Topswara.com -- Ada luka yang terlihat dari reruntuhan bangunan. Ada luka yang tampak dari tubuh yang terluka. Namun ada juga luka yang tidak terlihat oleh mata, tetapi dampaknya jauh lebih dalam. Luka itu adalah trauma yang merenggut masa kecil anak-anak Gaza.
Hari ini, anak-anak Gaza tidak hanya hidup di tengah kelaparan, pengungsian, dan ancaman serangan.
Mereka juga harus memikul beban psikologis yang sangat berat. Bahkan, sebagian dari mereka kehilangan kemampuan berbicara akibat trauma yang terus mereka alami.
Psikoterapis anak, asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan bahwa hampir setiap anak di Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak disebut menderita trauma berat akibat perang dan kondisi yang mereka hadapi. Sebagian bahkan mengalami gangguan yang membuat mereka tidak lagi mampu berbicara sebagaimana mestinya. (Kompas.com, 30 Mei 2026)
Sulit membayangkan, bagaimana seorang anak bisa tumbuh dengan normal ketika hari-harinya diisi suara ledakan, ketakutan, dan kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Bagi banyak anak di Gaza, rasa aman bukan lagi sesuatu yang mereka rasakan setiap hari, melainkan sesuatu yang perlahan menghilang dari hidup mereka.
Yang dihancurkan di Gaza bukan hanya rumah, sekolah, atau fasilitas umum. Yang ikut dihancurkan adalah masa kecil, harapan, dan masa depan sebuah generasi.
Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan bermain, belajar, dan bercita-cita, justru harus menghadapi kenyataan yang tidak seharusnya mereka alami.
Dan sampai hari ini penderitaan itu masih terus berlangsung. Bantuan kemanusiaan memang datang dari berbagai penjuru dunia, tetapi kenyataannya tragedi di Gaza belum juga berakhir.
Pertanyaannya, mengapa tragedi sebesar ini terus berulang tanpa ada kekuatan yang benar-benar mampu menghentikannya?
Kondisi ini menunjukkan hilangnya kepemimpinan Islam yang dahulu berfungsi sebagai pelindung dan pemersatu umat.
Ketika umat Islam terpecah ke dalam berbagai negara dengan kepentingan politik masing-masing, kemampuan untuk bertindak secara tegas menjadi semakin lemah.
Karena itu, banyak yang berpendapat bahwa penderitaan anak-anak Palestina tidak cukup diselesaikan hanya dengan bantuan kemanusiaan atau terapi trauma. Semua itu penting dan sangat dibutuhkan, tetapi tidak menyentuh akar persoalan selama penjajahan masih berlangsung.
Dalam pandangan Islam, kezaliman dan penjajahan tidak boleh dibiarkan. Rakyat Palestina berhak hidup merdeka di tanah mereka sendiri tanpa ancaman, ketakutan, dan penindasan yang terus-menerus.
Selama akar persoalan belum dicabut, luka yang dirasakan rakyat Gaza akan terus dirasakan. Setiap kali serangan terjadi, dunia kembali menyaksikan tayangan-tayangan yang sama, anak-anak menangis, keluarga kehilangan orang-orang tercinta, dan rumah-rumah yang berubah menjadi puing. Padahal, yang hilang bukan hanya bangunan. Yang sedang dirampas adalah masa depan sebuah generasi.
Tangisan anak-anak Gaza seharusnya tidak berhenti menjadi berita yang lewat begitu saja di layar ponsel. Setiap luka yang mereka rasakan adalah pengingat bahwa penderitaan itu masih berlangsung hingga hari ini.
Karena itu, kesadaran untuk memperjuangkan persatuan umat dan menghadirkan kepemimpinan Islam yang diyakini mampu melindungi kaum Muslim menjadi pembahasan yang terus disuarakan.
Pembebasan Palestina bukan sekadar persoalan wilayah, tetapi juga persoalan kehormatan umat.
Sebab selama umat Islam masih tercerai-berai dan berjalan sendiri-sendiri, Palestina akan terus menjadi luka yang belum sembuh. Dan selama penjajahan masih berdiri, anak-anak Gaza akan terus tumbuh di tengah ketakutan yang seharusnya tidak pernah menjadi bagian dari masa kecil mereka.
Wallahualam bishawab.
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah

0 Komentar