Topswara.com -- Tahun ajaran baru sudah dimulai, setiap sekolah mempersiapkan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Sekolah negeri ataupun swasta semua serentak mengadakan penyambutan kepada calon siswa baru.
Dari jenjang taman kanak-kanak (TK), SD, SMP, ataupun SMA semua serentak dan ada raut kebahagiaan baik guru, murid lama ataupun murid baru, karena mereka akan siap menimba ilmu sebagai bahan persiapan menghadapi masa depan. Namun apa jadinya jika sekolah tidak mendapatkan murid baru?
Dikabarkan tahun ajaran baru saat ini, di sejumlah daerah di Indonesia, sekolah dasar negeri (SDN) minim mendapatkan murid baru, hanya mendapatkan satu atau dua murid, bahkan ada yang tidak mendapatkan murid baru sama sekali.
Namun MPLS tetap di gelar menyambut murid baru tersebut sejak senin (13/07/2026) walaupun jumlah siswa sedikit, semangat tenaga pendidik dan kesiapan fasilitas di banyak sekolah tetap terjaga demi memberikan layanan pendidikan terbaik bagi setiap anak yang telah mendaftar. (15/107/2026 CNNindonesia.com).
Diantara penyebab berkurangnya jumlah murid baru di sekolah-sekolah negeri adalah anak usia sekolah yang makin minim di sekitarnya, karena pertumbuhan penduduk menurun generasi menua, urbanisasi, dan pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan pendidikan agama dalam hal ini ibadah, mengaji dan akhlak.
Orang tua takut akan keselamatan anaknya karena kerusakan dan kenakalan remaja makin banyak, sedangkan pemerintah memberikan solusi adalah regrouping beberapa sekolah dasar negeri menjadi satu. Namun semuanya sulit juga jarak antar sekolah menjadi jauh.
Diantara masalah yang di hadapi sekolah-sekolah negeri saat ini, ada pertanyaan besar apakah masyarakat sudah tidak percaya terhadap sekolah negeri? Sehingga menyebabkan orang tua memilih untuk menyekolahkan anaknya ke pondok.
Selain itu perubahan struktur demografi (penduduk menua) terjadi karena program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran turun. Kegagalan kebijakan ekonomi membuat biaya hidup makin tinggi, dan kesejahteraan sulit di raih, sehingga pasangan muda tidak mau mempunyai anak.
Urbanisasi pun menjadi salah satu penyebab, karena kesenjangan pendapatan desa dan kota dianggap berbeda, seperti upah minimum kota dan upah minimum kabupaten berbeda jauh lebih tinggi di kota, karena biaya hidup di kota jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten. Padahal kenyataannya biaya hidup sama saja. Akhirnya penduduk desa/ kabupaten memilih pindah ke kota.
Selain itu, sikap orang tua yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan agama, lebih di minati dibandingkan sekolah negeri yang menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi hari ini.
Akibat dari sistem sekular liberal yang memproduksi berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah, banyaknya pembullyan, terlibat tawuran, narkoba, hingga nir adab kepada guru. Itulah yang menjadi salah satu alasan orang tua tidak menyekolahkan anak ke sekolah negeri.
Begitu juga dengan perubahan kurikulum yang berulang kali, terbukti tidak mampu membendung kerusakan yang di timbulkan oleh sistem sekular liberal.
Kurikulum yang ada di sekolah-sekolah negeri hanya menyentuh pada transfer ilmu, tidak menyentuh pada ranah akidah sebagai pondasi dan nafsyah sebagai pembentukan pola sikap.
Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting peradaban, sehingga bertanggungjawab dan menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat.
Tidak ada istilah sekolah negeri atau swasta, karena seluruh anak negeri berhak mendapatkan pendidikan dan kesejahteraan. Semua bisa terwujud jika sistem Islam yaitu khilafah terwujud.
Sistem pendidikan Islam dalam institusi khilafah, menggunakan Kurikulum berbasis akidah Islam, mewujudkan output pendidikan yang berkepribadian Islam dan mahir dalam IPTEK ( ilmu pengetahuan dan teknologi). Negara menyediakan SDM guru, infrastruktur, sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan berkualitas.
Juga adanya kesadaran masyarakat harus di naikkan level, ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan yang ada adalah kerusakan sistem sekular liberal. Juga harus adanya dakwah politik untuk membangun kesadaran politik masyarakat yang sangat penting.
Hingga dapat menggerakkan masyarakat untuk merubah sistem sekular liberal, menjadi sistem Islam. Sehingga Islam di emban oleh individu, masyarakat dan juga negara.
Wallahualam bishawab.
Oleh: Wibi Fanisa
Aktivis Muslimah

0 Komentar