Topswara.com -- Tahun ajaran baru biasanya identik dengan wajah-wajah ceria anak yang bersiap memasuki sekolah. Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di sejumlah daerah. Ada SD negeri yang hanya menerima satu hingga lima murid baru, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkan siswa.
CNN Indonesia melaporkan fenomena ini terjadi di berbagai wilayah. Selain dipengaruhi menurunnya jumlah anak usia sekolah dan urbanisasi, banyak orang tua kini lebih memilih sekolah yang dianggap lebih kuat dalam pendidikan agama dan pembentukan akhlak.
(CNN Indonesia, Rabu 15 Juli 2026)
Fakta terakhir inilah yang menarik untuk dicermati. Banyak orang tua tidak sedang mencari sekolah yang paling megah atau paling bergengsi. Mereka sedang mencari rasa aman.
Di tengah maraknya kasus perundungan, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga berbagai penyimpangan perilaku di kalangan pelajar, wajar jika mereka berharap sekolah dapat menjadi tempat yang ikut menjaga akhlak anak-anaknya. Mereka ingin anak-anak tumbuh bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki benteng keimanan dan karakter yang kuat.
Pilihan itu tentu merupakan ikhtiar yang baik. Namun, persoalannya tidak berhenti pada memilih sekolah tertentu.
Kerusakan generasi yang kita saksikan hari ini bukanlah masalah yang lahir dari satu sekolah atau satu keluarga, melainkan persoalan yang bersifat sistemik.
Sistem pendidikan sekuler liberal lebih banyak menempatkan pendidikan sebagai sarana mencetak sumber daya manusia yang siap memasuki dunia kerja. Keberhasilan diukur dari nilai akademik, prestasi, dan kemampuan bersaing, sementara pembentukan kepribadian sering kali menjadi pelengkap.
Tidak mengherankan jika kurikulum berkali-kali berubah, tetapi berbagai persoalan moral tetap berulang. Perundungan, pelecehan seksual, penyalahgunaan narkoba, hingga kenakalan remaja terus menghantui dunia pendidikan.
Ini menunjukkan bahwa yang perlu dibenahi bukan sekadar kurikulum, melainkan asas yang menjadi fondasinya.
Memang, faktor demografi seperti menurunnya angka kelahiran, mahalnya biaya hidup, dan urbanisasi turut memengaruhi berkurangnya jumlah murid di sekolah negeri.
Namun, fenomena orang tua yang beralih ke sekolah berbasis agama memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar yakni mereka mulai kehilangan kepercayaan bahwa sistem pendidikan yang ada mampu menjaga anak-anak mereka dari arus kerusakan moral.
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan dasar sekaligus fondasi peradaban yang wajib dijamin negara. Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan ilmu, tetapi proses menumbuhkan manusia seutuhnya.
Al-Qur'an mengibaratkan pribadi yang baik seperti pohon yang baik; akarnya kokoh, batangnya kuat, cabangnya menjulang, dan buahnya terus memberi manfaat (QS Ibrahim: 24).
Gambaran ini menunjukkan bahwa pendidikan harus dimulai dari akar yang benar, yaitu akidah. Dari akidah yang kokoh lahirlah akhlak yang mulia, kemudian berkembang berbagai cabang ilmu yang akhirnya melahirkan generasi yang bermanfaat bagi umat dan peradaban.
Karena itu, negara tidak cukup hanya membangun gedung sekolah atau mengganti kurikulum. Negara wajib menghadirkan sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam, menyiapkan guru yang berkualitas, menyediakan sarana pendidikan yang merata, serta menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya generasi berkepribadian Islam sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sudah saatnya kesadaran masyarakat naik satu tingkat. Bukan hanya berusaha menyelamatkan anak masing-masing dengan memilih sekolah yang dianggap lebih baik, tetapi juga menyadari bahwa kerusakan generasi merupakan dampak dari sistem sekuler liberal yang diterapkan hari ini.
Sebab, selama akarnya tidak diubah, keresahan orang tua akan terus berulang setiap datangnya tahun ajaran baru. Yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak sekolah yang mengajarkan agama, melainkan sistem pendidikan Islam yang menjadikan akidah sebagai akar, akhlak sebagai batang, ilmu sebagai cabang, dan kemanfaatan bagi umat sebagai buahnya.
Dari sistem seperti inilah akan lahir generasi yang kokoh iman, mulia akhlaknya, cerdas ilmunya, dan siap membangun peradaban.
Oleh: Selly Nur Amelia
Aktivis Muslimah

0 Komentar