Topswara.com -- Ketika gelombang demonstrasi kembali memenuhi ruang-ruang publik, dari jalanan ibu kota hingga dinding-dinding media sosial, muncul pula nasihat yang terdengar teduh di permukaan: “para mahasiswa diimbau untuk meneladani Nabi Musa, berbicara santun ketika menyampaikan kritik kepada Fir’aun.” Nasihat itu terdengar indah, bahkan terlihat Islami di telinga.
Namun di tengah riuh kebijakan yang terus berjalan dan suara rakyat yang terus mengetuk, sebagian orang diam-diam bertanya: apakah yang lebih dibutuhkan hari ini hanya kesantunan bicara, atau juga kesediaan untuk benar-benar mendengar?
Seakan-akan masalah utama telah selesai jika nada suara diperhalus, padahal yang dipersoalkan bukan hanya cara bicara, tetapi juga apakah pintu istana masih terbuka untuk suara yang datang dari bawah.
Di titik ini, ironi halus terasa mengambang: Musa diperintahkan berbicara lembut kepada Fir’aun, tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa Fir’aun tetaplah Fir’aun seorang penguasa yang menutup telinga dari kebenaran, meski telah disapa dengan kata-kata yang paling lembut sekalipun.
Di sebuah negeri yang gemerlap oleh janji-janji kesejahteraan, suara rakyat kembali terdengar seperti desir angin yang mencoba masuk melalui celah-celah istana kekuasaan. Jalanan ramai oleh kritik, kampus-kampus hidup oleh diskusi, dan media sosial berubah menjadi lautan keluhan yang tak pernah benar-benar tenang.
Namun di tengah riuh itu, singgasana kekuasaan tampak tetap tegak, seakan tidak tergoyahkan oleh gelombang suara yang datang silih berganti.
Seolah-olah, kekuasaan sedang duduk di atas singgasana yang tinggi, sementara suara rakyat terdengar dari bawah seperti gema yang tidak selalu sampai ke telinga yang diharapkan. Kebijakan terus berjalan, program terus digulirkan, sementara sebagian rakyat merasa seperti penonton dalam panggung besar yang tidak sepenuhnya mereka pahami alurnya.
Kisah Musa dan Fir’aun dalam suasana seperti ini, seakan kembali hidup dalam bentuk yang berbeda. Bukan lagi dalam bentuk tongkat yang membelah lautan, tetapi dalam bentuk “tongkat kritik nasehat” yang mengetuk keras dinding benteng kekuasaan.
Al-Qur’an menggambarkan Fir’aun sebagai simbol kekuasaan yang merasa paling tinggi:
فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ ٢٤
“Akulah tuhan kalian yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)
Ayat ini bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi refleksi tentang bagaimana kekuasaan bisa tergelincir ketika ia merasa tidak perlu lagi mendengar. Fir’aun tidak hanya menolak kebenaran, tetapi juga menutup telinga dari suara yang mengingatkannya.
Hari ini, tentu tidak ada yang mengklaim ketuhanan seperti Fir’aun. Namun “singgasana” kekuasaan tetap memiliki godaan yang sama: rasa cukup, rasa paling tahu, dan rasa paling benar. Di titik inilah kritik rakyat sering kali berubah makna dari nasihat menjadi gangguan, dari aspirasi menjadi ancaman.
Musa datang bukan dengan pedang, tetapi dengan kalimat yang lembut:
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Dan berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)
Namun Fir’aun menutup pintu hatinya. Di sinilah tongkat Musa menjadi simbol: bahwa kebenaran tidak selalu diterima dengan kelembutan saja, ketika kesombongan telah mengeras seperti batu.
“Tongkat Musa” hari ini bisa saja dimaknai kesadaran publik, kritik mahasiswa, suara rakyat kecil, dan transparansi informasi. Ia mengetuk singgasana, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membangunkan.
Namun singgasana yang terbiasa nyaman sering kali lebih peka terhadap stabilitasnya sendiri daripada suara di sekelilingnya. Maka kritik pun kadang dianggap seperti gangguan terhadap ketertiban, bukan sebagai bagian dari mekanisme perbaikan.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. رواه مسلم
“Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim)
Nasihat itu tidak selalu lembut dalam bentuknya, tetapi selalu tulus dalam tujuannya. Bahkan dalam riwayat lain beliau bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Umar bin Khattab r.a. bahkan pernah berkata, “Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mengatakannya, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mendengarnya.” Sebuah pengakuan jujur bahwa kekuasaan tanpa kritik adalah tubuh tanpa cermin.
Namun realitas sering kali tidak sesederhana idealitas. Ketika kepentingan bertemu dengan kebijakan, ketika anggaran bertemu dengan janji, dan ketika program bertemu dengan ekspektasi rakyat, maka ruang tafsir menjadi sangat luas.
Di sinilah jarak antara penguasa dan rakyat bisa melebar tanpa terasa.
Ibarat seorang nahkoda yang mengarahkan kapal besar, ia mungkin fokus pada peta dan kompas di tangannya, sementara kapal yang berlubang hanya dapat diketahui penumpang, dan guncangan ombak justru dirasakan yang tidak selalu terlihat dari ruang kemudi.
Keduanya benar dalam sudut pandang masing-masing, tetapi keduanya tidak akan bertemu tanpa komunikasi yang jernih. Jika nahkoda kapal masih mengabaikan keluhan, kritik, nasehat dari rakyat, tidak mau menerima kebenaran maka tunggu kehancurannya, sebagaimana Fir’aun tenggelam di Laut Merah.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab Nizham al-Hukm fi al-Islam, bahwa kekuasaan dalam Islam bukanlah alat untuk melayani kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan amanah untuk menerapkan hukum Allah dalam mengatur urusan manusia.
Negara dalam pandangan ini berfungsi sebagai pengurus (raa’in), bukan sekadar pengelola kekuasaan. Ketika fungsi ini bergeser, maka hubungan antara penguasa dan rakyat pun berubah menjadi hubungan kepentingan, bukan hubungan amanah.
Di sinilah kritik menjadi sangat penting. Karena dalam pandangan Islam, rakyat tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga bagian dari kontrol sosial melalui amar makruf nahi mungkar. Sistem yang sehat bukan sistem yang sunyi dari kritik, tetapi sistem yang mampu mengolah kritik menjadi perbaikan.
Sayangnya, dalam banyak realitas politik saat ini, kritik sering kali hanya berputar di permukaan. Ia seperti mengetuk kaca yang tebal: terdengar, tetapi tidak selalu menembus ruang keputusan. Akibatnya, rakyat merasa jauh, dan kekuasaan merasa disalahpahami.
Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini mengisyaratkan pentingnya kehati-hatian dalam membuat keputusan, termasuk dalam kebijakan publik. Sebab keputusan yang tidak berbasis pemahaman mendalam akan mudah melahirkan ketidakpuasan.
Jika ditarik lebih jauh, kisah Musa dan Fir’aun bukan hanya tentang konfrontasi, tetapi tentang komunikasi yang gagal menemukan titik temu. Fir’aun tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kerendahan hati untuk menerima kebenaran.
Di sini tongkat Musa menjadi simbol terakhir: ketika kata-kata tidak lagi didengar, maka realitas akan berbicara lebih keras. Dalam sejarah, Fir’aun akhirnya ditenggelamkan oleh laut yang dulu ia anggap sebagai jalan kekuasaan.
Namun pesan utamanya bukan pada kehancuran, tetapi pada peringatan: bahwa kekuasaan yang menutup diri dari nasihat akan selalu berhadapan dengan gelombang yang lebih besar dari yang ia perkirakan.
Dalam pandangan banyak ulama, termasuk Ibn Taymiyyah, kekuasaan yang adil adalah kekuasaan yang terbuka terhadap koreksi. Ia mengatakan bahwa keadilan negara akan tegak ketika pemimpin bersedia mendengar kebenaran, bahkan jika kebenaran itu pahit bagi dirinya.
Maka hubungan penguasa dan rakyat sejatinya bukan hubungan satu arah. Ia adalah percakapan panjang antara amanah dan harapan. Ketika percakapan itu terputus, maka yang tersisa hanya dua kemungkinan: diam yang menyesakkan, atau suara yang semakin keras.
Dan di titik inilah “tongkat Musa” itu kembali terasa relevan. Bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai pengingat bahwa setiap singgasana, seberapa pun tingginya, tetap membutuhkan ruang untuk mendengar.
Sebab kekuasaan yang tidak mendengar akan selalu dipaksa mendengar oleh kenyataan. Dan kenyataan, seperti sejarah Fir’aun, tidak pernah bisa dibungkam selamanya.
Oleh: Tri Widarti, S.Pd.I.
Aktivis Muslimah Kab. Semarang

0 Komentar