Topswara.com -- Melambungnya harga kedelai impor yang bervariasi di pasaran seluruh Indonesia mulai berdampak signifikan terhadap sektor industri rumah tangga pembuatan tahu dan tempe yang berimbas pada melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi ini mulai dirasakan oleh para pedagang dan perajin tempe atau tahu pun mengaku keuntungan yang diperoleh sangat sedikit dan biaya produksi semakin meningkat (Kompas.tv, 19/05/2026).
Imbas dari kenaikan harga kedelai adalah pengrajin tempe atau tahu terpaksa mensiasati dengan mengurangi takaran campuran, ukuran volume kapasitas produksi menjadi kecil dan mengganti merk kedelai lantaran menekan biaya produksi.
Juga tak sedikit dari mereka tutup produksi lantaran sudah tak sanggup lagi membeli kedelai impor. Para perajin ini berharap adanya stabilisasi harga agar usaha kecil tetap bisa bertahan di tengah kenaikan biaya bahan baku (jtvbojonegoro.com, 25/05/2026).
Stabilisasi harga sangat diperlukan bagi masyarakat karena akan berpengaruh langsung pada daya beli, transaksi dan kebutuhan yang ada di masyarakat. Apabila kebutuhan masyarakat meningkat, maka pengeluaran yang harus dikeluarkan juga semakin besar sehingga beban ekonomi yang ditanggung menjadi lebih berat.
Sebaliknya, apabila kebutuhan masyarakat sedikit, pengeluaran yang diperlukan lebih kecil sehingga beban ekonomi menjadi lebih ringan. Masyarakat cenderung lebih aktif membelanjakan hartanya ketika harga barang dan jasa berada pada tingkat yang terjangkau.
Sedangkan dengan adanya pelemahan nilai mata rupiah membuat semua bahan produksi menjadi naik sehingga berakibat pada lemahnya daya beli. Namun di sistem kapitalisme, penjagaan stabilitas harga dan pengendalian inflasi, pemerintah melalui bank sentral dapat menerapkan kebijakan moneter berupa pengaturan suku bunga.
Dengan suku bunga yang tepat, nilai tukar rupiah dapat lebih stabil sehingga biaya impor bahan baku bagi para perajin dapat ditekan dan kegiatan produksi tetap berjalan dengan baik.
Jika dianalisa dengan baik, akankah pengontrolan suku bunga pada stabilitas harga berubah ke arah lebih baik? Mengingat sejak awal melemahnya mata uang Indonesia terhadap GDP Indonesia tidak dikontrol oleh ekspor dibandingkan dengan banyaknya impor.
Maka sektor produksi dalam negeri pun akan berkurang karena ketergantungan impor yang membuat perputaran ekonomi di dalam negeri akan terhambat dan mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dalam ekonomi negara sehingga menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat.
Oleh karena itu, untuk pengoptimalan dalam meningkatkan mata uang untuk keberlangsungan usaha rakyat supaya sejahtera maka perlu untuk diselesaikan dengan melihat sejarah Islam yang mana mata uang yang diterapkan menggunakan dinar dirham dimana nilainya stabil.
Kemudian, jika terjadi pelemahan mata uang maka akan dicari sebab-sebabnya, seperti : pertama, natural inflation, diakibatkan sebab alamiah seperti turunnya penawaran agregatif atau naiknya permintaan agregatif, peristiwa ini terjadi saat sebelum perang Hunain yang mana kondisi tersebut mengalami defisit;
Kedua, human error inflation, disebabkan kesalahan manusia seperti korupsi, administrasi pemerintah yang buruk, dan adanya pajak berlebih; peristiwa ini terjadi saat sekarang memberikan dampak pada UMKM dalam berwirausaha untuk mencukupi kebutuhan hidup dan karyawan nya sehingga dengan adanya inflasi dapat merusak nilai uang yang kemudian menyebabkan kenaikan harga dan merugikan orang sehingga terjadi kerusakan-kerusakan yang tidak diinginkan.
Di dalam sejarah Islam yang diterapkan oleh negara islam dengan syariat secara kaffah melakukan muamalah dalam masyarakat menggunakan dinar dirham dan mengoptimalkan dalam bidang perkebunan dengan produksi kedelai mandiri sehingga tidak bergantung pada impor.
Produksi dalam negeri pun diberdayakan sehingga bisa eksport ke luar negeri sehingga mata uang stabil, masyarakat sejahtera, juga kebutuhan pokok perindividu terpenuhi dan melindungi para perajin atau yang punya usaha kecil dari tekanan ekonomi.
Terbukti bahwa berapa serius nya negara Islam yang menerapkan syariat secara kaffah dalam memberikan kesejahteraan masyarakat dan tidak menyulitkan mereka, karena pemimpinnya memiliki kesadaran betapa pentingnya meriayah umat dan ada rasa takut tentang pertanggungjawaban nanti diakhirat saat bertemu dengan Allah SWT, sebagaimana dalam hadis:
"Seorang pemimpin (kepala negara) yang memimpin manusia adalah pengurus (ri'ayah) rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka." (HR. Bukhari dan Muslim).
Wallahu a'lam bishawab.
Oleh: Ainnur
Aktivis Muslimah

0 Komentar