Topswara.com -- Masyarakat Indonesia kembali di cemas, setelah kabar PHK massal akan kembali terjadi, kali ini di lakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang banyak menyerap tenaga kerja.
Setelah sebelumnya terjadi PHK di beberapa perusahaan daerah yang mengakibatkan banyaknya pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan baru. Lalu bagaimana nasibnya?
Bagaimana pula dengan lulusan baru baik itu dari Perguruan tinggi ataupun dari sekolah menengah atas( SMA) ataupun SMK (sekolah menengah kejuruan) bagaimana nasib mereka?
Ancaman pemutusan hubungan kerja belum mereda dalam waktu dekat, situasi ini terjadi seiring tekanan konflik global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan kenaikan biaya produksi yang berpotensi perusahaan kesulitan bertahan ataupun bersaing.
Menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus artai buruh, Said Iqbal, ancaman PHK membayangi pekerja. Seperti yang terjadi di perusahaan manufaktur di Depok, Jawa Barat.
Perusahaan ini menutup oprasionalnya yang menyebabkan ratusan pekerja mengalami PHK. Dan masih banyak lagi perusahaan lain yang harus melakukan PHK sejumlah karyawannya. (kompas.com/ 25/05/2026)
Begitu miris dengan kondisi rakyat yang katanya kaya akan sumberdaya alamnya, angka pengangguran tinggi, sedangkan kekayaan alam di serahkan dan dikelola oleh swasta asing dan aseng.
Janji pemerintah saat kampanye akan menyediakan lowongan pekerjaan sangat kontra dengan kenyataan, bagaimana tidak persaingan mencari kerja sangat sulit dan begitu ketat, satu lowongan pekerjaan di lamar oleh ribuan orang, bahkan mereka rela antri di jobfair, berdesakan di yayasan-yayasan penyalur tenaga kerja.
Bukan hanya rasa lelah, namun modal yang di keluarkan untuk membuat surat lamaran, bekal selama menunggu antrian dan lain-lain pasti membutuhkan uang.
PHK adalah sebuah hal yang logis dalam sistem kapitalisme yang menjadikan buruh sebagai komoditas. Buruh hanya dijadikan alat produksi untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya, dengan upah minimum serendah-rendahnya.
Sistem kapitalisme juga memusatkan modal pada segelintir orang, sehingga lapangan kerja terbatas, bukan karena kurangnya kebutuhan kerja melainkan hanya dibuka jika menguntungkan pemilik modal.
Selain itu, negara dalam sistem kapitalisme sama sekali tidak berpihak pada kepentingan rakyat, negara hanya berperan sebagai penjaga kepentingan para pemilik modal, mereka rela mengorbankan kepentingan rakyat demi menyenangkan hati para tuannya.
Sejatinya negeri ini adalah negeri pengekor, maka apapun kebijakan yang dilakukan untuk rakyat adalah sesuai pesanan asing. Jadi ketika gelombang PHK melanda, negara kapitalis paling jauh hanya menawarkan jaring pengaman sosial. Dan itupun tidak merata, hanya untuk segelintir orang saja.
Begitu kejamnya sistem kapitalisme saat ini, berbanding terbalik dengan sistem Islam. Negara dalam Islam adalah raa'in, atau pengurus, pelindung dan penjaga bagi rakyatnya. Negara wajib menjamin lapangan kerja bagi bagi pencari nafkah, sebagai bagian dari tanggungjawab menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Rakyat tidak dibiarkan berjuang sendiri untuk menjalani kehidupannya, kebutuhan ekonomi diatur sedemikian rupa, karena sistem ekonomi Islam akan memutus rantai ketergantungan pada modal kapitalis. Mata uang pun tidak akan mengalami perubahan, karena dalam sistem ekonomi Islam menggunakan dinar dirham ataupun emas perak sebagai alat tukar yang stabil.
Khilafah akan membangun struktur kepemilikan yang mencegah monopoli dan ketimpangan. Distribusi kepemilikan yang adil ini menciptakan ekosistem ekonomi yang luas dan beragam. Pengelolaan sumberdaya alam yang tepat dan menyerap tenaga kerja dari rakyat itu sendiri.
Dalam Islam juga ada baitul mal yang hadir sebagai jaminan nyata. Karena negara dalam Islam yaitu khilafah wajib memenuhi pelayanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara langsung bagi setiap individu rakyatnya tanpa memandang status dan kedudukan.
Semua itu bisa terwujud ketika sistem Islam di terapkan dalam institusi negara yaitu daulah khilafah 'alaa minhajjin nubuwwah. Untuk itu segera kita hempaskan sistem kapitalisme rusak dan merusak ini dan berjuang mewujudkan apa yang di janjikan Allah dan Rasul-Nya.
Wallahualam Bishawab.
Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah

0 Komentar