Topswara.com -- Krisis Manusia Modern
Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemudahan hidup yang belum pernah terjadi sebelumnya, manusia justru mengalami krisis yang semakin mendalam.
Banyak yang kaya tetapi gelisah, terkenal tetapi hampa, berkuasa tetapi tidak bahagia. Mereka memiliki banyak hal, tetapi kehilangan sesuatu yang paling mendasar: hubungan yang benar dengan Allah SWT.
Peradaban modern telah berhasil menjawab banyak pertanyaan tentang "bagaimana hidup", tetapi gagal menjawab pertanyaan yang lebih penting: "untuk apa hidup?"
Islam datang bukan sekadar mengajarkan ritual ibadah, melainkan memberikan jawaban menyeluruh tentang hakikat kehidupan, tujuan penciptaan manusia, dan bagaimana manusia harus mengatur seluruh aktivitasnya agar selaras dengan kehendak Penciptanya.
Karena itu, Islam tidak hanya membangun aspek spiritual, tetapi juga membangun cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak. Islam membentuk manusia yang memiliki hati yang hidup sekaligus pemikiran yang lurus. Inilah yang dapat disebut sebagai perpaduan antara dimensi ideologis dan sufistik dalam Islam.
Hakikat Kerohanian dalam Islam
Sering kali kerohanian dipahami sebagai keadaan emosional yang tenang, pengalaman mistik, atau aktivitas ibadah yang terpisah dari urusan kehidupan. Padahal kerohanian dalam Islam memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Kerohanian adalah kesadaran terus-menerus akan hubungan seorang hamba dengan Allah dalam setiap keadaan.
Ketika seorang muslim memandang langit lalu mengingat kebesaran Allah, itu adalah kerohanian.
Ketika ia menahan diri dari korupsi karena takut kepada Allah, itu adalah kerohanian.
Ketika ia menegakkan keadilan meskipun merugikan dirinya sendiri karena mengharap ridha Allah, itu adalah kerohanian.
Kerohanian bukan pelarian dari realitas kehidupan, melainkan cara memandang seluruh realitas kehidupan melalui cahaya wahyu.
Para ulama menyebut keadaan ini sebagai al-idrak ash-shilah billah, yaitu kesadaran akan hubungan dengan Allah. Kesadaran inilah yang mengubah aktivitas biasa menjadi ibadah dan mengubah kehidupan dunia menjadi jalan menuju akhirat.
Islam Menolak Sekularisasi Kehidupan
Salah satu musibah terbesar yang menimpa umat manusia adalah pemisahan agama dari kehidupan.
Ketika agama hanya ditempatkan di masjid, sementara ekonomi, politik, pendidikan, budaya, dan hukum diserahkan kepada hawa nafsu manusia, maka lahirlah kerusakan yang luas.
Akibatnya manusia memiliki dua wajah: Saat beribadah ia mengingat Allah. Saat bermuamalah ia mengikuti kepentingan dunia.
Islam menolak pemisahan seperti ini.
Allah tidak hanya memerintahkan shalat, tetapi juga mengatur perdagangan.
Allah tidak hanya memerintahkan puasa, tetapi juga mengatur pemerintahan.
Allah tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan-Nya, tetapi juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan sesama manusia.
Karena itu Islam adalah sistem kehidupan yang sempurna dan menyeluruh.
Standar Perbuatan Seorang Muslim
Pertanyaan terbesar yang menentukan arah hidup seseorang adalah:
"Apa standar yang saya gunakan dalam bertindak?" Sebagian orang menjadikan manfaat sebagai standar. Jika menguntungkan, dilakukan. Jika merugikan, ditinggalkan.
Sebagian menjadikan kebebasan sebagai standar. Apa yang diinginkan nafsu dianggap benar. Sebagian menjadikan tradisi dan budaya sebagai ukuran.
Apa yang biasa dilakukan masyarakat dianggap baik. Namun seorang muslim memiliki standar yang berbeda.
Standarnya adalah: Halal dan haram menurut hukum syarak.
Ia tidak bertanya: "Apakah ini menguntungkan?" Tetapi bertanya:
"Apakah Allah meridhainya?" Ia tidak bertanya: "Apakah semua orang melakukannya?" Tetapi bertanya:
"Apakah ini sesuai dengan syariat?"
Inilah kemerdekaan sejati. Manusia tidak lagi menjadi budak hawa nafsu, opini publik, atau tekanan lingkungan, melainkan menjadi hamba Allah semata.
Ketika Hati dan Syariat Berjalan Bersama
Di sinilah letak keindahan Islam.
Tasawuf yang benar tidak pernah bertentangan dengan syariat.
Hati yang paling dekat kepada Allah adalah hati yang paling tunduk kepada hukum Allah.
Sebaliknya, klaim cinta kepada Allah yang tidak melahirkan ketaatan hanyalah ilusi spiritual. Para ulama salaf mengajarkan:
Setiap hakikat yang bertentangan dengan syariat adalah kesesatan. Karena itu, perjalanan menuju Allah harus dibangun di atas dua sayap:
Sayap Pertama: Kecintaan kepada Allah
Hati dipenuhi rasa rindu kepada-Nya.
Seluruh nikmat dipandang sebagai karunia-Nya. Seluruh musibah dipahami sebagai ujian dari-Nya. Seluruh kehidupan diarahkan untuk mencari keridaan-Nya.
Sayap Kedua: Ketaatan kepada Syariat
Cinta kepada Allah dibuktikan dengan kepatuhan. Bukan sekadar zikir di lisan.
Bukan sekadar tangisan dalam munajat.
Tetapi juga kejujuran dalam perdagangan, keadilan dalam kekuasaan, kesucian dalam pergaulan, dan amanah dalam setiap tanggung jawab.
Penyakit Umat: Banyak Ibadah, Sedikit Pengaruh
Salah satu fenomena yang menyedihkan adalah ketika ibadah tidak lagi mengubah perilaku. Masjid penuh, tetapi kejujuran langka.
Kajian ramai, tetapi persaudaraan rapuh.
Bacaan Al-Qur'an merdu, tetapi akhlak masih buruk. Hal ini terjadi ketika ibadah hanya menjadi rutinitas fisik tanpa kesadaran ruhiyah.
Padahal tujuan ibadah adalah membentuk manusia yang tunduk kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupannya.
Shalat yang benar melahirkan ketakwaan.
Puasa yang benar melahirkan pengendalian diri.
Zakat yang benar melahirkan kepedulian sosial. Haji yang benar melahirkan pengorbanan dan persatuan.
Jalan Menuju Kebangkitan Umat
Kebangkitan umat tidak akan lahir hanya dari pembangunan fisik. Tidak pula cukup dengan slogan-slogan emosional. Kebangkitan sejati dimulai ketika lahir generasi yang: Aqidahnya kokoh. Pemikirannya Islam. Perasaannya Islam. Akhlaknya Islam. Perjuangannya Islam. Tujuannya mencari ridha Allah.
Mereka adalah manusia yang hidup di bumi tetapi hatinya terhubung dengan langit. Mereka bekerja, berdagang, belajar, memimpin, dan berjuang, namun seluruh aktivitas itu diikat oleh hukum Allah.
Inilah manusia yang mampu mengubah sejarah.
Renungan: Untuk Siapa Kita Hidup?
Pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Allah. Jabatan akan ditinggalkan. Kekayaan akan diwariskan.
Popularitas akan dilupakan. Yang tersisa hanyalah amal dan keikhlasan.
Maka pertanyaan yang layak kita ajukan setiap hari adalah: Apakah langkahku hari ini mendekatkanku kepada Allah? Apakah pekerjaanku sesuai dengan syariat-Nya Apakah aku hidup untuk diriku atau untuk Tuhanku? Apakah aku mencari ridha manusia atau ridha Allah? Ketika pertanyaan-pertanyaan ini hidup dalam hati, maka lahirlah kesadaran ruhiyah yang akan menerangi seluruh perjalanan hidup.
Penutup
Islam mengajarkan bahwa kerohanian bukanlah mengasingkan diri dari kehidupan, melainkan menghadirkan Allah dalam seluruh kehidupan. Seorang muslim sejati tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga menjadikan hukum syarak sebagai standar dalam seluruh perbuatannya.
Inilah perpaduan agung antara dimensi ideologis dan sufistik Islam: pemikiran yang tunduk kepada wahyu, hati yang selalu terhubung dengan Allah, serta amal yang senantiasa berjalan di atas jalan syariat.
Ketika hati mengenal Allah, akal memahami petunjuk-Nya, dan seluruh tindakan terikat kepada hukum-Nya, maka lahirlah manusia yang merdeka dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.
Ia hidup dengan cahaya iman, berjalan dengan petunjuk wahyu, dan mengarahkan seluruh hidupnya menuju satu tujuan yang paling mulia: "Mencari keridaan Allah SWT dan meraih kebahagiaan abadi di akhirat."
Oleh: Dr Nasrul Syarif M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

0 Komentar