Topswara.com -- Kenaikan harga Pertamax belakangan ini benar-benar bikin napas makin sesak. Bayangkan saja, sekarang kita harus menebus Pertamax di angka Rp16.250 per liter, bahkan untuk varian Pertamax Green harganya sudah menyentuh Rp17.000 per liter.
Pemerintah beralasan kenaikan ini terjadi karena harga minyak dunia sedang naik akibat konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, banyak masyarakat kelas menengah mulai meninggalkan Pertamax dan beralih ke BBM yang lebih murah agar pengeluaran bulanan tidak semakin membengkak (Kompas.com, 11 Juni 2026).
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa daya beli masyarakat memang sedang anjlok parah. Banyak pengguna setia Pertamax yang akhirnya menyerah dan beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran yang semakin mencekik.
Setiap kali harga BBM naik, yang paling dulu merasakan dampaknya pasti rakyat. Sebab BBM bukan sekadar bahan bakar kendaraan.
Hampir semua aktivitas ekonomi bergantung padanya. Ketika harga BBM naik, biaya transportasi ikut naik. Ongkos distribusi barang naik. Ujung-ujungnya harga kebutuhan sehari-hari juga ikut merangkak naik. Yang tadinya sudah pas-pasan, makin harus mengencangkan ikat pinggang.
Yang jadi pertanyaan, kenapa negeri yang kaya sumber daya energi justru sering dihadapkan pada persoalan seperti ini? Indonesia punya cadangan minyak dan gas yang tidak sedikit.
Namun harga BBM dalam negeri tetap sangat dipengaruhi kondisi pasar dunia. Begitu ada konflik atau gejolak di luar negeri, dampaknya langsung terasa sampai ke kantong rakyat. Ini menunjukkan bahwa kedaulatan energi negeri ini masih sangat lemah.
Akar masalahnya ada pada cara memandang energi itu sendiri.
Dalam sistem kapitalisme, BBM dianggap sebagai komoditas ekonomi yang harus mengikuti mekanisme pasar. Akibatnya, ketika harga minyak dunia naik, rakyat juga harus ikut menanggung kenaikannya. Kepentingan bisnis dan keuntungan sering kali lebih dominan dibanding pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Dalam pandangan Islam, BBM bukanlah barang komersial, melainkan hak rakyat yang bersumber dari harta kepemilikan umum. Negara memiliki kewajiban mutlak untuk mengelola sumber daya energi ini secara mandiri dan mengembalikannya kepada rakyat dengan harga yang semurah-murahnya, bukan malah membebani mereka dengan harga pasar.
Melalui mekanisme Baitul Mal dan prinsip kedaulatan energi yang kuat, masalah pemenuhan BBM untuk rakyat harusnya bisa dituntaskan tanpa harus membuat masyarakat tercekik setiap kali harga minyak dunia bergejolak.
Karena itu, tujuan pengelolaan energi dalam Islam bukan mencari untung sebesar-besarnya, tetapi memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi.
Hari ini harga Pertamax naik. Besok mungkin ada kenaikan lain yang harus dihadapi rakyat. Selama energi masih diperlakukan sebagai barang dagangan dan bukan sebagai hak rakyat, persoalan seperti ini akan terus berulang. Yang berubah hanya angkanya, sementara yang menanggung bebannya tetap orang yang sama, rakyat.
Wallahualam Bishawab.
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah

0 Komentar