Topswara.com -- Perang selalu menghadirkan kisah pilu. Dibalik kepiluan itu, ada satu penderitaan yang sering luput dari perhatian. Dialah luka yang tersimpan dalam jiwa anak-anak. Di Gaza, luka itu kini begitu dalam hingga sebagian anak tidak lagi mampu mengungkapkannya dengan kata-kata.
Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, yang menangani anak-anak di Gaza mengungkapkan bahwa hampir setiap anak di wilayah tersebut mengalami trauma.
Bahkan, lebih dari satu juta anak diperkirakan menderita trauma berat akibat perang yang terus berlangsung. Yang lebih menyayat hati, sebagian anak kehilangan kemampuan berbicara setelah mengalami peristiwa-peristiwa yang terlalu mengerikan untuk ditanggung oleh jiwa mereka yang masih belia (BBC Indonesia, Mei 2026).
Bayangkan seorang anak yang normalnya menghabiskan hari-harinya untuk bermain, belajar, dan bercita-cita. Namun yang mereka saksikan justru hari-hari yang kerap dikejutkan dengan dentuman bom, melihat reruntuhan rumah, tubuh anggota keluarga yang terbunuh, serta ketakutan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dalam kondisi seperti itu, hilangnya kemampuan berbicara bukan sekadar gangguan psikologis. Ia adalah bahasa sunyi yang menggambarkan betapa dahsyat penderitaan yang mereka alami.
Anak-anak Gaza tidak hanya kehilangan rasa aman. Mereka juga kehilangan masa kecilnya. Ketika anak-anak di berbagai belahan dunia sibuk memikirkan permainan atau sekolah, anak-anak Gaza justru harus memikirkan bagaimana bertahan hidup hingga esok hari. Trauma yang mereka alami bukan terjadi sekali atau dua kali, tetapi terus berulang selama agresi berlangsung.
Karena itu, kondisi ini tidak bisa dipandang sekadar sebagai dampak sampingan perang. Derita yang dialami anak-anak Gaza merupakan akibat langsung dari kejahatan yang terus dilakukan entitas Zionis terhadap rakyat Palestina.
Serangan yang berlangsung selama bertahun-tahun tidak hanya menghancurkan rumah, sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas umum. Lebih dari itu, serangan tersebut juga menghancurkan ketenangan jiwa masyarakat, termasuk anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan.
Apa yang terjadi di Gaza menunjukkan bahwa target serangan bukan hanya fisik manusia dan bangunan, tetapi juga daya tahan mental sebuah generasi.
Ketika anak-anak tumbuh dalam ketakutan yang terus-menerus, dampaknya akan dirasakan jauh melampaui berakhirnya perang. Luka itu bisa menetap selama bertahun-tahun dan membentuk kehidupan mereka di masa depan.
Yang juga menyedihkan, dunia tampak tidak berdaya menghentikan tragedi ini. Berbagai pernyataan keprihatinan terus disampaikan. Bantuan kemanusiaan juga sesekali berhasil masuk.
Namun semua itu belum mampu menghentikan sumber penderitaan yang sebenarnya. Bom tetap dijatuhkan, korban terus bertambah, dan anak-anak Gaza terus hidup dalam trauma.
Sementara itu, negeri-negeri kaum muslim yang memiliki jumlah penduduk besar secara kekuatan ekonomi, bahkan kemampuan militer, belum mampu menghadirkan langkah yang benar-benar menghentikan penjajahan tersebut. Akibatnya, rakyat Palestina seolah terus dibiarkan menghadapi penderitaan mereka sendiri.
Padahal persoalan Gaza tidak akan selesai hanya dengan bantuan makanan, obat-obatan, atau terapi trauma. Semua itu memang penting dan mendesak, tetapi hanya mengobati sebagian dari luka yang ada. Selama penjajahan masih berlangsung, sumber penderitaan itu tetap ada dan akan terus melahirkan korban-korban baru.
Dalam pandangan Islam, penjajahan adalah kezaliman yang wajib dihilangkan. Karena itu, penderitaan anak-anak Palestina tidak cukup direspons dengan rasa iba semata. Negeri mereka harus dibebaskan dari penjajahan agar mereka dapat hidup dengan aman dan bermartabat.
Islam juga memandang bahwa umat membutuhkan institusi yang mampu menjadi pelindung dan perisai bagi kaum muslim.
Dalam sejarah Islam, peran tersebut dijalankan oleh khilafah yang menyatukan kekuatan umat dan menjaga wilayah kaum muslim dari agresi musuh. Karena itu, pembebasan Palestina tidak bisa dilepaskan dari upaya menghadirkan kembali kepemimpinan yang mampu melindungi umat dan menghentikan kezaliman yang menimpa mereka.
Tentu jalan menuju hal itu membutuhkan kesadaran dan perjuangan panjang. Namun satu hal yang pasti, anak-anak Gaza tidak boleh terus dibiarkan menanggung luka yang seharusnya tidak pernah mereka alami.
Mereka kehilangan suara bukan karena tidak ingin berbicara, tetapi karena penderitaan yang mereka rasakan terlalu besar untuk diungkapkan. Dunia boleh saja mengirim bantuan dan menyampaikan simpati, tetapi selama penjajahan masih berlangsung, derita itu tidak akan benar-benar berakhir.
Anak-anak Gaza tidak membutuhkan belas kasihan semata. Mereka membutuhkan kehidupan yang aman, tanah air yang merdeka, dan masa depan yang terbebas dari dentuman bom, puing-puing reruntuhan, serta bayang-bayang penjajahan yang telah merampas masa kecil mereka.
Wallahualam bisawab
Oleh: Selly Nur Amelia
Aktivis Muslimah

0 Komentar