Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dunia Islam Terpecah, Palestina Terus Terjajah


Topswara.com -- Pulang dengan luka, bukan karena perang. Sembilan warga negara indonesia pulang ke tanah air dengan tubuh penuh luka. Bukan karena kecelakaan, bukan karena bencana. Mereka terluka justru karna memilih datang membantu membawa bantuan untuk rakyat Gaza. 

Perlakuan brutal yang dialami para aktivis kemanusiaan dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 kembali membuka mata dunia tentang bagaimana kerasnya wajah penjajahan yang hari ini terjadi di Palestina. 

Para relawan yang datang membawa bantuan kemanusiaan justru mengaku mengalami kekerasan saat ditahan militer Israel. Mulai dari pemukulan, penyetruman, pelecehan seksual, sampai penghinaan verbal. Bahkan ada pengakuan dari para relawan terkait tindakan tidak manusiawi yang mereka alami selama penahanan. Kompas.com, 20 Mei 2026.

Mereka bukan tentara. Bukan pasukan militer. Mereka hanya relawan biasa yang datang dengan niat sederhana, memberikan bantuan kepada warga sipil yang diblokade, didera kelaparan, dan dihujani bom berbulan-bulan lamanya.

Wajar kalau banyak orang marah. Wajar kalau banyak orang menangis. 
Ketika hukum tak punya taring, yang menyakitkan bukan hanya kekerasan itu sendiri tetapi betapa Israel tampak begitu nyaman melakukannya, seolah tahu bahwa tidak akan ada konsekuensi serius yang menanti. 

Tuduhan pelanggaran HAM sudah berkali-kali dilayangkan. Tetapi hukuman nyata hampir tidak pernah ada. Dunia internasional yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan sering terlihat tegas menghadapi negara-negara kecil yang lemah, tetapi mendadak bungkam saat berhadapan dengan negara yang punya sekutu kuat. 

Selama perlindungan politik itu masih ada, selama kepentingan negara-negara besar masih ikut bermain, aturan internasional seperti kehilangan taringnya. Dan pelanggaran demi pelanggaran akan terus terjadi. 

Tamparan untuk dunia Islam, tragedi ini juga menjadi cermin pahit bagi negeri-negeri Muslim. Ketika anak-anak Gaza tewas, ketika relawan kemanusiaan dipukuli, ketika warga sipil tak berdosa hidup dibawah kepungan, respon yang muncul sering kali hanya sebatas kecaman dan pernyataan diplomatik yang tidak mengubah apapun. 

Kasus Global Sumud Flotilla ini juga memperlihatkan bahwa persoalan Palestina bukan sekedar krisis kemanusiaan biasa, ini adalah persoalan penjajahan yang sudah berlangsung puluhan tahun. 

Karena itu, banyak umat merasa bahwa solusi yang dibutuhkan bukan cuma bantuan makanan atau obat-obatan, tetapi juga keberanian politik dan persatuan nyata untuk menghentikan penjajahan. 

Dalam Islam, warga sipil dan relawan kemanusiaan yang tidak ikut berperang memiliki kehormatan yang wajib dijaga. Karena itu, tindakan brutal terhadap para aktivis kemanusiaan menunjukkan betapa jauhnya perilaku penjajah dari nilai kemanusiaan maupun aturan perang yang adil. 

Banyak umat Islam meyakini bahwa penjajahan Palestina tidak akan selesai hanya dengan diplomasi, tetapi membutuhkan kekuatan nyata untuk melindungi tanah dan rakyat Palestina dari agresi yang terus berlangsung. 

Yang paling menyedihkan, para aktivis yang datang membawa misi kemanusiaan justru harus pulang dengan trauma dan luka. Mereka ingin membantu rakyat yang kelaparan, tetapi malah diperlakukan dengan kekerasan. 

Dari sini dunia seharusnya sadar, kalau relawan kemanusiaan saja bisa diperlakukan seperti itu, maka bisa dibayangkan bagaimana beratnya penderitaan warga Gaza yang setiap hari hidup dibawah penjajahan dan serangan militer, dibawah blokade, dibawah ketakutan yang tidak pernah berhenti.  
Dan dunia masih terus berunding, masih terus mengeluarkan kecaman yang tidak mengubah apa pun. 

Bagi umat Islam, jihad dipahami sebagai perjuangan untuk membela tanah yang dijajah dan melindungi rakyat yang tertindas. Maka perjuangan membebaskan Palestina dianggap bukan sekadar urusan politik, tetapi juga bagian dari kewajiban menjaga kehormatan dan hak kaum Muslim. 

Sebab yang dirampas bukan hanya wilayah, tetapi juga kehidupan dan masa depan rakyat Palestina. Itulah kenapa banyak yang menilai bantuan kemanusiaan penting, tetapi itu saja tidak akan menghentikan penjajahan kalau tidak ada kekuatan yang benar-benar membela Palestina. 

Selama dunia Islam terpecah dan berjalan sendiri-sendiri, Palestina akan terus menjadi korban permainan politik global. Karena itu, hanya dengan kembali tegaknya kepemimpinan Islam yang mampu menyatukan umat, bukan hanya untuk Palestina, tetapi untuk menjaga negeri-negeri Muslim lain dari penindasan dan campur tangan asing.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar