Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pertamax Naik, Rakyat Kembali Menanggung Beban


Topswara.com -- Kenaikan harga Pertamax kembali menambah daftar panjang beban hidup yang harus ditanggung masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, masyarakat kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa biaya transportasi dan mobilitas sehari-hari akan makin mahal. 

PT Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar 32 persen. Kenaikan ini merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. (Reuters, Rabu 10 Juni 2026)

Meski pemerintah menyatakan dampaknya terhadap inflasi relatif terbatas karena Pertamax bukan BBM yang digunakan transportasi umum, kenyataannya kenaikan harga BBM hampir selalu menimbulkan efek berantai. 

Biaya distribusi barang berpotensi meningkat, ongkos perjalanan bertambah, dan daya beli masyarakat semakin tertekan. Pada akhirnya, rakyatlah yang harus menyesuaikan pengeluaran agar tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. (Reuters, Rabu 10 Juni 2026)

Kenaikan harga BBM sebenarnya bukan peristiwa baru. Hampir setiap kali harga minyak dunia bergejolak, masyarakat Indonesia ikut merasakan dampaknya. Padahal Indonesia merupakan negeri yang memiliki sumber daya energi melimpah. Ironisnya, rakyat di negeri yang kaya energi justru berulang kali harus menghadapi ketidakstabilan harga energi.

Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam tata kelola sumber daya alam. Dalam sistem kapitalisme, sumber daya energi dipandang sebagai komoditas ekonomi yang mengikuti mekanisme pasar. 

Akibatnya, harga energi sangat dipengaruhi dinamika global. Ketika harga minyak dunia naik, masyarakat ikut menanggung konsekuensinya meskipun sumber daya tersebut berasal dari negeri sendiri.

Padahal Islam memiliki pandangan yang berbeda. Rasulullah saw. bersabda, "Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api." (HR Abu Dawud). 

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dasar bahwa sumber daya yang menjadi kebutuhan vital masyarakat tidak boleh dikuasai segelintir pihak untuk meraih keuntungan. Negara wajib mengelolanya untuk sebesar-besar kemaslahatan rakyat.

Dalam sistem ekonomi Islam, sumber daya energi termasuk kepemilikan umum yang harus dikelola negara dan hasilnya dikembalikan kepada masyarakat. Negara tidak menjadikan sektor energi sebagai sumber keuntungan bisnis, melainkan sebagai sarana pelayanan publik. 

Dengan mekanisme ini, rakyat tidak terus-menerus dibayangi kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan.

Kenaikan harga Pertamax kembali mengingatkan bahwa persoalan energi bukan sekadar masalah harga. Persoalan ini berkaitan dengan paradigma pengelolaan sumber daya alam. 

Selama energi diposisikan sebagai komoditas ekonomi yang tunduk pada mekanisme pasar, masyarakat akan terus menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. 

Karena itu, diperlukan perubahan mendasar dalam pengelolaan sumber daya alam agar kekayaan negeri benar-benar menjadi sarana mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya.


Oleh: Sera Alfi Hayunda, S.Pd. 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar