Topswara.com -- Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang penguasa yang memimpin manusia adalah pengurus (rakyatnya), dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya" (HR. Bukhari Muslim).
Kenaikan harga kedelai impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah menguji kesabaran dan kreativitas para perajin tahu-tempe di Jakarta, seperti di Pasar Rumput dan Pasar Senen, yang memilih bersikap jujur dan bijaksana dengan menyusutkan ukuran tempe hingga 5 persen demi menjaga harga tetap stabil di angka Rp10.000 per papan.
Ikhtiar ini menjadi jalan tengah agar hidangan bergizi tersebut tetap terjangkau oleh masyarakat kecil sekaligus melindungi usaha mereka dari kerugian tanpa harus menzalimi konsumen.
Di tengah himpitan ekonomi kapitalistik ini, terselip harapan dan doa yang kuat dari para pedagang agar tata kelola pangan segera pulih dari sengkarut ketergantungan impor (kumparan.com, 23/05/2026).
Di sudut rumah produksinya di Depok, Deli (66) tetap setia menjaga asap tungku tempenya mengepul demi menghidupi keluarga lewat usaha yang telah dirintisnya selama hampir 40 tahun.
Namun, rutinitas melelahkan merendam, menggiling, dan meragi kedelai kini kian terasa berat akibat lonjakan harga kedelai impor dari Rp8.000 menjadi Rp11.000 per kilogram imbas melemahnya nilai rupiah.
Ketergantungan pada kedelai impor yang pasokannya lebih pasti ketimbang kedelai lokal membuat perajin kecil seperti Deli berada di posisi dilematis. Demi mencegah pelanggannya lari, ia memilih jalan kompromi dengan mengecilkan ukuran tempe dan bertahan di harga Rp8.000 per bungkus sembari menatap ketidakpastian harga ke depan (kompas.id, 23/05/2026).
Keterpurukan perajin tahu-tempe akibat pelemahan rupiah dan mahalnya kedelai impor sebetulnya menjadi bukti nyata betapa rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang terus memelihara ketergantungan dan menyulitkan hidup rakyat kecil.
Naiknya harga bahan baku dan plastik kemasan ini sekaligus menyingkap lemahnya peran negara yang seharusnya hadir sebagai pengayom, namun justru membiarkan para pelaku usaha kecil berjuang sendirian tanpa perlindungan yang berarti.
Sungguh menyedihkan ketika negeri yang subur ini kehilangan kemandirian pangan dan ekonominya hingga harus bergantung pada belas kasihan pasar global dan barang impor yang nilainya mencapai triliunan rupiah.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik daripada makanan yang diperoleh dari hasil usaha tangannya sendiri." (HR. Bukhari No. 2072).
Dalam pandangan Islam, membiarkan urusan hajat hidup publik dikendalikan oleh kepentingan asing dan mengabaikan kedaulatan pangan adalah sebuah kelalaian besar dalam menjaga amanah, sebab pemimpin yang bertakwa sudah semestinya membangun kemandirian ekonomi umat agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh sistem yang tidak berkeadilan.
Sistem ekonomi global saat ini kerap terjebak dalam permainan spekulan yang merugikan rakyat kecil akibat ketergantungan pada mata uang kertas yang rapuh.
Sebagai solusi yang adil, sistem Khilafah Islamiah menerapkan mata uang berbasis dinar emas dan dirham perak, sebuah ketetapan syariat yang terbukti menjaga stabilitas nilai uang secara hakiki dari inflasi.
Melalui ketahanan moneter yang kokoh ini, negara mampu mengalihkan fokusnya untuk menghidupkan lahan-lahan pertanian yang mati demi membangun kedaulatan pangan, seperti memproduksi kedelai secara mandiri.
Langkah strategis ini mengakhiri ketergantungan pada jerat impor dan memastikan bahwa urusan perut umat tidak lagi disetir oleh kepentingan asing atau korporasi besar.
Semua kebijakan tersebut lahir dari fondasi politik ekonomi Islam yang menempatkan pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu masyarakat sebagai kewajiban mutlak pemimpin, bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan materiil semata.
Penguasa bertindak sebagai pelayan umat yang mengurusi hajat hidup mereka secara adil, termasuk melindungi para perajin kecil dari hantaman dan monopoli kapitalistik yang seringkali menindas.
Melalui perlindungan ekonomi yang manusiawi ini, Islam memastikan kekayaan tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang mandiri, sejahtera, dan penuh berkah di bawah ridha Allah SWT. []
Oleh: Fatma Komala
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar