Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Apa yang Kita Makan Hari Ini Menentukan Kesehatan Kita Esok Hari


Topswara.com -- "Ah... sekali-sekali minum boba enggak apa-apa." Kalimat itu mungkin pernah keluar dari mulut kita. Aku juga bukan malaikat yang anti minuman manis. Es kopi susu pernah, teh kekinian pernah, boba juga pernah. Wong lidah ini kalau melihat gelas besar penuh topping, kadang imannya goyah juga. 

Namun beberapa minggu terakhir Allah mengajarkanku pelajaran yang tidak pernah kubayangkan, yaitu menemani mama mertua keluar masuk rumah sakit. Berjam-jam duduk di ruang tunggu membuatku melihat banyak kenyataan. 

Ada pasien yang harus memakai kateter, ada yang menjalani cuci darah, ada yang masih muda tetapi sudah gagal ginjal, terkena tumor, bahkan kanker. Ada pula yang usianya belum lima puluh tahun, tetapi kondisi tubuhnya sudah jauh menurun.

Rumah sakit seperti universitas kehidupan. Biaya kuliahnya mahal, tetapi pelajarannya sangat berharga. Aku mulai menyadari bahwa apa yang kita nikmati lima menit di lidah bisa menjadi beban tubuh bertahun-tahun kemudian. 

Hari ini kita berkata, "Ah... cuma satu gelas." Besok menjadi seminggu sekali. Lama-lama berubah menjadi kebiasaan.

Di usia yang lebih pantas disebut usia jelita daripada ABG, aku mulai berpikir berkali-kali sebelum memilih minuman. Bukan karena pelit atau sok sehat, tetapi karena sadar bahwa apa yang kita konsumsi hari ini ikut menentukan kesehatan lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun mendatang.

Karena itu, aku lebih memilih jus mangga asli tanpa tambahan gula daripada minuman boba kekinian. Bukan asal pesan, tetapi harus ada target kesehatan.

Mangga mengandung vitamin A, vitamin C, serat, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Manis alaminya sudah cukup tanpa tambahan gula. Mungkin lidah tidak terlalu heboh, tetapi ginjal pasti lebih bahagia.

Sayangnya, kita hidup di zaman ketika makanan yang paling laris justru sering kali yang paling menggoda lidah. Warnanya menarik, aromanya menggoda, rasanya bikin ketagihan, harganya murah, prosesnya instan, tahan lama karena pengawet, lalu dipasarkan besar-besaran. Yang penting cuan, cuan dan cuan.

Logika kapitalisme memang berorientasi pada keuntungan. Selama produk menghasilkan laba dan memenuhi aturan yang berlaku, produk itu akan terus dipasarkan. 

Akibatnya, makanan ultra-proses, minuman tinggi gula, serta jajanan tinggi garam dan lemak semakin mudah ditemukan. Pada akhirnya, tanggung jawab menjaga kesehatan lebih banyak dibebankan kepada individu dan keluarga.

Sebagai seorang ibu, aku sering khawatir melihat jajanan anak-anak. Permen warna-warni, minuman jumbo, es dengan topping lebih banyak daripada buahnya, sosis, nugget, hingga berbagai camilan buatan. Anak-anak menganggapnya makanan terenak, padahal tubuh mereka mungkin sedang bekerja keras menetralisir semuanya.

Makanan Wajib Halal dan Tayib

Allah SWT berfirman,
"Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi thayyib."
(QS. Al-Baqarah: 168).

Islam tidak hanya memerintahkan makanan halal, tetapi juga tayib. Halal berkaitan dengan hukum syariat, sedangkan tayib berarti baik, bersih, aman, dan bermanfaat.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa hukum asal makanan adalah halal selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Namun, seorang Muslim tetap diperintahkan memilih makanan yang tayib, yaitu tidak membahayakan, karena syariat bertujuan menjaga kemaslahatan manusia, termasuk menjaga jiwa (hifzh an-nafs). 

Senada dengan itu, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tayib berarti makanan yang baik, bersih, dan tidak membawa mudarat bagi tubuh maupun agama.

Karena itu, Islam tidak hanya menasihati individu agar hidup sehat, tetapi juga menghadirkan mekanisme negara untuk menjamin makanan halal dan tayib.

Pertama, negara mengawasi seluruh rantai pangan, mulai dari produksi, distribusi hingga penjualan. Makanan yang mengandung bahan haram atau terbukti membahayakan kesehatan tidak boleh beredar. Produsen yang curang diberi sanksi sesuai syariat.

Kedua, negara membentuk lembaga hisbah untuk mengawasi pasar. Tugasnya memeriksa kualitas makanan, memastikan takaran dan timbangan tidak curang, mencegah pemalsuan, melarang makanan rusak atau membahayakan, serta mengawasi praktik perdagangan agar tidak merugikan masyarakat. 

Imam al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah menjelaskan bahwa muhtasib bertugas menjaga kemaslahatan umum di pasar dan mencegah kemungkaran dalam aktivitas ekonomi.

Ketiga, industri tidak dibiarkan hanya mengejar keuntungan. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, fungsi negara adalah ri'ayah syu'un al-ummah (mengurus urusan rakyat), bukan sekadar regulator. Jika suatu produk terbukti membahayakan kesehatan masyarakat, negara wajib mengambil langkah untuk melindungi rakyat sesuai ketentuan syariat.

Keempat, negara memberikan edukasi kepada masyarakat agar memahami bahwa makanan bukan sekadar mengenyangkan, tetapi harus halal sekaligus tayib.

Kelima, Islam memberikan sanksi kepada pelaku kecurangan. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menipu kami, maka ia bukan golongan kami." (HR. Muslim).

Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya tanggung jawab individu. Islam membangun sistem yang melibatkan individu yang memilih makanan halal dan tayib, pelaku usaha yang jujur dan tidak membahayakan, serta negara yang mengawasi pasar melalui hisbah dan perangkatnya. Dengan mekanisme inilah pangan yang beredar benar-benar aman, halal, dan menyehatkan masyarakat.[]


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar