Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Satu Menit Marah Bisa Menghancurkan Bertahun-tahun Pernikahan


Topswara.com -- Ada satu rahasia rumah tangga yang jarang diajarkan saat akad nikah. Bukan tentang cara menyusun anggaran bulanan. Bahkan bukan tentang cara memasak rendang yang empuknya bisa membuat mertua lupa pernah mengkritik menantunya. Rahasia itu adalah kemampuan mengelola emosi.

Karena ternyata banyak pernikahan tidak hancur karena kurang cinta. Tidak pula karena hadirnya orang ketiga. Tetapi karena terlalu banyak kemarahan yang tidak terkendali akibat kecemburuan.

Lucunya, saat masih pendekatan, semua orang terlihat sabar. Chat dibalas satu jam kemudian? Tidak masalah. Janji ketemu terlambat? Tidak apa-apa. Salah paham sedikit? Masih bisa senyum.

Tetapi setelah menikah, pasangan tidak segera membalas pesan. Marah. Lupa pamit keluar. Marah. Salah menjawab pertanyaan. Marah.

Kadang yang berubah bukan cintanya. Yang berubah adalah kemampuan menahan emosi. Padahal Rasulullah Saw sudah mengingatkan, "Lā taghdab wa lakal jannah." (Jangan marah, maka bagimu surga). (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Nasihat yang terlihat sederhana, tetapi mampu menyelamatkan begitu banyak hubungan. Coba bayangkan, berapa banyak ucapan talak suami keluar saat istri terlalu banyak tuntutan? Berapa banyak suami yang menyesal setelah mengucapkan kalimat kasar kepada istrinya?

Berapa banyak istri yang menangis karena satu ucapan yang keluar saat emosi suami memuncak? Berapa banyak keluarga yang retak bukan karena masalah besar, tetapi karena ego yang sama-sama ingin menang?

Kadang kerusakan yang dibangun hanya dalam lima menit pertengkaran membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan bahwa marah bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Marah adalah fitrah manusia. Namun marah harus dikendalikan oleh akal dan syariat. Karena ketika marah mengambil alih, manusia sering mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ia maksudkan.

Masalahnya, luka akibat ucapan tidak selalu sembuh dengan cepat. Kata maaf memang penting. Tetapi tidak semua luka selesai hanya dengan kata maaf.

Ada hati yang membutuhkan waktu lama untuk pulih. Ada kepercayaan yang susah dibangun kembali. Ada kenangan yang terus membekas meski pertengkaran sudah lama berlalu. Itulah sebabnya orang yang paling kuat dalam rumah tangga bukanlah yang paling dominan. Bukan pula yang paling banyak menang saat berdebat. Orang terkuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kemampuan menahan amarah adalah tanda kekuatan jiwa yang sesungguhnya dan dalam pernikahan, kekuatan jiwa jauh lebih penting daripada kekuatan suara. Karena suara keras tidak pernah menyelesaikan masalah. Yang menyelesaikan masalah adalah kebijaksanaan.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa seorang Muslim harus menjadikan syariat sebagai pengendali perilakunya, bukan hawa nafsu. Termasuk saat menghadapi pasangan. Sebab ketika hawa nafsu memimpin, suami dan istri akan sibuk mencari siapa yang salah. Namun ketika syariat memimpin, keduanya akan sibuk mencari ridha Allah dan itu perbedaan yang sangat besar.

Pernikahan yang bertahan puluhan tahun bukanlah pernikahan tanpa masalah. Pernikahan yang bertahan puluhan tahun adalah pernikahan yang diisi dua orang yang terus belajar mengendalikan dirinya.

Belajar meminta maaf.
Belajar memaafkan.
Belajar diam ketika marah. Belajar bicara ketika hati sudah tenang.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling sering menang. Tetapi tentang siapa yang paling mampu menjaga hati pasangannya.

Sebab satu menit kemarahan bisa menghancurkan bertahun-tahun kebersamaan. Namun satu menit kesabaran bisa menyelamatkan sebuah pernikahan. Barakallahufikum. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar