Topswara.com -- Masih ingat komentar presiden "mau berapapun harga dolar, kalian yang di desa kan engga pakai dolar". Miris pernyataan seorang pejabat publik menanggapi situasi ekonomi yang makin tak karuan.
Alih-alih menenangkan rakyat, komentar dangkal yang terlontar menggambarkan nir empati pejabat terhadap penderitaan rakyat yang bahkan untuk bernafas saja makin sulit.
Melemahnya nilai rupiah jelas berimbas sangat signifikan terhadap rakyat, terutama para pengusaha kecil baik di kota maupun di pedesaan. Mengingat Indonesia sangat bergantung pada impor, membuat harga bahan baku seperti kedelai melonjak tajam. Belum lagi dengan kenaikan harga plastik kemasan, memperparah beban biaya produksi.
Tentu saja hal tersebut sangat berpengaruh terhadap para perajin tahu tempe di berbagai daerah. Mereka membeli bahan baku lebih mahal, ongkos produksi makin melejit, namun untuk menaikan harga sangatlah sulit. Daya beli masyarakat saat ini sedang merosot drastis.
Untuk mangatasi situasi sulit ini, para pedagang memilih memperkecil ukuran tempe dan mengurangi jumlah produksi. Tahu tempe notabene merupakan sumber protein yang harganya masih terjangkau di kalangan masyarakat. Namun dengan situasi seperti sekarang ini, masyarakat makin sulit untuk memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi.
Sebenarnya sumber daya alam Indonesia yang sangat melimpah. Tentu saja sangat memungkinkan bagi Indonesia untuk kembali menjadi negara dengan swasembada pangan seperti dahulu. Namun faktanya Indonesia sudah sangat bergantung pada impor. Ini menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi Kapitalis yang sedang diterapkan negara saat ini.
Hilangnya kemandirian negara, ibarat karpet merah bagi negara penjajah untuk mengobrak abrik kedaulatan negara. Dengan dalih kerja sama ekonomi, nyatanya stabilitas ekonomi nasional porak poranda akibat ketergantungan pada impor. Fluktuasi nilai mata uang pun akan memperparah inflasi.
Ketidak mampuannya negara mengendalikan nilai rupiah dan inflasi ini menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keberlangsungan usaha mikro. Para perajin tahu tempe saat ini terancam gulung tikar akibat harga kedelai impor yang makin tinggi.
Hal ini juga membuktikan bahwa ketergantungan negara pada impor mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi negara. Menjamurnya produk impor telah melemahkan kemampuan produksi dalam negeri. Perajin tempe tak mampu melanjutkan produksinya karena harga kedelai impor yang melonjak. Petani lokal pun tak mampu menghasilkan kedelai yang berkualitas karena harga pupuk impor yang tinggi.
Berbeda halnya dengan sistem ekonomi Islam yang menggunakan mata uang emas (dinar) dan perak (dirham) sebagai alat tukar. Mata uang ini telah digunakan selama lebih dari 14 abad dan terbukti sebagai mata uang paling stabil di dunia, sehingga tidak mudah dipermainkan para spekulan.
Dengan kuatnya mata uang, negara memiliki daya tawar yang tinggi sehingga mampu menghidupkan perekonomian secara mandiri. Lahan pertanian digarap secara mandiri untuk dan oleh warga negara. Perindustrian pun perkembang pesat karena rantai pasok bahan baku di suplai oleh petani lokal, tidak bergantung pada impor. Sehingga negara memiliki keanpuan untuk mengatur harga pasca produksi.
Sistem politik dan ekonomi Islam pun berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu, termasuk melindungi perajin kecil dari tekanan ekonomi. Pemerintah akan menciptakan suasana usaha yang kondusif bagi para perajin kecil.
Swasembada pangan akan digalakan mulai dari petani hingga para produsen dan pelaku usaha kecil, sehingga akan menggerakkan roda perekonomian mulai dari hulu sampai hilir. Penyediaan bahan baku yang berkualitas, murah dan harga yang stabil akan membantu para perajin kecil ini berkembang, menguatkan usahanya, rakyat akan dimudahkan dengan tersedianya bahan pangan yang berkualitas dan murah.
Semua ini bisa kita nikmati ketika sistem ekonomi Islam kembali diterapkan oleh negara sebagai institusi tertinggi. Hanya Islam yang mampu menciptakan kehidupan yang rahmatan lil 'alamiin. Hanya Islam yang akan mensejahterakan seluruh makhluk melalui sistem ekonomi Islam yang mandiri.
Wallahu'alam Bissawab
Oleh: Vini Setiyawati
Aktivis Muslimah

0 Komentar