Saya menempelkan telinga ke dadanya. Tak lagi terdengar denyut jantung. Mamah Auf memeriksa napas dan nadinya. Semuanya telah berhenti. Jam dinding menunjukkan pukul 18.40 WIB.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Anak kami telah pulang kepada Pemiliknya.
Dari Sabar Menjadi Syukur
Hari ini, setiap kali berdiri di samping makam Auf, saya sering mengingat kembali perjalanan panjang itu.
Dari hari ketika kami menunggu kelahirannya.
Dari hari ketika ia belajar merangkak.
Belajar berjalan.
Kemudian perlahan kehilangan kemampuan itu satu demi satu.
Saya juga mengingat malam-malam ketika saya memohon agar Allah menyembuhkannya.
Mengingat air mata istri yang berkali-kali jatuh tanpa diketahui Auf.
Mengingat berbagai terapi dan pengobatan yang kami tempuh selama bertahun-tahun.
Dulu saya mengira puncak ujian adalah sabar.
Ternyata bukan.
Allah mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi.
Sabar hanyalah jalan menuju syukur.
Syukur bukan karena Auf meninggal. Tidak ada orang tua yang bersyukur karena kehilangan anak. Kami tetap merasakan rindu. Tetap menangis ketika mengingatnya. Tetap berharap seandainya Allah masih mengizinkan kami memeluknya sekali lagi.
Namun di tengah semua itu, Allah memberi kami nikmat yang nilainya tidak mungkin dapat ditukar dengan apa pun di dunia. Allah mengizinkan kami mendengar sendiri anak kami mengucapkan,
"Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah."
Kalimat itulah yang kini paling sering terngiang di telinga kami. Bukan lagi suara tangisnya. Bukan keluh kesahnya ketika tubuhnya nyeri. Melainkan kalimat tauhid yang keluar dari lisannya pada penghujung hidupnya.
Saat itulah saya menyadari bahwa selama ini kami terlalu sering mengukur masa depan anak dengan ukuran dunia. Sekolah setinggi mungkin. Pekerjaan yang baik. Penghasilan yang besar. Rumah yang nyaman.
Semuanya memang baik. Semuanya layak diusahakan. Namun semua itu akan berhenti di pintu kematian. Yang menemani seorang hamba setelahnya hanyalah iman dan amal salehnya.
Setinggi apa pun pendidikan seorang anak. Sebagus apa pun pekerjaannya. Sebesar apa pun hartanya. Orang tua mana yang tidak hancur bila anaknya meninggal tanpa membawa kalimat tauhid?
Sebaliknya, meski kami harus mengantarkan Auf ke liang lahat pada usia empat belas tahun, Allah masih menghadiahkan sesuatu yang nilainya tidak dapat ditukar dengan seluruh keberhasilan dunia.
Kami mendengar sendiri anak kami mengakhiri hidupnya dengan mengingat Allah. Karena itulah, ketika kini kami berdiri di samping makamnya pada Idul Fitri, kami memang menangis.
Tetapi air mata itu tidak lagi hanya berisi kehilangan. Di dalamnya ada rasa syukur yang sangat besar.
Syukur karena Allah memilihkan jalan yang tidak pernah kami inginkan, tetapi ternyata jauh lebih baik daripada seluruh rencana yang pernah kami susun.
Mungkin itulah pelajaran terbesar yang Allah ajarkan kepada kami.
Sebagai orang tua, kami pernah memohon agar Auf disembuhkan.
Allah tidak menakdirkan itu.
Kami pernah memohon agar Auf dapat tumbuh besar, bersekolah, bekerja, menikah, dan menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lainnya.
Allah juga tidak menakdirkan itu.
Namun Allah mengabulkan doa yang ternyata jauh lebih penting daripada semuanya.
Allah menjaga iman Auf hingga akhir hayatnya.
Allah mengizinkan kami mendengar sendiri putra kami mengakhiri hidupnya dengan mengucapkan,
"Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah."
Sejak saat itu kami memahami, setinggi apa pun pendidikan seorang anak, sebagus apa pun pekerjaannya, sebanyak apa pun hartanya, semuanya akan berhenti di depan pintu kematian.
Yang menemani seorang hamba setelahnya hanyalah iman dan amal salehnya.
Karena itulah, bila hari ini ada yang bertanya mengapa kami masih mampu bersyukur meski berdiri di samping makam anak kami pada hari Idul Fitri, jawabannya sederhana.
Allah telah mengabulkan doa kami yang paling penting.
Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
Semoga Allah menerima seluruh amal saleh Abdurrahman Auf, mengampuni dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, menjadikannya penghuni surga-Nya, dijauhkan dari api neraka, serta mempertemukan kami kembali dalam keadaan yang jauh lebih indah.
Sebagaimana kalimat yang dahulu selalu dibisikkan Mamah Auf kepadanya,
"Nanti di surga, Auf bukan
hanya bisa jalan, tapi juga bisa berlari."[]
Depok, 3 Shafar 1448 H | 18 Juli 2026 M
Joko Prasetyo,
Ayah Abdurrahman Auf

0 Komentar