Topswara.com -- Ketika seorang Muslim mengikuti ritual agama lain, banyak orang menganggap persoalannya hanya terletak pada tindakan itu. Padahal, tindakan hanyalah gejala. Penyakit sesungguhnya adalah cara berpikir yang menjadikan perasaan lebih tinggi daripada wahyu. Itulah sekularisme.
Cara pandang inilah yang penting dijadikan pijakan untuk menilai pemberitaan tentang Zaskia Adya Mecca yang mengizinkan putri sulungnya, Kana Sybilla, mengikuti tradisi melukat pada 26 Juli 2026 di Bali. Alasan yang disampaikan adalah untuk mengenal budaya.
Bahkan muncul pula ungkapan, "iman itu soal hati." Kalimat tersebut terdengar menenangkan. Namun, benarkah Islam mengajarkan demikian? Islam tidak pernah mengajarkan bahwa iman cukup disimpan di dalam hati.
Allah SWT berfirman, “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap putusanmu, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS an-Nisa': 65).
Ayat ini menunjukkan, iman bukan sekadar keyakinan batin. Iman harus diwujudkan dalam ketundukan kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, ukuran keimanan bukan perasaan, melainkan kesediaan menaati wahyu.
Melukat Bukan Sekadar Budaya
Lalu, benarkah melukat hanya sekadar mengenal budaya? Tidak. Dalam tradisi Hindu Bali, melukat merupakan ritual penyucian diri yang diyakini dapat membersihkan leteh (kotoran spiritual), menolak pengaruh buruk, serta memohon keselamatan dan berkah menurut ajaran Hindu.
Prosesi ini bukan sekadar mandi di mata air. Pelaksanaannya umumnya melibatkan banten (sesaji), doa atau mantra yang dipimpin pemangku atau dilakukan sesuai tata cara keagamaan Hindu, serta penggunaan tirta (air suci) yang memiliki makna religius. Seluruh rangkaian tersebut merupakan bagian dari ritual penyucian.
Karena itu, melukat bukan sekadar ekspresi budaya. Namun tradisi yang menyatu dengan ritual keagamaan Hindu.
Di sinilah Islam memberikan batas yang tegas.
Seorang Muslim boleh mempelajari sejarah, bahasa, seni, adat istiadat, maupun kebudayaan suatu masyarakat. Namun, ketika sebuah tradisi telah menjadi bagian dari ritual ibadah agama lain, seorang Muslim tidak dibenarkan ikut berpartisipasi di dalamnya.
Allah SWT berfirman, "Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat mengenai urusan itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui" (QS al-Jatsiyah: 18).
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka" (HR Abu Dawud).
Syariat Islam telah memberikan batas yang jelas. Menghormati pemeluk agama lain tidak berarti mengikuti ritual keagamaan mereka.
Karena itu, persoalan dalam kasus ini bukan terletak pada airnya, tempatnya, ataupun nama ritualnya. Namun pada keikutsertaan seorang Muslimah dalam ritual yang memiliki makna ibadah menurut agama lain.
Akar Penyakitnya
Muslimah mengikuti ritual melukat bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Peristiwa ini merupakan buah dari sekularisme, yaitu ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama dipersempit menjadi urusan hati, sedangkan tindakan diserahkan kepada kebebasan manusia selama dianggap baik.
Dari cara pandang inilah lahir ungkapan, "iman itu soal hati." Akibatnya, ukuran benar dan salah bergeser dari wahyu kepada perasaan. Selama hati merasa tenang, hampir semua tindakan dapat dianggap benar.
Padahal Islam tidak mengenal pemisahan antara akidah, syariat, dan akhlak. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang bersumber dari wahyu Allah. Karena itu, setiap sikap dan tindakan seorang Muslim harus tunduk kepada hukum Allah, bukan kepada penilaian hati atau pertimbangan budaya.
Muslimah Melukat Hanya Gejalanya
Karena itu, persoalan ini sesungguhnya bukan berhenti pada melukat.
Hari ini seseorang mengikuti ritual melukat atas nama budaya. Besok mungkin menghadiri ritual agama lain atas nama toleransi. Lusa bisa jadi menganggap semua agama pada hakikatnya sama.
Itulah akibat ketika perasaan dijadikan standar, sedangkan wahyu dikesampingkan. Islam menutup pintu itu sejak awal demi menjaga kemurnian tauhid.
Muslimah melukat hanyalah gejalanya. Sekularisme adalah penyakitnya. Selama sekularisme masih menjadi cara berpikir, peristiwa serupa akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.
Toleransi Bukan Sinkretisme
Islam mengajarkan toleransi, bukan sinkretisme. Seorang Muslim diperintahkan hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain, sekaligus tetap menjaga batas-batas akidah yang telah ditetapkan Allah SWT.
Jangan pernah dilupakan.
Ketika perasaan dijadikan ukuran kebenaran, manusia akan mudah tersesat. Ketika wahyu dijadikan ukuran kebenaran, manusia akan menemukan jalan keselamatan. Itulah Islam. []
Depok, 13 Shafar 1448 H | 28 Juli 2026 M
𝐉𝐨𝐤𝐨 𝐏𝐫𝐚𝐬𝐞𝐭𝐲𝐨 | 𝐉𝐮𝐫𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬

0 Komentar