Topswara.com -- Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya pertalite akhir-akhir ini memicu antrean panjang disejumlah wilayah di Indonesia, terlihat dibeberapa daerah seperti Sumatera Utara, Riau, hingga Kalimantan Barat. Sebagaimana dilansir disebuah media,
Antrean kendaraan masih terlihat di berbagai SPBU, terutama di Kota Medan dan sekitarnya. Kondisi tersebut dipicu keterlambatan distribusi BBM dari terminal menuju tempat penyaluran.
Pemprov Sumut terus berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara untuk memastikan distribusi kembali normal dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Dedi meminta masyarakat tidak membeli BBM secara berlebihan. Ia menilai panic buying justru dapat memperparah antrean dan membuat pasokan lebih cepat habis. (Kompas.com, 15 Juli 2026)
Bukan tanpa sebab hal itu terjadi, semenjak Pemerintah menaikan harga BBM jenis pertamax, dexlite, pertamax turbo menimbulkan panic buying di tengah masyarakat, sehingga wajar jika dibeberapa SPBU terlihat kepadatan warga yang mengantre mengisi BBM.
BBM Langka, Masalah yang Tidak Pernah Kunjung Selesai
Masalah kelangkaan BBM memang bukan pertama kali terjadi, jauh sebelumnya hal ini acap kali menjadi PR yang tidak pernah tuntas dari masa ke masa. Terlebih lagi kenaikannya kadang diumumkan ditengah malam, membuat rakyat semakin "muak" dengan kebijakan zalim tersebut.
Terkadang pemerintah tidak berpikir panjang efek domino yang akan terjadi dengan naiknya harga BBM. Faktanya secara langsung hal tersebut akan memicu kenaikan-kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. Jelas saja karena BBM itu kebutuhan dasar dari berjalannya sistem ekonomi sebuah negara.
Efek lainnya sangat mengerikan ketika kenaikan BBM tidak dibarengi dengan kenaikan gaji para pekerja. Masyarakat akan mengalami kesulitan ekonomi, sehingga tidak jarang memicu tindak kriminalitas dan goncangan psikologis (stress).
Sistem Kapitalisme "Biang Kerok" Kelangkaan BBM
Di bawah sistem kapitalisme, negara berfungsi sebagai korporasi dagang. Akibatnya, SDA yang harusnya hak rakyat malah dijadikan komoditas komersial untuk mencari keuntungan. Alhasil rakyat hanya gigit jari sedangkan para korporasi berpesta pora diatas penderitaan rakyat.
Selain itu, liberalisasi pengelolaan migas dari hulu (eksplorasi) hingga hilir (distribusi) kepada korporasi swasta/asing. Negara kehilangan kontrol mandiri dan rakyat dipaksa tunduk pada permainan pasar korporat.
Negara tidak punya taring dan power untuk mengelolanya dengan otoritas penuh, sehingga pihak swasta dengan seenaknya mengeruk keuntungan berlimpah dari sistem yang tidak pernah memihak rakyat ini.
Ujung-ujungnya bukannya menyelesaikan akar masalah kelangkaan, negara justru membuat regulasi teknis yang berbelit-belit (membatasi kuota dan memperumit syarat pembelian di SPBU).
Di sistem kapitalisme ini tidak ada yang berpihak kepada rakyat, sistem birokrasi yang "menyebalkan" malah membuat rakyat semakin susah dan akhirnya pasrah dengan kezaliman yang direncanakan.
Solusi Islam Menuntaskan Masalah Kelangkaan BBM
Islam menetapkan bahwa negara adalah pengurus rakyat yang haram mengambil untung dari kebutuhan dasar publik. Negara wajib menjamin ketersediaan BBM sebagai pelayanan mutlak, bukan memperlakukannya sebagai barang dagangan.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadis:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin yang memimpin rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya..." (HR. Bukhari dan Muslim).
Islam melarang liberalisasi Sumber Daya Alam (SDA). Tata kelola SDA wajib dipegang oleh negara dari hulu hingga hilir demi kemaslahatan umat.
Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis:
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api" (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Jadi jelas sekali larangan mengeksploitasi SDA berlebihan dan melarang memberikan pengurusannya kepada piihak swasta apalagi asing.
Islam menghapus birokrasi yang panjang dan berbelit dalam pemenuhan hak rakyat. Negara dalam sistem Islam (khilafah) akan mendistribusikan BBM secara merata dan mudah.
Tidak akan ada lagi yang "drama" kelangkaan BBM, karena dalam Islam semua diatur dengan sebaik-baiknya, dengan proses yang memudahkan semua pihak.
Hal ini mengacu pada hadis shahih:
"Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan darinya dari kesusahan-kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim).
Dari sini kita paham bahwa pentingnya sebuah institusi negara yang mengatur dan memelihara rakyat dengan adil dan senantiasa berupaya menyejahterakan rakyatnya, memudahkan segala urusan rakyat dan tidak mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dan semua itu akan terwujud dengan sempurna hanya dalam naungan Islam.
Wallahu'alam.
Oleh: Haryani, S.Pd.I.
Pendidik di Kota Bogor

0 Komentar