Topswara.com -- Sejumlah SD negeri dibeberapa wilayah Indonesia kembali kesulitan mendapatkan siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Ada sebagian sekolah yang hanya menerima sedikit peserta didik, bahkan ada juga yang tidak mendapatkan murid baru (Kompas.com, 15/07/2026).
Beberapa diantaranya : pertama, di Sumatra (Bandar lampung) beberapa sekolah yang jumlah pendaftaranya minim sehingga belum memenuhi kuota untuk rombel (rombongan belajar) bahkan menerima dua murid dan tiga belas SDN juga belum tercatat mendapatkan siswa baru.
Kedua, di Kalimantan yang mana kegiatan MPLS digabung dengan sekolah lain karena hanya memiliki satu murid pendaftar. Ketiga, di Bali, juga hanya mendapatkan dua peserta didik. Keempat, di Jawa dan Jogjakarta juga sepi murid dan belum memenuhi kuota rombel (cnnindonesia.com, 15/07/2026).
Faktor penurunan jumlah siswa terjadi di sekolah negeri, menurut Endro Dwi Hatmanto selaku dosen UMY yakni, adanya Perubahan struktur penduduk dengan membandingkan jumlah penduduk setiap tahun.
Karena jika melihat berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) 5,61 anak per perempuan pada tahun 1971 menjadi 2,18 anak per perempuan pada 2022, hal ini menunjukkan penurunan kelahiran anak sehingga berdampak pada berkurangnya populasi anak usia sekolah.
Kemudian perubahan harapan atau mindset yang ada di masyarakat yakni banyak pasangan yang menunda pernikahan, membatasi jumlah anak, hingga memilih menjalani kehidupan tanpa anak (childfree).
Juga tata letak sekolah yang perlu ada evaluasi dalam kawasan padat yang kini mengalami penuaan penduduk, sedangkan keluarga muda yang berpindah ke perumahan baru. Sehingga muncul ketimpangan, kawasan baru kekurangan fasilitas pendidikan, sedangkan sekolah lama kehilangan calon siswa.
Faktor lainnya yang menjadi pertimbangan soal reputasi sekolah dan kualitas pengajar, keamanan lingkungan dan fasilitas keselamatan, program keagamaan dan penguasaan bahasa asing hingga tingkat literasi digital dan keterbukaan komunikasi di media sosial.
Dengan adanya faktor-faktor yang terjadi di masyarakat terkait penurunan jumlah murid, maka pemerintah memerlukan evaluasi dan analisa yang mendalam dengan mengupayakan revitalisasi mutu, penguatan sarana prasarana, redistribusi guru secara adil, penyediaan transportasi pendidikan untuk daerah terpencil, hingga kerja sama antar-sekolah sehingga keputusan dalam penggabungan (regrouping) atau penutupan sekolah merupakan langkah pilihan paling akhir (suara.com, 23/07/2026).
Penurunan jumlah anak di sekolah dasar negeri harusnya menjadikan evaluasi bagi masalah pendidikan di negeri ini. Sedangkan, masalah ini bisa diambil solusi dari Islam, jika penurunan angka kelahiran yang berpengaruh pada penurunan jumlah anak maka pemerintah negara Islam akan mengupgrade pemikiran dengan seruan para pemuda untuk menikah (saat ini, bisa mengikuti kelas pra-menikah) dan melahirkan keturunan.
Karena sesungguhnya kelak di akhirat Rasulullah SAW akan membanggakan diri dengan sebab (banyaknya jumlah) kalian di depan para Nabi pada hari kiamat, sebagaimana dalam hadits berikut ini :
Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk menikah dan melarang dari hidup membujang (tabattul) dengan larangan yang keras. Beliau bersabda, “Menikahlah dengan wanita yang al-wadud (penyayang) dan al-walud (subur atau banyak anak). Karena sesungguhnya aku akan membanggakan diri dengan sebab (banyaknya jumlah) kalian di depan para Nabi pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh Ibnu Hibban.)
Juga, para pemuda tidak usah khawatir terkait pekerjaan dan harta karena pemerintah dalam negara islam akan mendata dan mencarikan pekerjaan juga membuka lowongan kerja bagi pemuda.
Sedangkan para wanita yang hamil akan diberikan subsidi dari pemerintah hingga anak sudah tidak diberikan ASI oleh ibunya, karena dimasa-masa emas ini peran ibu sangat penting bagi generasi.
Wallahu 'alam Bishawab.
Oleh: Ainnur
Aktivis Muslimah

0 Komentar