Topswara.com -- Jalan Mengenal Allah yang Melahirkan Cinta, Takwa, dan Kebahagiaan Hakiki
Makrifat (ma'rifah) merupakan salah satu maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual seorang mukmin. Makrifat bukan sekadar mengetahui keberadaan Allah secara intelektual, tetapi mengenal-Nya dengan keyakinan yang kokoh, hati yang hidup, dan kesadaran yang melahirkan ketundukan total kepada-Nya.
Menurut Izzuddin bin Abdussalam—ulama besar yang dijuluki Sulthanul Ulama—hakikat makrifat adalah mengenal Allah melalui pengenalan terhadap nama-nama-Nya yang indah (Asmaul Husna), sifat-sifat-Nya yang sempurna, perbuatan-perbuatan-Nya, serta tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta dan dalam diri manusia.
Makin dalam makrifat seseorang, semakin besar pula rasa takut (khasyah), cinta (mahabbah), harapan (raja'), tawakal, dan keikhlasannya kepada Allah.
Makrifat Berasal dari Ilmu yang Benar
Dalam pandangan beliau, makrifat tidak lahir dari khayalan, mimpi, ilham yang tidak teruji, atau pengalaman mistik semata. Makrifat tumbuh dari: Ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Tadabbur terhadap ayat-ayat Allah. Perenungan terhadap ciptaan Allah. Penyucian jiwa melalui amal shalih. Ketaatan yang terus-menerus. Dengan demikian, ilmu adalah pintu makrifat, sedangkan amal adalah buahnya.
Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
“(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fatir ayat 28)
Yang dimaksud dengan para ulama adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang syariat serta fenomena alam dan sosial yang menghasilkan rasa takut disertai pengagungan kepada Allah Swt.
Ayat ini menunjukkan bahwa semakin seseorang mengenal Allah, semakin besar rasa takutnya untuk bermaksiat kepada-Nya.
Makrifat Melahirkan Mahabbah
Menurut Izzuddin bin Abdussalam, cinta kepada Allah tidak mungkin tumbuh tanpa makrifat. Seseorang mencintai sesuai kadar pengenalannya. Makin mengenal kasih sayang Allah, makin besar rasa syukur. Makin mengenal keagungan-Nya, makin besar ketundukan. Makin mengenal hikmah-Nya, semakin kecil keluh kesah terhadap takdir.
Karena itu para ulama mengatakan:
"Barang siapa paling mengenal Allah, dialah yang paling mencintai-Nya."
Makrifat Menumbuhkan Rasa Takut dan Harapan
Makrifat menghasilkan keseimbangan antara: takut terhadap azab Allah, berharap kepada rahmat-Nya, dan mencintai-Nya. Ketiga unsur ini menjadi fondasi ibadah yang sehat. Orang yang hanya takut akan mudah berputus asa.
Orang yang hanya berharap dapat terjerumus dalam sikap meremehkan dosa.
Sedangkan orang yang benar-benar mengenal Allah akan berjalan menuju-Nya dengan rasa takut, harapan, dan cinta secara seimbang.
Makrifat Tampak dalam Akhlak
Ukuran makrifat bukan banyaknya pengalaman spiritual, melainkan perubahan akhlak. Makin mengenal Allah, seseorang akan semakin: rendah hati, jujur, penyayang, sabar, dermawan, mudah memaafkan, ikhlas, zuhud terhadap dunia, dan istiqamah dalam ibadah. Makrifat yang tidak mengubah perilaku belum mencapai hakikatnya.
Makrifat Melalui Tadabbur Alam
Izzuddin bin Abdussalam menekankan pentingnya merenungi ciptaan Allah.
Langit yang luas. Pergantian siang dan malam. Keteraturan alam. Tubuh manusia.
Kelahiran dan kematian. Seluruhnya merupakan ayat-ayat yang mengantarkan hati menuju pengenalan kepada Sang Pencipta.
Allah berfirman: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar." (QS. Fussilat: 53).
Makrifat Adalah Jalan Kebahagiaan
Menurut beliau, kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, jabatan, ataupun popularitas. Kebahagiaan hakiki lahir ketika hati mengenal Allah. Hati yang mengenal Allah akan: tenang ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, sabar ketika kehilangan, ikhlas ketika beramal, ridha terhadap keputusan Allah.
Inilah makna firman Allah:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Makrifat menjadikan zikir bukan sekadar ucapan lisan, tetapi kesadaran yang terus hidup dalam hati.
Perspektif Dakwah Ideologis-Sufistik
Dalam perspektif dakwah ideologis sufistik, makrifat bukanlah pelarian dari realitas sosial, melainkan sumber energi untuk membangun peradaban Islam.
Orang yang mengenal Allah akan menyadari bahwa seluruh aktivitas hidup adalah amanah. Ia tidak memisahkan ibadah dari perjuangan menegakkan keadilan, menebarkan rahmat, serta menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat.
Makrifat yang benar melahirkan keseimbangan antara: kekuatan akidah, kedalaman spiritual, keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Dengan demikian, seorang arif bukan hanya tekun berzikir di tempat ibadah, tetapi juga menjadi pribadi yang jujur dalam muamalah, adil dalam memimpin, amanah dalam bekerja, serta peduli terhadap kemaslahatan umat.
Langkah-Langkah Menuju Makrifat
Beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk mendekati maqam makrifat adalah:
Pertama, meluruskan akidah berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Kedua, menuntut ilmu syar'i secara berkesinambungan. Ketiga, memperbanyak tadabbur terhadap ayat-ayat Allah dan ciptaan-Nya. Keempat, menjaga ibadah wajib dan memperbanyak ibadah sunnah. Kelima, memperbanyak zikir, doa, dan istigfar. Keenam, membersihkan hati dari riya', hasad, ujub, dan cinta dunia yang berlebihan. Ketujuh, bergaul dengan orang-orang saleh dan berakhlak mulia. Kedelapan, mengamalkan ilmu dengan penuh keikhlasan.
Penutup
Menurut Izzuddin bin Abdussalam, hakikat makrifat adalah pengenalan yang benar terhadap Allah yang melahirkan perubahan menyeluruh dalam cara berpikir, merasakan, dan bertindak.
Makrifat bukan tujuan yang berhenti pada pengalaman batin, tetapi jalan yang membentuk manusia menjadi hamba yang paling taat, paling ikhlas, paling mencintai Allah, dan paling bermanfaat bagi sesama.
Makin dalam seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari kelemahan dirinya, semakin kuat tawakalnya, semakin lembut akhlaknya, dan semakin besar kesungguhannya dalam beribadah serta menebarkan kebaikan.
Pada puncaknya, makrifat menghadirkan ketenteraman hati, kejernihan pandangan hidup, dan kebahagiaan hakiki yang tidak bergantung pada keadaan dunia, melainkan pada kedekatan dengan Allah Yang Maha Sempurna.
Oleh: Dr Nasrul Syarif M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit

0 Komentar