Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Muharam, Saatnya Hijrah Memperjuangkan Islam Kaffah


Topswara.com -- Muharam kembali hadir mengawali tahun baru Hijriah. Bagi umat Islam, Muharam bukan sekadar pergantian waktu, tetapi momentum untuk menghidupkan kembali makna hijrah yang dicontohkan Rasulullah Saw.

Hijrah bukan hanya perubahan individu menuju ketaatan, melainkan juga langkah menuju terwujudnya kehidupan yang diatur oleh Islam secara kaffah. Karena itu, Muharam menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan sejauh mana kita telah berhijrah dan berkontribusi dalam perjuangan Islam.

Berbagai persoalan terus membelit kehidupan umat sepanjang tahun. Di dalam negeri, rakyat dihadapkan pada berbagai kesulitan yang tak kunjung terselesaikan. Kemiskinan masih menjadi kenyataan yang dialami banyak keluarga, sementara kesenjangan sosial semakin terasa. 

Di saat yang sama, berbagai problem moral dan sosial terus bermunculan, mulai dari maraknya perjudian, prostitusi, eksploitasi seksual terhadap perempuan dan anak, perundungan (bullying), penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai tindak kekerasan yang semakin mengkhawatirkan. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa kerusakan tidak hanya terjadi pada aspek ekonomi, tetapi juga telah merambah kehidupan sosial dan moral masyarakat.

Di bidang ekonomi, kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan yang layak, serta menurunnya daya beli masyarakat semakin menambah beban kehidupan rakyat. 

Sementara itu, berbagai kasus korupsi yang melibatkan pejabat dan pengelola kekayaan negara terus terungkap silih berganti, memperlihatkan betapa tata kelola yang ada masih jauh dari harapan masyarakat.

Pada level internasional, penderitaan umat Islam juga belum berakhir. Genosida yang dilakukan terhadap rakyat Palestina masih terus berlangsung. Ribuan nyawa melayang, rumah-rumah dihancurkan, fasilitas kesehatan dan pendidikan diluluhlantakkan, sementara blokade dan kelaparan digunakan sebagai alat untuk menekan rakyat Gaza. 

Di tengah tragedi kemanusiaan yang memilukan ini, respons dunia internasional, termasuk banyak negeri Muslim, belum mampu menghentikan kezaliman yang terjadi. Umat Islam menyaksikan saudara-saudaranya dibantai, tetapi kekuatan politik yang seharusnya mampu melindungi mereka belum hadir secara nyata.

Kondisi ini menunjukkan bahwa problem yang dihadapi umat bukanlah persoalan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan terjadi di berbagai bidang kehidupan sekaligus: ekonomi, sosial, moral, politik, hingga hubungan internasional. 

Karena itu, pergantian tahun Hijriah bukan sekadar momentum untuk menghitung bertambahnya usia, melainkan saat yang tepat untuk merenungkan keadaan umat secara jujur.

Muharam 1448 (seribu empat ratus empat puluh delapan) Hijriah telah tiba, namun kondisi umat Islam masih jauh dari predikat khairu ummah yang Allah anugerahkan kepada umat yang menegakkan amar makruf nahi mungkar dan beriman kepada-Nya.

Berbagai persoalan yang menimpa umat saat ini bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Krisis ekonomi, kerusakan moral, ketidakadilan sosial, serta lemahnya posisi umat Islam di tingkat global menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yaitu sistem kehidupan yang diterapkan.

Saat ini kehidupan diatur oleh sistem sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan manfaat materi sebagai standar utama. Akibatnya, ukuran halal dan haram semakin tersisih oleh pertimbangan keuntungan dan kepentingan. Dari sinilah lahir berbagai kerusakan di bidang ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.

Di tingkat internasional, lemahnya pembelaan terhadap kaum Muslim, termasuk di Palestina, menunjukkan absennya institusi politik yang mampu menyatukan dan melindungi umat. Umat Islam yang besar secara jumlah justru tercerai-berai oleh nasionalisme dan batas-batas negara sehingga tidak memiliki kekuatan yang efektif untuk menjaga kepentingan mereka secara kolektif.

Karena itu, berbagai krisis yang terjadi hari ini tidak cukup diselesaikan dengan solusi parsial. Persoalan yang bersifat sistemis membutuhkan perubahan yang menyentuh akar persoalan dan menghadirkan kembali aturan Islam sebagai pedoman kehidupan.

Muharam hendaknya menjadi momentum refleksi sekaligus momentum perubahan. Berbagai problem yang menimpa umat saat ini harus disadari bukan sebagai nasib yang tidak dapat diubah, melainkan sebagai akibat dari jauhnya kehidupan manusia dari aturan Allah Swt. 

Ketika hukum dan petunjuk-Nya tidak dijadikan landasan dalam mengatur kehidupan, maka berbagai bentuk kerusakan akan terus bermunculan dan berulang.

Dalam konteks ini, makna hijrah perlu dipahami secara lebih mendalam. Hijrah bukan sekadar berpindah dari maksiat menuju ketaatan dalam kehidupan pribadi. Hijrah juga berarti berpindah dari kondisi kehidupan yang tidak diatur dengan syariat Allah menuju kehidupan yang menjadikan Islam sebagai pedoman secara menyeluruh. 

Dengan demikian, semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah saw. tidak berhenti pada perubahan individu, tetapi berlanjut pada perjuangan mewujudkan tatanan kehidupan yang berlandaskan Islam kaffah.

Sejarah hijrah Rasulullah saw. memberikan pelajaran berharga bahwa perubahan besar tidak lahir secara instan. Sebelum terwujudnya masyarakat Islam di Madinah, Rasulullah saw. terlebih dahulu melakukan pembinaan akidah, membangun kesadaran umat, mengemban dakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi berbagai ujian dan penentangan, serta menyiapkan unsur-unsur yang diperlukan bagi tegaknya kehidupan Islam. Semua itu menunjukkan bahwa perubahan hakiki membutuhkan perjuangan yang panjang, terarah, dan terorganisasi.

Karena itu, kebangkitan umat tidak cukup diwujudkan hanya dengan keinginan atau semangat sesaat. Kebangkitan umat memerlukan dakwah yang berlandaskan akidah Islam, pemahaman yang benar terhadap syariat, serta perjuangan yang meneladani metode yang ditempuh Rasulullah saw. dalam mengubah masyarakat.

Atas dasar itu, umat Islam dituntut untuk mengambil peran dalam perjuangan Islam, bukan sekadar menjadi penonton atas berbagai persoalan yang menimpa umat. Setiap Muslim perlu terlibat dalam upaya menyadarkan umat, menyebarkan pemahaman Islam yang benar, serta mendukung aktivitas dakwah yang menyeru kepada penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Muharam mengajarkan bahwa hijrah bukan sekadar perubahan pribadi, tetapi juga perjuangan untuk menghadirkan Islam sebagai pedoman hidup secara kaffah. Karena itu, berbagai krisis yang menimpa umat hari ini hendaknya menjadi dorongan untuk semakin mendekat kepada syariat Allah dan mengambil bagian dalam perjuangan Islam.

Semoga Muharam kali ini menjadi momentum bagi kita untuk memperbarui iman, memperkuat komitmen dakwah, dan meneladani semangat perjuangan Rasulullah saw. dalam mewujudkan perubahan yang diridhai Allah Swt.

Mari kita jadikan Muharam ini sebagai titik awal untuk menjadi Muslim yang lebih baik, lebih peduli terhadap urusan umat, dan lebih siap mengambil bagian dalam perjuangan Islam. Sebab kelak yang akan ditanyakan bukan hanya apa yang kita ketahui tentang Islam, tetapi juga apa yang telah kita lakukan untuk Islam.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Oleh: Ade Siti Rohmah 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar